
Tinggalin like, vote dan koment dong, biar tambah semangat.
Deggg...
Jantung Ryuu berdetak kuat dalam satu hentakan kata, pandangannya beralih pada pria paruh baya yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
"Mau kamu bawa kemana cucu saya?" lelaki itu mengulangi ucapannya, menyisakan tanda tanya dikepala Ryuu. Cucu? siapa? Gin? tunggu! tunggu! lelaki ini bukan orang tua Rail ataupun orang tua Ryuu, lalu kenapa ia mengaku ngaku sebagai kakek dari Gin.
Glekkk...
Vania menelan kasar salivanya, "Pa- papah udah pulang?" sapanya canggung, baru kali ini ia kedapatan mempertamukan lelaki dirumahnya.
"Duduk!" titah pria berumur itu dengan tegas, dan dengan bodohnya, Ryuu justru menuruti perintah itu, seperti anak anjing yang di marahi tuannya.
"Siapa dia Vania?" Gadis itu terdiam mendengar pertanyaan sang ayah, jika ia mengaku bahwa Ryuu adalah gurunya, ayahnya pasti berfikir kalau dia membuat onar lagi, dan kalau dia berkata bahwa Ryuu adalah pria ber anak satu yang anaknya menggilai bertemu Vania, maka akan lebih tak masuk akal lagi, dan hal tergila yang mungkin menjadi tebakan papahnya adalah, bahwa Vania memiliki anak dengan lelaki dewasa dihadapannya itu.
"A- anuuu, ituuuuu... di- dia," Vania menggeleng kecil, pandangannya meminta bantuan dari Ryuu, dan lelaki itu tak paham akan hal meng kode semacam itu, jika Akira yang berada disana, mungkin wanita itu bisa memahami maksud tatapan gadis ini.
"Ap paahhh.." Semua pandangan beralih pada sosok balita mungil yang sibuk mengusap pipinya, "Dinnnggg mmih" Ucapnya yang membuat Ryuu mengangguk pelan.
Ia mengisi dot yang selalu dibawanya dengan susu coklat diatas meja, namun sebelum itu, ia jelas mencicipinya dulu, jangan jangan ada racun disana, seperti minuman yang disajikan untuknya. Setelah mendapat permintaannya, bocah itu tertawa cekikikan, memperlihatkan wajah imutnya.
Jlebbb...
Jantung pria paruh baya itu terhunus, akan sebuah keimutan yang tak dapat ditolak, "Ucu ucuuu, cucunya grandpa." ucapnya mengangkat Gin dari pangkuan Vania, hingga dot itu terlepas yang dengan cepat ditangkap Vania, dan...
"Huwaahhhhh.... aaaahhh, oo, icel.. icelll." Bocah itu meraung raung, mengarahkan tangannya meminta bantuan Vania.
"Loh? ada apa honey, ini grandpa." Entah kerasukan apa pria itu, mengaku ngaku sebagai kakek Gin.
"Vania, dia anak kamu dan pria ini kan?" tebak sang papah yang membuat keduanya terhenyak. 'Sudah kuduga!' Vania memutar malas bola matanya.
"papah ini bicara apa? ini anak dari guru Vania, kenapa bisa ambil kesimpulan seperti itu?" cerca Vania kesal, namun pria berumur itu seakan tampak acuh.
"Papah dikasih tau kamu terima tamu lelaki diam diam, dan dia membawa seorang balita. Papah dengar kalau anak itu sangat menempel padamu, dan kamu bahkan sampai membuatkan biskuit dan jus spesial untuk lelaki itu, jadi papa tebak bahwa itu adalah anak dan kekasihmu, apa salahmya menerka nerka kemungkinan." jelas sang papah acuh., menebak sih boleh, tapi gak sejauh ini juga keles.
Heh! ini papanya masih manusia kan ya? kok pikirannya pendek amat sih? ngomong ngomong, dosa tidak ya kalau seorang anak mengurung ayahnya didalam toilet selama tujuh hari tujuh malam? mungkin dengan begitu, ayahnya akan memiliki pikiran yang lebih logis dan tidak menebak nebak dengan pemikiran konyolnya.
__ADS_1
"Pah?"
"Hmm? tebakan papah benar?" pria berumur itu tampak mengangkat angkuh wajahnya.
"Kok bisa ya papah bangun perusahaan besar?"
"Ya bisa dong, kan papah pintar." Sahutnya bangga.
"Gak heran kalau mamah ninggalin papah, orang bodohnya kelewat batas." Sindir Vania membuat lelaki itu tercekat.
"Heh! kamu bilang apa barusan hah?" sinis sang papah kesal.
"Papah itu bodohnya, udah stadiun akhir!" Vania memperjelas maksudnya.
Pletakkkk...
Satu jitakan mendarat di puncak ubun ubun gadis itu, "Dasar anak nakal! beraninya panggil orang tua bodoh!" geram sang papah kesal.
"Lagian salah papah ngomongnya ngacok! ya gak mungkinlah nih anak punya Vania!" Gadis itu berucap kesal tepat diwajah sang papah.
"Emang papah pernah lihat Vania hamil, atau perutnya membesar? papah pernah liat Vania kerumah sakit buat lahiran? papah pernah lihat Vania gak dirumah selama sebulan? atau tingkah Vania berubah aneh?" Gadis itu mencerca sang ayah dengan pertanyaannya, wajahnya memberenggut kesal menampilkan rasa keberatannya.
"Jadi bukan dia anakmu?" tanya nya ragu.
"Nope!"
"Dia bukan kekasihmu?" ia menunjuk pada Ryuu yang hanya menyimak pertengkaran keduanya.
"No!" gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Lalu dia siapa?" tanya nya akhirnya mulai berfikir waras, waras sih waras, tapi tetap gak nyambung, padahal bocah itu sudah berteriak teriak memberitahu bahwa Gin itu anak gurunya, tapi kelihatannya otak sang ayah sedang diconnectic.
"Saya gurunya," jelas Ryuu memberitahu dirinya,
Jittttt...
Tatapan Tajam tertuju pada Vania, ada aura menghantam disana. "Kamu gak buat masalah lagi kan? ingat, kamu sudah berjanji tak akan mengulang kesalahanmu!" ungkit sang ayah mengingatkan janji Vania dimasa lalu.
__ADS_1
"N- no papa, Dia datang kesini karna eee.." Vania kembali mencari alasan yang tepat, karna apa ya? gak mungkin dia bilang karna bocah ini kan.
"Karna anak saya ingin bertemu putri anda," timpal Ryuu to the point.
"Hah?" Sang papah terperangah, maksudnya ingin bertemu Vania?
tunggu dulu, bukankah alasan ini terlalu klise, lelaki muda ini seolah ingin datang menemui Vania, tapi menjadikan putranya sebagai alasan.
Tatapan menyelidik melayang pada Ryuu, dari atas hingga bawah, tak ada yang terlewat dari tatapan pria berumur itu.
"Kamu suka anak saya?" Pertanyaan itu membuat Ryuu membatu, kok malah suka? bukannya dia sudah menjelaskan alasannya? aneh! tak heran anaknya punya otak tidak beres, ternyata sama tak nyambungnya seperti papahnya.
"Hah? maksudnya?" Ryuu menautkan alisnya.
"Tidak baik menjadikan anak menjadi alasan mendekati seorang gadis." nasehatnya mengacungkan jari telunjuknya.
"Hah?" Ryuu semakin heran.
"Lagi pula istri kamu memangnya kemana? kenapa kamu sampai mendekati putri saya? dan lagi, kamu adalah gurunya." Ryuu semakin kehabisan kata kata, sementara Vania sudah membungkam rapat rapat mulutnya, papahnya ini benar benar sesuatu, kini ia justru terjebak dalam sebuah masalah yang ia buat, harusnya ia tak membiarkan lelaki itu bertamu kerumahnya.
Ryuu menghela nafas, "Begini tuan, saya ini guru baru di sekolah Vania, nama saya Christopher zander."
"Kamu orang Jerman asli?" pria itu memotong ucapan Ryuu, Ryuu memgangguk kecil.
"Tapi kamu seperti orang Asia." ucapnya memberi pendapat, membuat Ryuu gelagapan.
"Bodoh bodoh gini, ternyata matanya masih berguna." celetuk Ryuu pelan.
"Ah, saya campuran." Ayah Vania mengangguk.
"Saya dan istri saya sudah berpisah, dan ini putra saya, tadi pagi di sekolah dia bertemu Vania dan langsung menyukainya, mungkin dia karna merindukan ibunya, sampai menganggap Vania itu.. a, i-itu,, ibunya." ucapnya merasa canggung dipenghujung kalimat, dengan kepalanya yang tertunduk.
'Ryuu bodoh! kamu ini sedang membual apa? sudah berpisah dari istri? Istri dari hongkong! pacar saja udha putus. menganggap bocah ini ibunya? aku pasti gila! mana ada yang bisa percaya hal seperti itu!' umpatnya dalam batin.
Pandangannya kembali beralih pada sosok sepasang orang tua dan anak itu, "ah, maaf kan saya, saya tidak tau anda punya kisah semacam itu. Kita adalah pria yang sama sama ditinggalka istri."
Lah? Ryuu terdiam, pria paruh baya itu percaya? "Saya tau rasanya mengurus anak seorang diri, dan betapa pilunya ketika mereka mencari ibunya." tambahnya seakan ber empaty.
__ADS_1
"Karna itu, saya akan merelakan putri saya untuk menjadi ibu dari anak anda."
"HAH?" Keduanya tersentak, bukan main memang ayah Vania ini, uniknya serasa seperti manusia purbakala yang tak paham kehidupan.