My Stubborn Student

My Stubborn Student
Bocah Pencuri Hati


__ADS_3

Tatapan semua guru terfokus pada ketiga manusia yang baru saja memasuki ruang guru, seorang ketua organisasi, siswi SMA dan juga bocah balita.


"Hi Vania," sapaan itu keluar dari bibir seorang guru muda yang bisa diperkirakan bahwa dirinya masih lajang, itu adalah sang guru fisika yang menyeramkan namun selalu manis pada Vania, gadis itu hanya melempar senyum menanggapi sapaan sang guru.


"Ekhemmm," Ryuu, Menghentikan aksi lempar senyum yang di lakukan sang siswi dan si guru fisika. "Kelihatannya, kelas saya tadi terlalu santai untuk anda nona Smith," Sejenak ia memberi cela diantara ucapannya, membuat Vania sedikit meneguk saliva nya dengan kasar.


"Saya pikir, anda butuh sedikit asupan pelajarany yang lebih banyak dari murid lainnya, untuk itulah," ucapannya terhenti, tangannya meletakkan sebuah buku kecil dengan catatan tugas yang entah kapan sudah Ryuu membuatnya.


Sejujurnya, lelaki itu bahkan sudah membenci Vania, sejak gadis itu memperlihatkan sikap keterlaluannya, serta cara berpakaiannya yang menurutnya tidak punya aturan, namun lulus menjadi ketua organisasi siwa.

__ADS_1


 


Ada satu yang membuat gadis itu di sukai guru manapun, yaitu dirinya yang lebih ramah dan juga bertanggung jawab. Senyum manis terukir jelas di sudut bibirnya, ia melemparkan lekukan manis itu pada manik mata Ryuu, gadis itu mengambil buku yang di berikan sang guru, "Akan saya kerjakan segera pak." Ucapnya singkat.


Dari senyum manis itu, seorang lelaki yang masih muda dengan jelas kehilangan martabatnya seketika, entah mengapa sebuah kata muncul dari bibirnya, membuat semua guru disana tertawa dan itu bukanlah karakter lelaki itu, "Kenapa senyum itu harus di lemparkan padanya? kenapa bukan padaku saja?," Ucapan itu terdengar dingin, namun semua orang tau bahwa itu adalah sebuah tanda kecemburuan.


Siapa lagi yang berani berucap seperti itu, selain sang guru muda yang mengajarkan pelajaran Fisika, dirinya terkenal dingin dan ditakuti semua siswa siswi, namun pada Vania? jangan harap kau menemukan ke kejaman padanya, kau hanya akan menemukann kegilaan manusia kasmaran.


"isel.." Suara cempreng khas anak anak itu membuat Vania tersenyum seketika, ia kenal suara imut itu, karna lelaki itulah yang telah mendapat ciuman pertama Vania.

__ADS_1


"Whats wrong my little prince?" seketika Vania berbalik, mencoba menyamakan tinggi tubuh nya denga berjongkok di hadapan anak kecil itu.


" An i oin?" Vania sedikit mendelik bingung, tapi ia sadar satu hal, kala bocah itu menampakkan tatapan terimut yang pernah Vania lihat.


Ryuu tak paham apa yang bocah itu ucapkan, namun ia justru lebih bingung, saat dirinya tak benar benar paham dengan ucapan Gin, gadis itu justru fasih dengan bahasa plane milik balita nakal itu.


"No!!! kau tak boleh ikut kakak, karna kakak pergi untuk belajar dan kau harus disini bersama ayahmu." Sejujurnya bocah itu belum benar benar paham dengan setiap ucapan orang orang dewasa, namun gaya bahasa tubuh lah yang jauh ia banyak mengerti. Karna itulah, bukan kata kata Vania yang membuat balita itu menampakkan wajah sedihnya, melainkan lambaian jemari telunjuk gadis itu yang memperlihatkan penolakan.


Ah sial, Vania benar benar tak kuat melihat bocah pencuri hati ini tertunduk pasrah. "Hei dedek kecil, kalau kakak jadi mama mu, pasti kakak akan membawamu kemana mana, tapi karena sekarang masih bukan, jadi kamu harus tinggal sama papamu dulu." tuturnya membuat semua penghuni kantor itu geleng geleng kepala, siapa yang tak kenal gadis ceplas ceplos yang ramah senyum ini.

__ADS_1


Lebih dari mereka yang geleng gelwng, justru tersisa dua orang yang diam membatu, Apa yang baru saja bocah ini katakan? ia ingin menjadi mama nya Gin? apa itu berarti bahwa gadis kecil itu ingin menjadi istri Ryuu? sungguh gadis luar biasa.


__ADS_2