
Kali ini Ryuu benar benar kehabisan akal menghadapi bocah kecil di hadapannya, ia bingung mengapa anak ini bisa dengan tenang tinggal bersamanya, bahkan tanpa menangis atau pun mencari orang tua kurang ajarnya itu.
Pagi ini Ryuu menelfon nomor kedua manusia itu, tetapi tak satupun yang bisa di hubungi, semua nomor itu berada di luar jangkauan, saat Ryuu menghubungi Haru, lelaki itu juga berkata bahwa ia tak tau apapun tentang kepergian suami istri itu.
Ia bahkan beraalih menghubungi Ray dan keluarganya, tapi mereka menjawab seperti yang tertulis di kertas di tangan Ryuu, mereka mengatakan bahwa Rail dan Akira ke london untuk mengurus bisnis, namun mereka tak pernah mengira bahwa pasangan suami istri itu akan menitipkan anaknya pada Ryuu.
Ryuu berulang kali mengutukki kedua manusia itu, namun lebih dari itu ia justru kagum melihat bocah yang berada di pangkuannya saat ini, ia bahkan tak merasa asing pada Ryuu dan tak menangis juga.
"Uce.. mam!!." suara khas anak kecil itu membuyarkan lamunan Ryuu, ia beralih menatap bocah itu. "Apa yang dia ucapkan?!." tanya nya pada pelayan perempuan disisinya. "tuan muda meminta makan tuan!." jelasnya yang diangguki Ryuu.
"Lalu, kenapa dia memanggil ku Uce?!." Kali ini lelaki itu akhirnya cukup penasaran dengan sebutan anaeh bocah lelaki itu padanya.
"Sebenarnya itu.. anu, itu sebutan Uncle tuan, hanya saja tuan muda belum pintar bicara." tuturnya yang lagi lagi diangguki Ryuu.
__ADS_1
Ah, kali ini dia harus benar benar banyak belajar bahasa planet tetangga, karna dia tak bisa terus bergantung pada pelayannya ini, mustahil rasanya membawa seorang pelayan ke kantor hanya demi seorang bocah nakal. Terlebih lagi bocah biang onar ini sangat tak mau pada orang lain selain pada Ryuu, mungkin ia nyaman bersama Ryuu karna lelaki itu memiliki wajah yang cukup mirip dengan ibunya, Ryuu ingat jelas saat ia berkunjung kerumah Akira dan Rail.
Saat itu Akira sedang keluar untuk mengurus cafe dan hanya Rail juga dirinya dirumah, bocah berumur sepuluh bulan itu terus saja menangis, hingga ide gila di kepala Rail muncul, ia memaksa Ryuu memakai pakaian Akira dengan sedikit polesan make up di wajahnya membuat Ryuu terlihat persis seperti Akira,Saat itu Ryuu ingin rasanya memecahkan kepala brengsek Rail dan mengeluarkan otak sialannya yang memberi ide gila itu.
Tapi siapa sangka, hal itu sukses menghentikan tangis bocah itu, hanya saja semua samarannya terbongkar saat bocah itu mengusap dada lapang Ryuu, bocah jenius itu tak mendapat bola kenyal milik ibunya, memaksa Rail dan Ryuu harus kembali mendengar amukam bocah itu, hingga bocah itu tertidur kerna lelah.
"Jangan lupa masukkan kereta dorongnya juga." Ryuu mengingatkan, ia tak akan sanggup menopang bocah itu lebih lama didadanya, bisa bisa bahunya patah nanti.
__ADS_1
"Juga Dot dan Diapersnya jangan sampai lupa!!." timpalnya melangkah meninggalkan ruang makan itu.
Semua tatapan karyawan terfokus pada Ryuu, tanda tanya memenuhi seluruh kepala mereka, bossnya sudah menikah?? tapi kapan? apa itu anak nya??, wanita beruntung mana yang sukses menikahinya dan bahkan memberinya seorang bayi?!. Semua pertanyaan itu hanya bisa mereka ucapkan dihati, nyatanya tak seorangpun dari mereka yang berkutib, hanya diam dan menyapa seadanya.
Bahu Ryuu terasa keram, ia meletakkan bocah itu di kereta dorongnya, namun raungannya menggema hingga hampir memecahkan setiap kaca di ruangan itu, membuat Ryuu mau tak mau harus meletakkannya di lantai agar bisa bermain bebas.
Namun karna itu, alhasil ia harus menerima ruangannya yang hancur lebur bagai kapal pecah, jangankan bekerja, ia bahkan harus kembali mengikat bocah itu di pangkuannya, semua hancur berantakan karnanya, mulai dari vas bunga, berkas berkasnya dan bahkan beberapa miniatur yang sempat ia berikan pada bocah itu harus benar benar kehilangan kepala mereka.
__ADS_1
Ceklek, Pintu ruangan itu terbuka, memaparkan sosok pria berumur yang menatap lekat pada Ryuu, lelaki itu tak lain dan tak asing adalah kakeknya, niatnya untuk mengunjungj cucunya adalah untuk memberi pekerjaan mendesak, namun malah nafasnya yang sesak karna melihat kondisi ruangan itu.
"Apa apan ini Ryuu?!." sentaknya mengejutkan lelaki itu.