
Sepasang mata tampak melirik tak suka, seolah ia siap menelan lelaki di sudut sana, sementara yang dihadapan gadis itu justru diam membatu.
Beda cerita dengan bocah imut di hadapannya. "wi be Gin mom?" pandangannya tampak berbinar, seolah baru saja mendapat jackpot besar, ya! ucapan itu keluar dari mulut bocah imut itu, putra dari Akira dan Rail, pasangan laknat yang telah dengan bangganya menitipkan putranya pada sang kakak tanpa ada rasa bersalah.
Lihatlah, pasangan sial itu bahkan belum datang menjemput putranya ini, dan disinilah Ryuu terjebak, mendapat lamaran tak langsung dari seorang bohcah SMA, dan itu semua... karna ulah bocah di hadapannya ini.
Dengan cepat Ryuu mengangkat Gin, menempatkannya untuk duduk di pahanya dan mengusap lembut puncak kepala bocah itu. "Gin, apa yang Gin katakan, kakak itu harus belajar agar tumbuh pintar dan kuat, Gin juga harus begitu, jadi tidak boleh," Ryuu melambaikan jemarinya, sebagai tanda ketidak setujuannya.
Sejujurnya ia sedikit tak paham dengan bahasa anak itu, entah apa yang di bahas kedua manusia tak jelas dihadapannya ini, yang pasti! disaat Ryuu mendengar ucapan kata 'mom dan wi' keluar dari mulut Ryuu, maka firasatnya berkata, bahwa itu adalah pertanda buruk.
"Tidak apa pak, saya tak keberatan menjadi ibu dari anak bapak, benarkan Gin?" gadis itu berucap santai dengan senyum miringnya, memberi kebahagiaan pada sang bocah balita. Dan kali ini, Ryuu paham akan pembahasan dari kedua bocah itu, no! no! no! jangan sampai bocah sampah ini meracuni otak keponakannya, meski Gin belum mengerti apa yang di ucapkannya, tetap saja itu tak boeh terjadi, big no!.
__ADS_1
jika keponakannya itu merengek meminta mainan satu toko, maka Ryuu siap menghabiskan uang untuk itu, tapi jika istri? dan wanitanya adalah gadis kecil dihadapannya ini, maka dengan senang hati ia akan main ayunan di leher dan menutup kisah dari Ryuu si lelaki dingin.
"A- apa yang kau katakan pada putraku? berhenti ber omong kosong dan kerjakan tugasmu, jangan meracuni otak putraku!" sarkisnya membuat semua guru itu kembali geleng geleng kepala, seolah mereka baru saja menonton sebuah drama romanca.
"Baiklah pak, saya permisi dulu, bye my little prince, tunggu aku menjadi ibumu," celetuknya yang bisa di dengar Ryuu, hanya Ryuu,,, karna ucapan itu hanya menjadi bisikan sempurna di telinga lelaki itu, saat Vania mengusap puncak kepala Gin yang berada di pangkuan Ryuu.
Gadis itu melenggang pergi dengan senyum miring, senang rasanya mengerjai gurunya dengan nama belakang Zander itu. "Guru baru, ingin menantangku? cih,,, mimpi saja!" gumamnya berjalan kembali ke kelas, seraya melonggarkan dasinya yang seolah mencekat lehernya.
__ADS_1
"hanya mencoba untuk menemukan lelaki yang lebih layak untuk di sebut jantan," sindirnya membuat sang lelaki terdiam kesal, beberapa diantaranya ikut tertawa, jelas saja. mereka adalah kaki tangan sang ketua osis.
Soal cari muka dengan keramahan dan senyum manis? jangan tanya, Vania paling pintar, tapi jangan coba coba menantangnya dijalanan, jika tak ingin lehermu patah.
"Cih, kau mempertanyakan kejantananku? kita bisa mencobanya," penawaran itu tak membuat Vania kalah, gadis itu justru tersenyum simpul, ia tau cara menghadapai lelaki seperti ini.
"Ya, aku tau kamu jantan, jika bicara tentang kelam*n murahan mu itu, bahkan entah sudah berapa wanita yang mencicipinya, namun pukulan?" gadis itu mengepalkan tangannya, mengarahkannya pada Calvin, memaksa lelaki itu untuk mengingat masa lalu pahit saat dirinya mendapat satu bogeman mentah yang mengoyak ujung bibirnya.
"Kurasa kita bisa mencobanya lagi," senyuman itu bak penawaran malaikat maut, memaksanya harus mundur dan membuat teman teman Vania kembali tertawa.
Satu yang tak mereka ketahui, semua aksi itu, tak luput dari perhatian sang guru baru.
__ADS_1