My Stubborn Student

My Stubborn Student
Beri Aku Ciuman


__ADS_3

Hari ini Ryuu resmi menjadi pengajar, dengan nama samarannya sebagai Christopher Zander, tak ada yang mencurigai penyamarannya dan tak ada yang tau selain Marchel sang guru bahasa. Berhubung Ryuu pintar dalam menghitung, entah bagaimana ia justru berujung sebagai guru mate matika.


 


Dan kelas pertama yang ia masuki adalah kelas Vania, proses belajar berjalan dengan baik, awalnya sih begitu, hingga pada akhirnya ia menyadari bahwa siswi satu itu tengah sibuk menikmati tidurnya dan mengabaikan sang guru yang tengah menjelaskan di depan.


Ryuu mendekat, lelaki itu menahan geramnya untuk tidak melemparkan gadis dihadapannya ini dari jendela lantai lima sekolah itu.


"Kumpulkan tugasnya sekarang!!" Ucapan itu membuat Vania tersentak, tugas?? sejak kapan guru nya itu memberi tugas, seketika matanya membelalak sempurna dan dengan cepat membolak balik halaman bukunya.


"Sudah selesai nona muda Smith." Tatapan Vania beralih pada sang guru yang berdiri disisinya, mulutnya menyengir kuda menampakkan deretan gigi putihnya. ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dan menggeleng pelan, membuatnya mendapat satu tepukan buku di kepalanya.


 

__ADS_1


"Kamu tau kesalahanmu nona?!." Kini Vania lebih memilih mengangguk pelan, menyisakan tatapan datar disudut mata lelaki dihadapannya.


"Berdiri di depan kelas, dan jangan masuk sebelum saya memanggil." Kekesalan memenuhi ubun ubun lelaki itu, namun ia benar benar harus bisa bersabar.


"Tunggu nona Smith." Langkah nya terhenti, tatapannya beralih pada sang guru, sebenarnya ia sedikit malu, karna sebagai ketua organisasi, ia justru tertidur, padahal seharusnya dia yang menjadi panutan siswa lain.


"Dimana jas Almamatermu?? dan kenapa kaos kakimu pendek?! bukankah siswi di wajibkan menggunakan kaos kaki di atas lutut, milikmu bahkan hanya menutupi mata kaki." Vania melirik seragamnya, tatapannya beralih pada Almamaternya yang justru ia pajang di kursi.


 


Saat Ryuu kembali ke depan kelas, semua tatapan seketika beralih padanya, gurunya ini bahkan jauh lebih menyedihkan di banding guru sejarah dan fisika mereka.


"Ada lagi yang ingin ikut keluar?! saya tau kelas yang saya ajarkan ini bukanlah kelas yang banyak diminati siswa, karna itu saya akan mempersilahkan siapapun yang ingin keluar." Semua mata kembali fokus pada buku di meja mereka, cukup ketua osis mereka yang di tendang keluar, jangan sampai mereka ikut.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama gadis itu berada diluar, Ryuu keluar dengan wajah datarnya, melangkah mendekati gadis yang tengah sibuk menggerakkan pen nya diatas sebuah catatan kecil.


"Ikut saya ke kantor guru." hanya itu yang terucap dan dengan sigap Vania mengikuti sang guru, baginya bukan hal aneh lagi datang ke kantor guru karna pelajaran di kelas.


Ryuu berbelok sejenak menuju toilet, akan terlalu lama jika ia harus menunggu sampai di lantai dua, terutama sekolah itu juga menggunakan tangga, bisa bisa ia mengompol di celana.


"Tunggu sebentar, dan tolong jaga putra saya." Vania melirik pada bocah mungil di sisinya, kenapa ia baru sadar bahwa sang guru membawa putranya juga bersamanya?!, ah,, dia terlalu fokus dengan catatan kecilnya dan beban di hatinya, hingga lupa sekitarnya.


"iel.. imi is." ucapnya menampilkan senyum manisnya dengan tangan di letakkan di wajah, "ah! benar benar lelaki yang imut!!." ujarnya mencium bibir mungil bocah itu.


"Hei!! apa yang kamu lakukan pada putra saya!!."suara berat itu mengejutkan keduanya, gadis itu hampir berbalik, namun tangan mungil itu justru menahannya dan mencium pelan pipi kirinya.


Muachhh..

__ADS_1


Ryuu terdiam, entah mengapa balita ini bisa menyukai gadis SMA itu, padahal biasanya ia paling anti disentuh orang asing selain Ryuu.


"Iss.." ujar bocah itu tersenyum manis.


__ADS_2