
Cape? mungkin bertanya tanya gue kemana akhir akhir ini, tapi biarkan satu paragraf ini ngasih gue mood yang bagus malam ini. Hehe tumbengue bisa ngemdaliin emosi.
I'm fine guys.
Sebenernya ini udah dibuat 3 maret, tapi baru dilanjut sekarang hehe.
...----------------...
"Citra" Metawin memanggil gadis itu dengan penuh ketulusan, setangkai mawar merah terselip dalam genggamannya.
"Ta—"
"Udah sebulanan kita deket lagi dan aku sadar rasa aku masih sama. Aku pengen hubungan kita lebih jauh. Citra, mau jadi pacar aku?" Metawin menyerahkan mawarnya.
"Ta, sorry. Tapi jawaban gue masih sama, we just friend, no more."
"Kenapa?"
"Ta"
"Kenapa, Cit? gue rasa kita cocok kok"
"Tapi gue gak ngerasa cocok" Metawin menggeleng pelan.
Sakit.
"Ta, kadang ga semua yang lo suka itu bakal ada di garis takdir, dan itu lo dan gue"
"Cit, tapi kita bisa coba" Metawin menarik tangan Citra
"Tapi hubungan itu bukan pasal coba coba. Gue harap lo ketemu sama orang yang tepat, orang yang juga sayang sama lo"
Citra menepuk pundak Metawin dan tangannya sudah diluar genggaman Metawin. Gadis itu berangsur pergi meninggalkan Metawin.
__ADS_1
Persis seperti dulu.
"Tapi aku sayangnya sama kamu Cit" bagaimana seorang berandal satu ini tiba tiba luruh ke lantai hanya karna seorang perempuan, bahkan ia melupakan motto hidupnya.
Seperti lagu Tulus, begitulah kisah cinta Metawin saat ini. Berharap menjadi asam dan basa yang bertemu di belanga. Namun hanya angan, tetap angan.
"Win, gue cemburu" seseorang berjongkok dihadapan Metawin membuat Metawin mendongak menyisakan isakan kecil.
"...."
"Gue cemburu win, gue cemburu" Cowok bernama Bright Danendra itu mengulang katanya.
"Gue udah ditolak, puas kan lo?"
Metawin kembali frustasi, seperti layang layang yang sudah di terbangkan angin kemudian dijatuhkan begitu saja.
Sakit.
"LO PAKE PELET APA SI KE CITRA?" Metawin bertanya lantang dengan emosi.
Siaalan.
"Sekarang udah puas belum lo?" Metawin menggerutu mencoba sedikit lebih tenang.
"lo tau gak? lo itu gak cinta sama Citra"
"Jangan sok tau babii!" Metawin masih duduk disana, Bright mengambil posisi disebelahnya.
"Gue pernah denger satu pertanyaan, kalo lo suka sama hewan, lo bakal apain?"
"JANGAN SOK KENAL SAMA GUE" Metawin bangkit, seolah masalahnya tadi telah usai. Tak peduli dengan tebak tebakan yang diberi Bright. Dia tak peduli.
Lebih tepatnya, Bright tak perlu tau lebih dalam lagi, toh untuk apa? agar Bright punya bahan bullyan?
__ADS_1
"Win, kasih gue waktu"
"Tcih, lo mau tau gebetan gue selanjutnya? nanti kalo udah dapet, gue info in deh lo" Metawin bangkit dengan nada angkuhnya.
Dia muak.
Muak dengan penolakan Citra, muak dengan Bright Danendra.
Bright menarik lengan Metawin cukup kencang membuat tubuh si empu kembali luruh ke bawah tepat disampingnya. Dikuncinya tangan Metawin agar tak bisa pergi.
"Win sadar, Citra gak suka sama lo"
"......"
"Dan lo cuma terobsesi milikin dia, lo gak cinta sama dia"
"..."
"Terus apa? lo mau bilang kalo Cintanya Citra cuma buat lo doang?" Metawin tersenyum kecut hanya dengan membayangkan hal tersebut.
"Citra emang gak suka sama lo, yang suka sama lo itu gue. Gue, Win"
Bright menggenggam jemari Metawin membuat si empu menggeleng lalu melepas kaitan tangannya.
"Anj" Metawin hanya dapat mengumpat kaget.
"Gue serius, gue suka sama lo"
"Basi anjing" Metawin bangkit lalu pergi dari sana.
Menyisakan Bright yang mematung dengan perasaan sedikit lega, karena hal yang sudah dipendamnya sekarang telah diungkapkan.
Dalam catatan, belum mendapatkan feedback.
__ADS_1
"Win, gue bakal berusaha, sampe lo jadi milik gue" gumam Bright seraya mencium bau jemarinya, masih tertinggal bau tangan Metawin disana.
Bagaimana bisa Bright punya perasaan kepada Metawin? bukannya ini gila?.