
Pagi ini Metawin turun ke lantai bawah dengan penampilan seperti biasa, baju yang tak rapi dan sebuah handphone yang ia mainkan disela melirik anak tangga.
"Pagi" dia mengambil tempat di samping sang kakak, dengan mata yang terus melirik ke arah ponsel berwarna abu itu.
"Liatin apa si, dek?" Mintra merebut paksa ponsel adiknya.
"...."
"Wahh, gue harus ikut sih ini"
"Inget umur, evennya buat anak remaja doang, tua renta kayak lo gak diterima" Metawin merebut ponselnya balik setelah me-roasting sang kakak.
Yap, tadi ia baru saja diajak ke sebuah bar besar yang sangat terkenal. Tak mungkin Metawin melewatkannya, dia berencana pergi malam ini.
Dengan sumringah, ia menaruh handphonenya memikirkan acara malam ini yang mungkin akan sangat seru, sebab dia mendengar kabar bahwa bar itu cukup bagus, sekaligus akan mendapat traktiran.
"Lo?" Metawin langsung menangkap wajah datar yang sedari tadi memang menatapnya lekat.
"Apa?"
"Ma, kok ada dia?" Metawin menunjuk tepat di muka Bright Danendra.
"Dia mau jemput ade, ya mama ajak masuk"
"Kok gitu si, Ma" gerutunya.
"Gapapa kali de" Sang papa langsung membuat Metawin bungkam.
"Yaudah, ade berangkat sekarang" Metawin mengambil sehelai roti dan mengoleskan selai coklat kemudian melipatnya.
Kakinya bergerak menjauhi meja makan, begitupula dengan Bright yang mengikutinya dari belakang setelah berpamitan dengan orang orang disana.
"Ikut gue" Bright memimpin Metawin menuju mobilnya.
[Jiakhhh, pak Bright sang pemimpin, kalo jadi pemimpin rumah tangga sabi kali]
"Ogah"
"Win"
"Gak"
"Kalo gak, yaudah" Bright masuk dengan tampang frustasinya.
Truing
Sebuah notifikasi terdengar dari ponsel Metawin.
MintraOld
[De, Bright nunggu lo dari jam enam, kasihan.]
Metawin memandang ke arah pintu utama, tampak Mintra berdiri disana berteman dengan ponsel yang dipakainya untuk menghubungi Metawin.
Ck!.
Metawin membuang gengsinya dan membuka pintu samping kemudi mobil Bright. Si pemilik mobil cukup kaget dengan kehadirannya.
"Buruan"
Bright benar benar melajukan mobilnya sebelum Metawin berubah pikiran. Suasana hening ketika Metawin mulai memainkan handphonenya.
Bright juga bingung harus berkata apa.
"Win, tentang gebetan lo—"
"ANJ, bisa gak si jangan ngerusak mood gue pagi pagi gini" Metawin melempar handphonenya ke depannya. Handphone itu bertengger nyaman disana.
Bright diam, dia tau bahwa Metawin agak, bukan.... dia tau Metawin sangat emosian. Dia memilih diam menunggu Metawin membenahi mood nya.
Tam terasa sekolah sudah didepan mata, tak seperti cinta Metawin.
"Pake baju tuh yang rapi" Bright mengulurkan tangannya membenarkan kerah kemeja Metawin.
__ADS_1
Metawin diam sejenak, lalu ia tersadar dan menepis tangan Bright.
"Jangan sok ngatur"
Metawin turun kemudian setengah berlari untuk menetralkan detak jantungnya, yang sedari tadi tak sesuai tempo biasanya.
[Tunggu, kenapa dia sepertinya sedang deg-degan?]
"Anjing babiii" umpatnya dengan kaki menedang salah satu mobil di parkiran tersebut, membuat mobil itu berbunyi nyaring.
"Tittt tittt titttt"
"Sial"
Metawin langsung berlari, sangat kencang, setelah ia tahu bahwa itu mobil milik salah satu guru.
Sial sekali nasibnya, padahal ini masih diawal hari.
"Napa, Ta?" ternyata temannya sudah duduk .anis membuat Meta langsung duduk disampingnya.
"Mobilnya pak Tegar, ketendang tadi"
"Anjib, kok bisa?"
"Kesel gue, pagi pagi banyak bat ujian Tuhan"
"Bisa bisanya lo ya, gila sih kalo sampe ketahuan"
Metawin hanya mengendikkan bahunya acuh sebagai balasan dari ancaman Eja.
"Ta, ntar malem jadi ke Merger?" Merger adalah sebutan dari bar yang mau Meta kunjungi nanti malam.
"Lo gabung?"
"Kayaknya ga dulu"
"Gak asik lo"
"Ga bakal mabuk"
"Alah, basi bangssat!" Eja kesal sebab setiap akan pergi ke Bar, temannya ini selalu mengulang kesalahan yang sama.
Merepotkan.
"Ja, menurut lo nih, kalo musuh lo malah suka sama lo terus dia confess, lo apain?"
"Bogem enak kali ya" Eja ngelantur
"Serius, Sat!"
"Ya, ga gue apa apain lah" -Eja
"Kalo lo dipepet terus?" -Meta
"Ya, kalo cantik ya gas aja" -Eja
"Kalo cowok?" -Meta
"Lo apaan dah, pagi pagi nanya begini" Eja memberhentikan sesi tanya jawab itu.
"Iseng"
"Lo mau jadi humu?"
"Tai lo"
"Sama Bright?"
"Anjing"
"Gila Ta, gue gak nyangka bangst"
"Ga guna bat gue nyari solusi di lo" Meta bangkit namun langkahnya terhenti sebab bel berbunyi diikuti seorang guru masuk kedalam kelas.
__ADS_1
..._____________________________...
"Hape gue mana?" Eja mengangkat pandangannya kearah sahabatnya itu yang baru bangun setelah tidur pada jam pelajaran.
"Tau" acuh Eja
"Mana ya?"
"Ketinggalan dirumah kali"
"Gak mungkin, pas keluar dari rumah gue pegang hape terus"
"Di kolong meja?"
Meta langsung menunduk meraba kolong mejanya, namun tangannya tam menemukan benda pipih itu.
"Ah anjing"
"Di kantin kali"
"Gue aja dari pagi gak keluar kelas"
"Di tas?"
"Gak bawa"
"Ah tau lah, di mobil kali—"
"Oh iya gue lupa, lo kan gak bisa naik mobil" lanjut Eja seolah mengejek.
Plakkk
"Nyeri sat" gumamnya setelah mendapat tamparan di lengannya.
"Jangan jangan ketinggalan di mobil si bangst lagi"
"Siapa? Bright?" Eja tau, julukan itu hanya menunjuk pada satu orang, tapi ia cukup ragu. Bagaimana bisa?
"Em" Metawin bergegas sebelum 'manusia sialaan' itu pulang.
"TA, LO BERANGKAT BARENG SI BRIGHT?" teriak Eja namun Metawin keburu pergi.
..._____________________________...
"Hape gue mana?"
"Mau ke merger?" bukannya langsung menjawab pertanyaan Meta, Bright malah bertanya balik.
"Lo cek hape gue?"
"Mau ke Merger?"
"Iya, apa? gak suka?"
"Gak"
"Ilih, sok ngatur lo anjing"
"Win, serius mau ke Merger?"
"Balikin hape guru, buru!" Bright malah mencekal pergelangan tangan Metawin.
"Jangan ke Merger, gue balikin hape lo"
"Siapa lo ngatur gue?"
"Win, ngapain ke Merger?"
"Mau cuci piring" Metawin menjawab asal, lalu ia masuk ke dalam mobil ketika masih melihat handphonenya ada disana.
Gerakannya begitu cepat, membuat Bright tak bisa menahan pergerakan Metawin.
"Jangan sok ngatur" Metawin menepuk pundak Bright dengan tampang songongnya, lalu ia berangsur pergi.
__ADS_1