
"Jadi, ada apa kakek menemuiku tiba tiba?" pertanyaan itu akhirnya muncul, membuat sang kakek mengalihkan fokusnya ke arah Ryuu, ia menatap Ryuu sesaat.
"Apa salahnya menemui cucu kakek sendiri?!." Ryuu tak yakin dengan jawaban sang kakek, ia kenal lelaki tua ini, ia tidak akan datang jika hanya sekedar ingin bertemu. "Jika kakek tidak bicara jelas, aku akan lebih senang mengirim kakek pulang!!." Sang kakek hanya bisa berdecak kesal, memang cucu satunya ini sangat sulit untuk di bohongi.
"Baiklah, kau benar benar susah untuk di tipu, kakek akan bicara to the point." ia mencoba memberi jeda diantara kata katanya, menarik nafas dalam, sebelum akhirnya ia kembali angkat bicara.
"Kakek ingin kau mengajar di sekolah yang kakek bangun sendiri, yaitu Germany International school." jelasnya dalam satu tarikan nafas.
Ryuu memiringkan kepalanya, menatap intens pada sang kakek. "Kenapa aku harus mengajar disana?? apa ada yang salah dengan kinerja mereka??." kali ini sang kakek mengangguk kecil, "Aku merasa, ada yang menyalah gunakan kekuasaan disana, mereka menarik banyak uang daftar dan uang sekolah, namun menolak beasiswa, lima puluh persen para siswa beasiswa hilang di tahun ini, sementara keuangannya tak pernah meningkat dan justru merosot." Sang kakek menjelaskan dengan lesu, ia tak tau bagaimana bisa sekolah yang ia bangun untuk orang genius tak mampu itu justru berujung menjadi sekolah untuk orang orang kaya.
__ADS_1
"Kenapa harus jadi guru?! aku bisa menjadi direkturnya disana?? dan menangani semuanya." Lelaki itu berucap dengan wajah datarnya, namun justru gelengan lah yang ia dapat. "Kakek ingin kau menyamar jadi guru biasa disana, salah satu rekan kakek akan memasukkan mu dengan mudah." sang kakek menjelaskan, menambah kebingungan Ryuu.
Jika sang kakek memiliki teman yang bisa memasukkannya dengan mudah, kenapa bukan orang itu saja yang menanganinya?!.
"Karna dia tak sanggup mengatasinya, dan kakek percaya akan kemampuanmu!!." kali ini sang kakek seakan tau apa yang dipikirkan cucunya itu, pernyataannya barusan menjelaskan tentang keinginan sang kakek menjadikannya mata mata.
"Baiklah, baiklah!! aku tak ingin di jodohkan dengan bocah tak berguna itu, lebih baik aku menjadi guru. kakek pasti gilak menjodohkanku dengan bocah remaja!!." Akhirnya lelaki itu setuju, gerutuannya tak luput dari pendengaran sang kakek!.
__ADS_1
Pletakkk!!! satu jitakan mendarat di puncak kepala lelaki itu, tatapan tajam sang kakek membuatnya berdigik ngeri.
"Dasar cucu durhaka!! beraninya bilang kakek sinting." sentakan itu membuat Ryuu sedikit ciut, tapi masih sempat menyahut. "Itu karna kakek menjodohkanku dengan bocah remaja, bagaimana bisa kakek menjodohkanku dengan bocah ingusan manja." Alasan sang cucu membuat kakek memutar malas bola matanya, lelaki itu tak pernah kehabisan alasan jika sudah mengenai perjodohan, mulai dari tampilannya yang seperti wanita murahan, sifat wanita itu yang terlalu manja, gadis itu terlalu boros, terlihat seperti wanita liar, dan yang terakhir terlalu muda.
"Kau bahkan belum bertemu dengannya, bagaimana bisa kau berani mengatakan bahwa dia manja dan juga bocah ingusan?!." sang kakek seakan tak terima, ia merasa bahwa kali ini pilihannya tak akan salah, mungkin saja pilihan sebelumnya salah, tapi ia yakin jika pilihannya kali ini benar.
Ryuu terdiam, sulit jika berdebat dengan kakeknya ini, tapi setidak ia sudah punya alasan untuk menjauhkan perjodohan itu darinya. "jangan bahas tentang perjodohan lagi kek, aku akan mulai mengajar sesuai keinginan kakek." Dalih yang Ryuu ucapkan membuat sang kakek terdiam, memang cucu nya ini sulit untuk di mengerti.
__ADS_1
"Baiklah, kau akan mengajar mulai minggu depan, pergilah kesekolah dan urus semua surat lamaran menjadi guru dan juga data data dirimu." Sang kakek menjelaskan, tatapan nya intens ingin menolak, tapi ia urungkan, pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk.