My Stubborn Student

My Stubborn Student
Menjadi Guru Baru


__ADS_3

Pagi ini Ryuu bangun dengan sebuah tubuh kecil yang menempel disisinya, bukan hal asing lagi untuknya terbangun dengan keberadaan bocah itu di sisinya, sudah seminggu balita nakal itu tinggal bersamanya dan itu lebih dari cukup untuk membuatnya terbiasa akan kehadiran bocah itu.


Jam menunjukkan pukul enam pagi, ia melirik sekilas pada bocah itu dan mengusap kepalanya pelan, lalu beranjak dari tempat tidur, namun baru selangkah ia bergerak, bocah balita itu sudah menangis. Ryuu hanya bisa menggeleng, bocah ini sungguh sensitiv dan begitu peka, ia bahkan bisa dengan mudah menyadari kepergian Ryuu dari sisinya.


"Baiklah jagoan, kita mandi pagi ini, karna kau harus ikut papah tampan mu ini ke sekolah." cukup geli bagi Ryuu menyebut dirinya sebagai papah dari balita itu, tapi entah mengapa itu membuatnya terasa bahagia juga, respon bocah itu cukup mengagumkan, ia membalas ajakan Ryuu, tangan mungilnya terulur meminta tangan Ryuu, bersamaan senyum yang mekar di sudut bibirnya.


"Pah.. mam!!."

__ADS_1


Deggg... jiwa Ryuu bergetar, seakan ia benar benar menjadi seorang ayah, meski yang memanggilnya adalah keponakannya dan bukan putranya, namun entah mengapa jiwa ke ayah an nya keluar seketika, ia mengangkat balita itu dan menciumnya berulang kali, tangannya tak henti memeluk balita itu dengan gemas, hingga jemarinya berhenti disatu titik, lembut dan juga kembang, "astaga!! kau harus mandi secepatnya jagoan!! Diapersmu benar benar penuh."


Rencana mandi bersamanya tergantikan dengan Ryuu yang memandikan Gin terlebih dulu, lalu meletakkan bocah itu diatas tempat tidur, bocah genius itu sudah cukup mahir meluncur dari atas kasur tanpa harus menjatuhkan dirinya sendiri.


Saat Ryuu dari kamar mandi, tatapannya jatuh pada sosok mungil yang tadinya ia letak di kasur, kini telah berada di lantai dengan kepala tali pinggang Ryuu yang menempel di mulutnya, di lengkapi dengan air liur yang begitu kental, Ryuu hanya bisa menggeleng, ini sudah menjadi tontonan wajar baginya selama seminggu ini, bahkan jam wekers di atas nakasnya sudah ganti empat kali dalam seminggu ini.


Ryuu tak lagi menggunakan mobil labhorgini nya, ia lebih menggunakan mobil casual dan juga memakai sopir, jelas ia tak akan bisa menyetir, akibat ulah bocah lelaki yang selalu menempel padanya.

__ADS_1


Semua tatapan para siswa dan siswi terfokus pada guru tampan yang sedang menggandeng seorang balita, bertubuh tinggi tegap dengan kulit putih dan wajah tegasnya. Banyak yang tergila gila, tapi lebih banyak yang patah hati, karna lelaki itu berjalan dengan balita di tangan kanan nya, yang berarti ia sudah menjadi seorang ayah dan memiliki istri.


"Pah, imi, mim.." Ryuu mulai terbiasa dengan bahasa planet milik bocah itu, ia tak lagi banyak masalah saat berinteraksi dengan anak itu, dengan anak itu yang terlatih menggunakan bahasa inggris membuat kata katanya lebih mudah di tebak Ryuu, ya walau tak benar benar mahaminya.


Setelah memberi dot Gin, seketika tatapan lelaki dewasa itu terfokus pada sosok gadis di sudut sana yang asik menikmati permen dimulutnya, gadis itu berpakaian tak rapi, dasi yang hampir lepas, kaos kaki nya yang tenggelam, dan lengan bajunya yang dilipat, lelaki yang selalu berpakaian rapi itu tentu saja terganggu melihat itu, dengan cepat ia melangkah.


"Hei kau!!!." ucapan itu terhenti saat dirinya menyadari siapa gadis itu.

__ADS_1


Gadis yang sama yang pernah ia lihat di taman, seorang gadis yang menikmati setiap sentuhan lembut air hujan, seketika ia terdiam, "Huwohhhh... guru baru yang tampan." ucapan gadis itu membuyarkan lamunan Ryuu.


Tampak sebuah ponsel terulur dari tangan gadis itu kehadapan Ryuu. " Bisa beri aku nomor ponselnya pak?!." ucapan itu membuat Ryuu membatu, gadis ini sungguh gila seperti pendapatnya sebelumnya, ia datang sebagai guru, bukan murid baru.


__ADS_2