My Wedding : Am I Nothing?

My Wedding : Am I Nothing?
Arlan Vs Mike


__ADS_3


Caffe Aloevera. 7.00 PM


Anya duduk dengan sebuah jus chocolate yang melengkapi mejanya. dia sudah siap dengan segala keputusan yang akan ia dengar tentang perjodohan itu. ponselnya berdering beberapa kali, dia meronggoh tasnya untuk memastikan siapa yang menghubunginya. Tertera dengan jelas di layar, ada 10 panggilan tak terjawab dari Mike. saat ia menggeser layarnya Anya terkejut mendapati pesan yang dikirim oleh Mike.


*Anya. kalo kamu gak bisa menghindari perjodohan ini. itu artinya kamu juga gak bisa menghindar kalo suatu saat aku akan berusaha merebut kamu kembali.


Kurang lebih seperti itu isi pesan yang dikirim Mike. Apa maksud Mike, dia sudah gila. walau bagaimana pun Anya akan tetap memilih Ayahnya dibanding Mike.


Meski Mike adalah kekasihnya. tapi bagi Anya, Roni adalah kekasih dari semua kekasih. itu sebabnya dia lebih memilih Roni sang ayah daripada Mike.


Anya memutuskan untuk mengabaikan pesan dari Mike. Anya melirik arloji silver yang membalut lengannya.


"7.30 PM. sudah 30 menit berlalu. Apa ayah membatalkan pertemuannya?" lirih Anya sesekali memainkan sedotan yang ada pada jusnya.


Caffe semakin malam kian semakin ramai, tapi orang yang dia tunggu belum juga kunjung datang.


"maaf saya terlambat." tukas seorang lelaki dengan kemeja hitam yang membalut tubuhnya. dia adalah Arlan. Arlan kemudian duduk di kursi yang ada di depan Anya.


"Loh. kamu? pak Roni nya mana?"


"Pak Roni ada di kantor. Beliau menyuruh saya untuk menemui kamu."


Deg


Dalam hati Anya, dia sudah menduga jika laki-laki ini pasti adalah orang yang akan dijodohkan dengannya.


Arlan menatap wanita yang ada di hadapannya itu, kedua mata Anya terlihat sembab. Arlan tahu apa yang sedang di alami wanita ini. sesuatu muncul di benak Arlan. dia bisa memanfaatkan situasi ini untuk menggagalkan perjodohannya dengan Anya.


"Saya tau apa yang kamu rasakan. Seseorang seharusnya menikah dengan orang yang tepat. Orang yang bisa membuat kebahagiaan, dan orang tersebut tentunya bukan saya."


apa kata Arlan memang benar. tapi Anya tidak se-egois itu.


"Kamu tidak harus menerima perjodohan konyol ini. kamu bisa membujuk ayahmu dan mendapatkan kebahagiaanmu kembali. Kebahagiaanmu jauh lebih berarti."


Seakan menjadi boomerang, perkataan Arlan kali ini sedikit menggoyahkan keyakinan yang dibangun kokoh oleh Anya. Anya tau kemana arah tujuan pembicaraan Arlan. Sebenarnya Anya juga tidak menginginkan perjodohan ini. tapi bagaimana lagi. ini demi ayahnya.

__ADS_1


"jangan khawatir. aku akan menerimamu dan perjodohan ini. Karena bagiku, kebahagiaan ayahku adalah sumber kebahagiaan untukku"


Arlan membelakakan kedua bola matanya dengan sempurna, dia tak percaya apa yang baru saja dia dengar. Arlan berniat baik, dia berusaha membebaskan Anya dari jerat jeruji ayahnya. tapi dia lebih memilih untuk tinggal.


"coba matangkan lagi keputusanmu. kamu bahkan tidak mengenal latar belakang saya. kita hanya orang asing yang dipaksa dipertemukan oleh keadaan."


"ini bukan soal paksaan. tapi ini takdir."


Arlan terdiam. apa wanita ini benar-benar bisa menerima kehadiran Arlan di kehidupannya. Sudah berusaha keras meruntuhkan keyakinannya. tapi Anya sepertinya teguh pada pendiriannya.


"kita memang asing. Bahkan namamu saja aku belum tahu. tapi, cepat atau lambat aku pasti akan mengenalmu dengan baik." tukas Anya meyakinkan."Hari sudah larut malam. Sebaiknya kita pulang. dan... oh iya. kamu membuatku menunggu tadi. Lain kali jangan membuat seseorang menunggu. gak enak. Permisi"


Arlan menatap punggung Anya yang semakin menghilang diambang pintu. selarut ini tidak baik jika seorang perempuan pergi sendirian, termasuk Anya. Arlan segera menyusul Anya keluar dari Caffe. Sesampainya diluar, Pandangan arlan menatap ke setiap penjuru Caffe. dia menemukan Anya di parkiran sedang mengobrol dengan seseorang.


"Anya."


pandangan anya seketika menatap ke arah suara tersebut.


"Lain kali kita sambung lagi ya" tukas seorang wanita yang sedari tadi sedang asyik berbincang dengan Anya."Dah" sambungnya


"Iya."


"izinkan saya mengantarmu pulang. ini perintah Pak Roni" jelas Arlan.


"Oh ya?" tanya Anya. Arlan membalas dengan anggukan kepala.


***


"tambah 3 gelas lagi." tawar Mike.


Disinilah ia sekarang, sebuah Club malam yang terkenal akan minuman konglomeratnya. Bau alkohol sudah tidak asing memenuhi ruangan tersebut. lampu kerlap kerlip dan suara dentuman musik kini menjadi pelengkap suasana.


gila. udah abis 7 gelas." tukas seorang lelaki yang berada disamping Mike. "Lo jangan banyak minum, entar over."


"kayaknya putus cinta tuh," sahut teman lelaki itu diiringi dengan kekehan meledek, Mike tidak menghiraukan kedua orang itu. dia terus saja meminum minuman yang berbau alkohol itu.


semakin malam keadaan semakin gemerlap ramai. para jalang semakin menjadi. bahkan Mike sempat mendapat beberapa rayuan dari beberapa jalang itu. tapi Mike tidak memperdulikannya. dia pergi ke Club hanya untuk menenangkan diri dari bayang-bayang Anya. Sebejat-bejatnya Mike, dia tidak pernah bermain-main dengan Wanita. terlebih jalang-jalang itu. Bagi Mike, Anya adalah satu-satunya wanita yang dia banggakan.

__ADS_1


"Parah lo, Alay banget. cewe banyak kali,Bro. lo bisa cari yang lain. apalagi ditempat kayak gini. Lo bisa pilih, mana bodynya sexy-sexy lagi." ucap lelaki tadi kepada temannya seperti menyinggung Mike. Mike yang tak terima dengan singgungan yang dilontarkan kedua orang itu segera menghampiri mereka.


"maksud lo apa, hah?"


"santai dong ga perlu nge gas."


"jaga omongan lo." Kesal Mike menarik kerah salah satu lelaki yang ada disampingnya,


BUGH


Mike melayangkan pukulannya tepat dibibir lelaki itu,"Gue ingetin sama lo. jangan sekali-kali lo samain Pacar gue sama para jalang itu."


BUGH


pukulan tangan Mike kembali melayang dipipi lelaki itu. Suasana Club menjadi kacau. Seorang penjaga Club berusaha melerai pertengkaran itu. Mike jauh lebih kuat, laki-laki itu kini babak belur dibuatnya.


"lepasin gue." Mike berusaha memberontak, tapi penjaga Klub berhasil menahan serangan Mike. salah satu teman laki-laki tadi dengan segera membawa temannya yang babak belur.


"WOI... Jangan Kabur lo." teriak Mike, dengan tangan yang masih dalam penahanan si penjaga Klub. "lepas. gue bisa sendiri." Sentak Mike


penjaga. Klub itu akhirnya melepaskan tangan Mike. Nafas Mike masih membara karena terlalu banyak meminum alkohol juga karena ulahnya sendiri. Dengan berjalan sempoyongan Mike melangkahkan kakinya keluar Klub.


"gue gak terima cewe gue dibanding-bandingin. apalagi sama jalang. hahahaa jalang. gue ga tergoda. gue cuma mau milikin anya pacar gue." rancau Mike tak karuan berjalan kearah mobilnya. "anya sayang... kamu dimana, beb? jangan tinggalin aku ya. anya gak ninggalin gue, dia kan cinta mati sama gue. hahahaha"


Bruk


Mike menutup pintu mobilnya, dia kini menghempaskan tubuhnya di kursi mobil. senyumannya terukir di kedua ujung bibirnya. perlahan dia terkekeh kecil, semakin lama tangannya kini mulai memukul-mukul stir mobil.


"arrrghhh..." frustasinya. " gue gak rela Nya. gue ga rela kehilangan lo" Air mata kini mengalir di kedua sudut kelopak mata Mike.


***


To Be Continued


this is Michael Sagarela ( Mike )


__ADS_1


__ADS_2