
Sukses berputar putar dijalan yang tak pasti, akhirnya Ryuu sampai di depan sebuah rumah megah, yaps! sebuah rumah loh ya, buka mansion seperti tempat tinggal Ryuu.
Gadis itu tengah berdiri di gerbang rumahnya, dengan bersandar pada pagar besi hitam yang menjadi tameng pelindung rumah itu, "ah! akhirnya bapak sampai juga, saya kira perjalan bapak jauhnya setara dengan dari Jerman sampai London." Cibir Vania yang dirinya pun telah jenuh menanti Ryuu.
"Menurutmu ini salah saya?" Ryuu menekan suaranya setenang mungkin, nyatanya ia benar benar ingin melenyapkan anak menyebalkan ini, sementara Vania? gadis remaja itu hanya mengguk tanpa rasa bersalah.
Pandangan Vania mendapati lengan Ryuu yang dilipat didada, "bukankah alasan bapak berkunjung adalah putra kecil bapak? dimana dia?"
Ryuu memutar malas bola matanya, "apa kamu sendiri tidak sadar? bocah itu bahkan sudah menempel dikakimu sedaritadi," Tunjuk Ryuu pada mahkluk kecil yang memeluk erat kaki Vania, membuat gadis itu tercengang.
"What the...? sejak kapan dia ada disini pak? bagaimana bisa saya tidak menyadarinya?" iya terkejut sekaligus terkagum kagum, apa anak ini sejenis mahkluk ajaib? hingga ia bisa tak menyadari kehadirannya yang bahkan sudah menempel di kaki Vania.
Vania berjongkok, menyetarakan tingginya dengan balita imut itu, "Hello.." Sapa Vania menyentuh pipi gembul Gin, "eo.." bocah itu terkekeh geli, membuat wajahnya terlihat imut tingkat akhir.
"Masuk dulu yuk pak." Tawar Vania mempersilahkan Ryuu masuk, lelaki itu dituntun menuju ruang tamu, bersama dengan Gin yang ada dalam gendongan Vania.
"Sini dulu ya sama papah, kakak mau buat minum dulu." Ucap Vania meletakkan Gin di sofa sisi Ryuu, sebelum pergi, gadis itu menampakkan sebuah senyum, senyum yang sulit dimaknai.
Tak butuh waktu lama untuknya kembali dari dapur, dengan nampan berisi tiga gelas minuman dan satu piring kecil biskuit, dua gelas diantaranya adalah jus jeruk dan satu gelas berisi coklat panas.
"Silakan dinikmati makanan dan minumannya pak," tawar Vania ramah, "ini adalah biskuit toping coklat pertama saya, dan juga jus yang saya buat sendiri untuk pertama kali, saya harap bapak menikmatinya." Tutur Vania tersenyum.
Deggg...
Jantung Ryuu berdebar, Sial! ini bukan perasaan cinta.
Gluppp..
__ADS_1
ia menalan kasar ludahnya, "perasaanku tidak enak." gumamnya tanpa sadar.
Ryuu meraih biskuit itu, dalam satu gigitan.
Krekkk...
ia meremukkan biskuit itu dalam mulutnya, "sudah kudugaaa..." ucapnya dalam batin, ekspresi wajahnya seketika berubah, sedingin apapun ia, setidaknya ia masih memiliki tata krama dirumah orang, ia harus menghargai tuan rumah ketika sedang bertamu, meski dirinya sendirilah yang menjadi taruhan, ia harus tetap sabar.
"Gimana pak? enak kan?" Vania bertanya dengan wajah polos miliknya, trik yang selalu ia gunakan untuk mengerjai ayahnya dan juga para pelayannya, "y-ya!" sahut Ryuu terbata namun masih setia dengan wajah datarnya.
Lelaki itu beralih pada salah satu gelas jus, dalam satu tegukan ia meminum setengah gelas jus tersebut.
'Tiga, Dua, Satu!' Vania menghitung mundur dalam batin, dan...
Byuuurrrrr...
Lelaki itu menyemburkan minumannya.
"Dia pasti sengaja! ia dia pasti sengaja, aku jamin itu!" Ryuu menggerutu dalam batin, namun tetap saja ia tak dapat membalas, ini semua demi Gin, hanya demi Gin, ia harus bersabar dan menahannya, hanya sampai anak itu bersedia dibawa pulang tanpa harus menangis.
"Toiletnya mana ya? saya mau ketoilt sebentar." Ryuu bertanya, salah satu pelayan menunjukkan arahnya, gadis itu kembali tersenyum miring, "lagi ah! Perlakuan spesial, untuk tamu spesial kita" ucapnya pelan.
Ryuu mengusap kasar wajahnya dengan air, "gadis sialan! dia pasti sedang membalas tugas yang kuberikan! iya, pasti karna itu! lagian kenapa juga Gin harus menyukainya!" Ia menggeram kesal,
"Gak ayah, gak ibu, gak anak, seleranya pada mahluk limited edition semua," ketusnya sambil menyiramkan air kewajahnya, jika tak bisa menyejukkan kepalanya yang hampir terbakar emosi, setidaknya ia bisa menyegarkan wajahnya.
Tekkkk...
__ADS_1
Gelap, lampu mendadak mati, hari sudah sore, lagi pula rumah sebesar ini tak akan bisa ditembus cahaya matahari, membuat suasana toilet semakin gelap.
Takkk...
Lampu kembali menyala, Ryuu merasakan kelegaan, namun belum juga selesai ia melepas nafas, lampu itu kembali mati, berulang ulang kali mati dan menyala, membuat lelaki itu semakin kesal, "pasti ulah dia lagi!" kesalnya melangkah keluar.
Namun tak ada siapapun disana, lampu mati dan tak lagi menyala, menyisakan perasaan ngerih di kepala Ryuu, "bukan cuman manusianya, rumahnya juga sama anehnya demgan pemiliknya."
Ia kembali ke ruang tamu, pandangannya mendapati sosok Gin yang sudah tertidur dalam pangkuan Vania.
"Maaf merepotkanmu, kami akan kembali sekarang." Tangan Ryuu hampir mengangkat Gin, namun terhenti akan pertanyaan Vania.
"Maaf saya lancang, tapi dimana mamahnya Gin, kenapa tidak bersama bapak?" tanya Vania ragu, takut takut ia menyinggung.
Seketika itu pula raut wajah Ryuu berubah, seperti suami yang membenci istrinya karna telah meninggalkannya, lelaki itu mendengus kesal,
'Mampus! pasti aku sudah menyinggung hal yang salah, pasti dia punya masalah dengan istrinya , dan tak seharusnya aku bahas,' Gadis itu bergumam dalam batin.
"ibunya? saya rasa dia bukan wanita yang pantas untuk dipikirkan ataupun dibicarakan!" tegas Ryuu tiba tiba jengkel, bukan hanya ibunya, begitu pun dengan ayah bocah itu, mereka adalah mahkluk paling menyebalkan untuk Ryuu, jangankan membicarakan, membayangkan wajah mereka saja sudah membuat Ryuu emosi.
Apanya yang musuh bebututan? apanya yang dendam dan tidak mencintai? drama keluarga sialan! drama perjodohan, acara selingkuh, nikah musuhan, kejar kejaran, semua mereka alami, sok bilang aku tak akan pernah mencintaimu! aku hanya mencintai Shouta! bualan setan! sekarang mereka bahkan lupa pada putranya hanya karna ingin berdua, dasar pasangan kurang vitamin.
"Kalau begitu saya pulang dulu, sudah malam, tak baik untuk Gin," pamit Ryuu, ia kembali mengulurkan tangan untuk meraih balita itu, namun gerakannya kembali terhenti, kala suara itu menimpali.
"Mau kamu bawa kemana cucu saya?"
Deggg...
__ADS_1
Lah, jantungnya kembali berdebar, kali ini bukan cinta juga, tapi firasat buruk. Wait! cucu? Ryuu dengan cepat berpaling, mencari sumber suara yang menghentikan tangannya.
eh? pria paruhbaya? siapa? siapa lelaki yang sudah mengaku ngaku menjadi kakek dari Gin ini?