
"Iya ade kemaren cuma jatuh, jangan dibahas lagi Maaa"
"Mama mu emang begitu, de"
"Mamaku aja ya kak? cie anak pungutz" Metawin dengan mulutnya yang minim akhlak membuat kakaknya langsung menatapnya tajam.
"Yaudah, ade berangkat dulu ya Ma, Pa" Metawin langsung menarik tas nya yang super ringan dari atas jursi
"Bye bye anak pungutz" ujarnya membuat sang kakak geram dan langsung mengejarnya hingga sampai pintu
Tepat saat Metawin akan membuka pintu rumahnya, penampakan tiba tiba muncul membuat keduanya kaget.
"Permisi" setan yang tanpa diundang itupun menatap kakak beradik yang saling menatap malas satu sama lain.
"Siapa?" Mintra menatap pria itu lebih tajam dari pada tatapan kepada adiknya.
"Bright"
"Gak sopan banget sih, temen lo dek? pantesan sama" Mintra memutar bola matanya begitupun Metawin
"Idih, gue juga gak kenal"
Kakak beradik itu melipat tangannya didepan dada membuat pria bernama Bright itu menjadi bingung sendiri.
"Ini gue mau balikin baju lo yang kemaren"
Iya kemaren, waktu bajunya Bright kesiram sama Metawin sampai basah. Terpaksa Metawin meminjamkan bajunya, berkat paksaan sang mama juga.
"Dih, buang aja"
"Ade, kakak... siapa yang dateng kok ngobrolnya diluar?" mama berjalan menghampiri kedua anaknya
"..."
"Oh Bright, sini masuk"
"Iya tan, kapan kapan aja kalo kesini"
"PLEASE DEH, JANGAN SOK AKRAB, KITA GAK KENAL" cibir Meta begitu keras, namun tak ada yang menghiraukan.
"Sekarang mau berangkat sekolah?"
"Iya tan, keburu telat kalo saya mampir dulu"
"Kalo gitu, ade ikut Bright aja"
__ADS_1
"Paan si Ma" Metawin kesal
Plak
Sebuah tepukan keras di kepalanya membuat Metawin mengaduh, itu ulah sang kakak.
"Jangan gitu ngomong sama orang tua"
"Dih sewot"
"Yaudah Tan, kalo mau ikut saya gapapa, biar sekalian"
"Tuh udah dikasih ijin sama Bright, gih sana buruan" sang mama mendorong tubuh Metawin agar segera keluar dari pintu.
"Gamau Ma, maunya sama anak pungut aja" Meta langsung memeluk lengan kakaknya.
"Najis, sana sama temen lo, gue dijemput pacar"
"Kalo gitu Ade bawa mobil sendiri aja" Metawin langsung melipat lengan kemejanya
"Bawa aja sana, biar nabrak pohon lagi, terus mati haha" bukan hanya adiknya, ternyata sang kakak juga minim akhlak
"Bisa gak sih jangan diungkit terus" Meta sewot lalu mencibir pelan
"Kalo lo ikut temen lo, uang jajan gue tambahin seratus ribu" kata Mintra
Metawin berfikir sejenak.
"Kenapa kalian gak takut Ade berangkat sekolah sama stranger gini?" Meta membantah lagi
"Loh, dia itu temen deketnya Ade" Mamanya berkata tanpa beban sedikitpun
Meta langsung menatap Bright yang masih diam tanpa ekspresi didepannya, agak seram tapi najis.
"Yaudah, mana duitnya?" dia langsung menengadah tangan didepan Mintra
"Jadi anak beban amat" cibir Mintra
"Biarin" Metawin menerima uang itu lalu memasukkannya dalam saku, lumayan buat beli sesuatu.
Sesuatu apatuch?
"Buruan anjir" Desakan Meta membuat Bright segera berpamitan.
.
__ADS_1
.
"Met, Met"
"Nama gue Meta, Metawin...bukan Memet"
"Bukannya Meta anjink?"
"Siialan lo"
"Met"
"Diem anjink"
"Memet"
"Asyu"
"Memet anjink haha" Bright mengendarai mobil sambil mengejek nama pria disampingnya, sebenarnya mereka musuh apa bukan sih?
"Gini deh, panggil gue Win, puas?"
"Bagusan Memet"
"Anjink" umpatan Meta mengakhiri percakapan gak jelas mereka berdua.
"Ntar turunin gue di perempatan"
"Lo mau mangkal?"
"Asu banget lo, turunin sana cepetan"
"Em"
Meta segera turun dari mobil tepat diperempatan yang ia maksud.
"Win, baju lo"
"Buang aja, gak sudi pakek bekas lo"
"Sombong"
"Tcih"
Masih ada yang baca? serius nanya, kalo engga pengennya dihapus:(
__ADS_1
Gamau capek nulis lagi, soalnya udah sering.