
"Huaahhhmm" seorang cowo mengusap pelan pipinya dan menoleh kekiri dan kekanan.
"Lama banget waktu istirahat nya" gumamnya kecil lalu kembali merebahkan kepalanya diatas meja.
"Udah jam pulang" ujar seseorang membuat kepala itu kembali mendongak, dan menoleh ke belakang.
"LO!"
"Udah jam pulang, gamau ikut, yaudah" cowok yang sedari tadi bangkit sembari menyelipkan tas nya di lengan kanannya.
"Sial" Meta langsung berangsur mengejar Bright, si cowok asing yang katanya SKSD.
"Lo tidur apa simulasi mati, hah?" Bright dengan nada angkuhnya.
Meta masih celingukan dan menatap segala penjuru sekolah yang memang sudah sepi, langit sudah mulai menelan matahari ke arah barat.
Tak ingin menanggapi pertanyaan Bright yang membuatnya sedikit jengkel, dia malah memainkan handphonenya.
Lebih tepatnya men-spam ruang chat bersama Eja, kenapa teman siialan itu meninggalkan nya, setelah berjanji pulang bersama.
Kaki Bright terhenti karena melihat pintu gerbang sudah dikunci rapat, matanya menelisik, menemukan sosok Meta yang tengah menggerutu bersama handphone nya.
"Gerbang kekunci" Bright membuka suara membuat Meta menaruh kasar handphone nya di saku.
"Manjat tembok lah anjink!" Meta berkata Bringas dan berjalan mendahului Bright.
"Hah?"
"Anak organisasi kayak lo, mana bisa panjat tembok, tcih" Rupanya manusia kelinci satu ini tengah merendahkan harga diri seorang Bright Danendra.
"Kata siapa? jangan sok tau" Bright melempar tasnya keatas gerbang hingga sudah mendarat tepat di sebrang sana.
Gerbang tak terlalu tinggi itu.
Matanya menoleh ke arah tembok dan langsung memanjat tembok itu dengan mulusnya ia sudah sampai dipuncak.
Lalu ia mendaratkan tubuhnya ke bawah. Sangat mulus bagi seorang anak organisasi seperti Bright.
"Gue bisa kan? jangan sok tau makanya"
"Gitu doang bangga"
Meta kemudian berlari dari jarak yang cukup jauh dan langsung meloncati tembok begitu saja, ia tak mau setara dengan Bright. Harus lebih.
Diluar sangkanya, tubuhnya kehilangan keseimbangan, sehingga kakinya tidak kuat untuk mendarat secara spontan.
Melihat Meta tidak bisa mendarat sempurna, Bright menangkapnya dari bawah. Meta yang kaget, hampir saja.
__ADS_1
"Anjink lepasin gue!" Bright dengan tampang watados segera menarik tangannya sehingga Meta langsung terperosok jatuh ke tanah.
Suara tubrukan antara tubuhnya dan beton cukup membuat Bright meringis dalam tawanya.
"Siaalan lo!" ujarnya sambil mengacungkan jadi tengahnya.
Metawin bangun tertatih bangkit dengan tenaganya sendiri, sedangkan Bright melipat kedua tangannya di dada, sebelum mengambil tas nya yang tergeletak.
"Pulang sana" Bright mengusir cowok manis itu, bukan manis. Asam, wajahnya begitu asam saat ini.
"Lo kira gue bakal nebeng di lo? jangan mimpi"
"Gue gak ngajak" Meta berjalan dari gerbang, begitu juga Bright yang berjalan kearah parkiran.
Meta mengambil handphonenya di saku, hendak menelpon Eja, atau mungkin kakaknya.
"Bangst!" umpatnya ketika mendapati handphonenya retak.
Parahnya sudah mati total.
"Hape apasih jatuh dikit doang hancur" gerutunya. Metawin malah membanting handphone nya ke bawah dengan amarah.
"Kok gue liat hape hancur kayak ayam geprek ya, kayaknya enak" Engga engga, Metawin gak bakal makan hapenya sendiri. Gila.
Dia duduk di sisi jalan sembari menggenggam handphone nya bak sedang bersiap menyantap ayam.
SIAL!
Dia menarik handphone Metawin dengan sigap, hingga berpindah pada tangannya.
Metawin yang bersila itu langsung terperanjat kaget, dan mendongak menatap Bright yang membungkuk sembari membawa handphone miliknya.
"Apa?" Meta menjawab tanpa ekspresi.
"Lo gila apa!" Bright memarahinya begitu saja, membuat Metawin bingung.
"Lo kali yang gila"
"Yaudah terserah lo, ikut gue"
"Males"
"Yaudah gue tinggal"
"Tunggu"
"Apa lagi? lo kan gak mau ikut"
__ADS_1
"Mau, tapi beli ayam geprek dulu—"
Manis.
"Tapi dompet gue ketinggalan di kolong meja, lo yang bayarin" lanjutnya membuat Bright memutar bola matanya.
"Iya, buruan naik" Metawin bangkit dan dnegan sedikit terpaksa menaiki mobil Bright.
Keduanya diam ketika mobil itu melaju meninggalkan sekolah. Metawin malas berbicara karena perutnya benar benar lapar.
Bright juga enggan, matanya menelisik jalanan untuk mencari restoran yang menjual ayam geprek.
"Bright.."
Bright kaget ketika mendengar panggilan dari orang disebelahnya, cukup halus, sangat berbeda dari biasanya.
"Apa?"
"Ayam geprek yang di samping taman enak tau, gak mahal juga"
Tetap manis, imut. Ah bisa gila beneran!.
"Mau beli disitu?"
"Iya, kalo lo mau"
Bright malah mengusap pucuk kepala Metawin, membuat suasana canggung ketika tangan tersebut ditarik kembali.
"Modus lo!"
"Sok tau"
"Btw lo tadi nungguin gue?"
"Gue jaga piket"
"Oh"
"Tulisan disamping lo"
"Hah?"
"Jangan bangunin gue"
"Sial"
Hai balik lagi sama gue, sorry kalau kalian nunggu.
__ADS_1
Btw seneng tadi liat igs nya BW.
Jangan lupa tekan like. Komen juga gapapa.