
"Apa apaan ini Ryui!!." pertanyaan itu menggelgar di telinga Ryuu, membuat lelaki itu tersentak dan sontak berdiri, bukan hanya Ryuu, bahkan Gin yang sempat tertidurpun kini ikut membuka matanya, tangisnya pecah saat tidurnya di ganggu.
Tangis itu membuat sang kakek bingung, balita?? kenapa ada balita di perusahaannya? anak siapa itu?? apa cucunya itu menghamili anak gadis orang dan di paksa bertanggung jawab?!!. Pertanyaan itu menyeruak di puncak otak sang kakek, memang ia tak mengenal Gin, karna sejak dua tahun lalu, kondisi sang kakek tak cukup baik, membuatnya tak bisa mengunjungi Akira saat melahirkan atau bahkan saat wanita itu mengalami amnesia.
"anak siapa ini Ryuu?!." pertanyaan penuh nada tajam itu seakan menusuk telinga Ryuu, ia masih sibuk menenangkan Gin yang menangis tak henti.
Hingga teriakan itu akhirnya membuat keduanya membatu, Ryuu berdehem sejenak, menetralkan jantungnya yang sempat hampir melompat.
"Kakek, kenalkan, anak ini bernama Gin.." sedikit nada ragu menghiasi ucapannya, membuat sang kakek menatap intens.
"Gin?!." ia seakan pernah mendengar nama anak ini, tapi dimana??.
__ADS_1
"Yamamoto Gin Shouta, Putra dari Rail dan Akira." pernyataan itu seketika membuat sang kakek membelalak tak percaya.
"Bocah yamamoto?? putra Akira dan Rail?!." ia mencoba mengulang perkataan Ryuu, berharap pendengarannya tak salah, namun benar saja, lelaki itu mengangguk pasti, membuat senyum sang kakek merekah.
"Cucu buyut kakekkkk..." langkahnya dengan cepat mendekati sang cucu, merentangkan tangan berharap bisa memeluk bocah itu, Ryuu menurunkan lelaki kecil itu dan berdiri disisinya, namun tepat sebelum tangan pria berumur itu menyentuhnya, lelaki kecil itu meletakkan kedua tangannya didepannya, menghadang aksi yang akan di lakukan pria itu dan dengan cepat bersembunyi di balik tubuh sang paman.
"Gin Kun,, dia kakeknya mommy sayang.." Gin diam sejenak, tangan Ryuu sibuk mengusap puncak kepala bocah itu, perlahan sedikit ragu, karna dorongan Ryuu, bocah itu melangkah maju, namun detik berikutnya ia mundur dan memeluk erat Ryuu.
"bagaimana bisa ruanganmu berubah menjadi kapal pecah?!." kembali sang kakek mengajukan pertanyaannya, Ryuu tak banyak berucap, ia hanya melirik pada sang tersangka, namun pelaku yang dilirik justru sibuk memainkan arloji sang paman.
Kali ini sang kakek mengalihkan pertanyannya, ia paham dengan tatapan Ryuu pada bocah balita itu.
__ADS_1
"Kenapa dia bersamamu?!." akhirnya mengubah raut wajah Ryuu, ia menampakkan wajah kesal nan jengkelnya.
"Cucumu dan suaminya itu, sembarangan meninggalkan putranya ini di halaman mansionku!! bahkan ia tak menelponku terlebih dulu dan tidak meminta pendapatku!! hanya menyisakannya bersama koper biru besar dan selembar surat yang mengatakan bahwa ia akan berada di london selama dua sampai tiga bulan." Ryuu mencetus tanpa memberi jeda diantara kata katanya, kejengkelan memenuhi otaknya.
Kakek itu hanya diam menyimak, ia tak bisa berkomentar jika sudah berbicara tentang ulah kurang ajar cucu perempuannya itu.
"Kalau kau keberatan, dia bisa tinggal bersama kakek dan nenek di mansion utama." Sungguh solusi yang luar biasa jika dipikirkan, namun justru berujung keterdiaman oleh Ryuu, bocah balita disisinya itu tak akan mau berpisah darinya.
"Mahkluk kecil satu ini tidak akan mau, meski aku dengan senang hati memberinya pada kakek!!." tatapa keduanya beralih pada Gin, dimana bocah itu kini telah berdiri dan sibuk menarik narik rambut Ryu.
"Akkhhhhhh..." teriakan itu sontak membuat sang kakek terkejut, ia melirik heran pada Ryuu yang meringis kesakitan. Namun yang berteriak justru menarik paksa bocah disisinya dan memposisikannya duduk di pangkuannya, dan lebih menjengkelkan lagi, bocah itu justru tersenyum polos, menampilkan ke delapan deretan giginya itu, seraya memperlihatkan rambut Ryuu yang telah rontok di tangannya.
__ADS_1
"Bocah iblis.." gerutunya mengusap kepalanya yang terasa sakit.