
**Jangan lupa like, komen dan vote, biar saya semangat nulisnya, dan jangan lupa mampir di novel saya yang berjudul, "Crazy Little Wife dan My Perfect Pedofil." Terima kasih.
Like dan koment itu gratis, saya tunggu masukannya kakak kakak**.
Fiuuuhhhhh...
Ryuu menghentikan mobilnya, sejenak ia menghela nafas kasar, lelaki itu melihat pada petunjuk jalan, tertulis besar disana, "Jln xxx Weirsten"
"Di daerah sini rupanya gadis itu tinggal!" gerutunya sambil menyandarkan tubuhnya, sejenak ia melihat pada sosok bocah balita yang tengah sibuk mengigit mainan ditangannya, dengan ludah kental yang membasahi benda di genggaman balita itu.
"Ini ulah pasangan suami istri kurang ajar itu! jika saja mereka tak meninggalkan bocah setannya ini bersamaku, mungkin aku tak akan repot datang kesini." Gumamnya sambil meraih ponselnya.
Jemarinya denga malas menggeser naik turun layar benda pipih itu, mencari nomor yang hendak dihubunginya. "Haahhhh, sialan! aku justru datang kesini karna rengekan bocah ini."
"Wi be isel om?" bocah itu mengalihkan pandangan Ryuu, lelaki itu memandang bocah yang tengah menatapnya dengan mata berbinar itu.
"Ya ya ya, kita akan kerumah kakak itu, jadi berhentilah mengigit mainan jorok itu!" Ryuu meraih mainan dimulut Gin, dan dalam hitungan detik,
"Huawaahhhhhhhhhhhh..." Tangisan itu melengking, seketika menembus gendang telinga Ryuu..
"Agkhhhh.. ambil ini, ambil iniii," gerutunya kembali menyerahkan mainan dan menempatkannya didekat mulut Gin, "Aku yakin kalau karakternya ini persatuan dari Rail dan Akira," gumamnya kesal.
"Dan bocah sialan ini, kenapa belum juga menjawab panggilanku? apa dia ingin aku menunggu disini sampai malam? sialaaannnn... Terkutuklah dunia yang tengah sibuk mempermainkanku!" Geram Ryuu kesal.
__ADS_1
Hampir satu jam ia menunggu, namun gadis yang ditunggu? bahkan Gin sudah kembali merengek.
"Nona, ponsel anda sedari tadi berbunyi, sudah lebih dari dua puluh kali." Jelas salah satu pelayan, membuat Vania harus memutar malas bola matanya, "ternyata kamu mendengarnya toh." timpal Vania meraih ponsel itu.
'Nona, mana mungkin saya tak mendengarnya, dengan nadanya yang sekuat itu dan berulangkali berbunyi, bahkan hampir satu jam, orang gila saja tak akan nyaman membiarkan benda itu didekatnya, hanya nona yang kuat mendengar benda berisik itu.' gumam sang pelayan dalam batin.
Bahkan sebelum ia memeriksanya, ia sudah tau bahwa yang menelfonnya adalah sang guru.
Gadis itu menepuk nepuk sejenak kedua pipinya, lalu berulang kali berdehem, sebelum akhirnya ia menempatkan benda pipih itu ditelinganya, membuat sang pelayan mendelik heran dengan tingkah nona mudanya.
"Hoaahmmmmm.. Halo, dengan siapa?" ia memainkan dramanya, menyisakan emosi di kepala Ryuu, "dari tadi aku nungguin, ternyata mahkluk ini justru tertidur, dan bahkan tanpa rasa bersalah, masih berani bertanya ini siapa?" Lelaki itu mengepalkan kuat tangannya, seraya mengumpat kesal dalam batin.
Merasa sapaannya tak mendapat jawaban, Vania melirik sekilas layar ponselnya, "Halo? ada orang disana? jika tidak ada, akan saya akhiri." Ucapnya memastikan bahwa panggilan itu sudah benar benar tersambung.
Lagi pula, gadis itu yang memasukkan Ryuu ke dalam group obrolan guru dan anggota osis, serta group kelas dan lainnya, lalu bagaimana mungkin ia tak menyimpan kontak Ryuu, sungguh guru yang polos.
"Oh pak Zander, anda ternyata, ada apa ya?" tanya nya tanpa dosa, "maaf pak, saya ketiduran dari tadi."
Sang pelayan yang memperhatikan nona mudanya itu hanya bisa geleng geleng, bohong banget! jelas jelas dari tadi gadis itu hanya bermain PS di kamarnya.
"Hah? tidur? bukankah saya sudah mengatakan kalau saya dan anak saya akan kesana?" Sebenarnya sih ya, Ryuu sudah ingin berteriak, tapi jika dia marah, maka akan terjadi dua hal buruk. Pertama, Vania akan menolak kedatangannya, dan yang kedua sudah sangat jelas, ia akan mendengar tangisan bocah disisinya ini semalaman, hingga akan berakhir pada demam, lalu dia akan semakin repot.
"App ppah.." Pandangan Ryuu kembali tertuju pada Gin yang memanggilnya, "isel.." pinta bocah itu menyampaikan keinginannya. "iya iya, ini papah lagi ngobrol sama sisternya." ucap pria itu yang terdengar jelas ditelinga Vania.
__ADS_1
"Eh? bapak ada janji ya?" Tanya Vania berpura pura, ah sial! Ryuu hanya bisa mengepalkan kuat tangannya.
Hhaaahhhhh
Ia melepas kasar nafasnya.
"Ya, dan saya sekarang berada di jalan xxx Weirsten, harus ke arah mana lagi saya agar sampai kerumahmu!" Sebisa mungkin ia menahan emosi, gadis ini mengerjainya.
"Eh? Weirsten? maaf anda berada dijalur yang berlawan arah dengan rumah saya pak! rumah saya berada di jalan Weinston, namanya mungkin hampir sama pak, namun arahnya berlawanan." Kini suara gadis itu diubah seolah ia sedang merasa bersalah dan canggung, sumgguh ratu drama.
"Apa? tapi tadi kamu bil.."
"Kayaknya bapak salah dengar tadi, alamat itu sudah jauh sekali dari rumah saya, atau mungkin saya salah sebut pak, maklum pak, efek ngantuk!" Vania memotong ucapan Ryuu, mengehentikan tuduhan yang belum terucap itu.
"Jadi saya harus gimana?" Ryuu bertanya kesal, melirik sekilas pada Gin yang sudah kembali merengek seraya menyebut nyebut kata Isel.
"Ka- Kalau bapak tidak keberatan, bapak bisa putar balik arahnya, saya bisa bagikan lokasinya, atau kalau bapak merasa sudah tidak sempat karna hampir malam, bapak bisa pulang, besok biar saya main lebih lama dengan Gin disekolah."
Wah wah wah, gadis itu memainkan dramanya dengan sangat baik, namun Ryuu bukan lelaki sebodoh itu yang tak sadar sedang dipermainkan.
"Saya akan kesana, kirim kan alamatnya!" pinta Ryuu, lantas mengakhiri sepihak panggilannya.
Vania tersenyum miring, "baru dimulai." ucapnya melempar ponselnya keranjang. "Main main dengan Vania? kamu pasti bercanda!"
__ADS_1