
***
Diperjalanan
ting.
suara notifikasi ponsel berbunyi, membuat Anya merongoh kembali tas miliknya. Tapi, Arlan yang berada disamping Anya sama sekali tidak menggubris wanita itu, dia lebih memilih memfokuskan diri pada jalanan yang ada didepannya. Anya menggeser layar ponsel dengan salah satu jemarinya, satu pesan tertera di layar ponsel. namanya sudah tidak asing bagi Anya, dia adalah Roni sang Ayah.
My Dad
Anya. dimana kamu sekarang? apa perlu ayah kirim pak Nono untuk menjemputmu?
apa? jadi ayah tidak menyuruh laki-laki ini. Batin Anya
Sudut mata anya menatap lelaki yang ada disampingnya. pikirannya bertanya-tanya, apa yang dikatakan laki-laki ini soal ayahnya yang menyuruh dia mengantarkan pulang Anya, apakah ini hanya modus belaka Arlan. tapi, sejauh ini Arlan tidak sama sekali menunjukkan hal yang mencurigakan. baik tatapan maupun peekataannya rasanya masih canggung. Anya dengan segera menepis fikiran itu.
Ting!
bunyi suara notifikasi itu kembali mencuri perhatian Anya. Anya kembali menatap ponselnya.
Ayah menyuruh Arlan untuk menemuimu. apa dia datang?
'Arlan'? jadi nama lelaki ini ternyata Arlan. pantas saja tadi dia tau namaku. sepertinya ayah sudah menceritakan semuanya tentangku. Batin Anya
jemari anya mulai mengetik sesuatu di atas layar ponselnya.Dia menjawab pesan dari Roni, Anya mengatakkan kalau Arlan datang menemuinya. Bahkan sekarang Arlan sedang bersamanya. Anya juga mengatakkan kalau mereka sedang dalam perjalanan untuk pulang.
syukurlah ayah lega mendengarnya. pilihan ayah memang gak salahkan. Arlan adalah lelaki yang tepat untuk menjadi pendamping kamu. balas ayah panjang lebar.
Tanpa menjawab pesan dari Roni, Anya kembali memasukkan ponselnya. anya segera mengalihkan pandangannya menatap ke arah luar jendela. apa maksud Ayahnya itu, apa dia pikir Mike bukan laki-laki yang baik untuk Anya, putrinya.
dari jendela mobil Anya dapat melihat jelas pemandangan yang sunyi diluar sana. Bak sudah diatur, pemandangan ini serasa melengkapi rasa dilema yang kini tengah melandanya.
Arlan yang sedari tadi fokus menyetir kini mulai memperhatikan gerak-gerik Anya dari kaca spion yang berada di dalam mobil. sesekali dia menatap wanita yang berada disampingnya itu. Anya terlihat sangat tidak berenergi. kali ini Arlan mulai membuka suara,
"jangan menyiksa diri sendiri. ini hanya bagian dari rencana, kalau kamu tidak terima kamu bisa saja membatalkannya kapanpun kamu mau" tukas Arlan panjang lebar
__ADS_1
tidak ada respon sama sekali, pandangan Anya masih tetap menatap ke arah luar jendela mobil.
Arlan paham apa yang drasakan wanita itu, berada di posisi Anya saat ini memang sangat berat. jika saja Anya adlah seorang kelinci yang disuruh memilih untuk pilihan yang sama, semisal untuk memilih memakan wortel 1 dan wortel 2 pasti Anya akan mendapatkan keduanya. Tapi sayang, ini Anya dan pilihannya berbeda.
"Ketika kita diberikan pilihan, antara mencintai atau dicintai. maka, sebaiknya kita lebih memilih..."
"di cintai" sahut Arlan memotong pembicaraan Anya. Anya sekilas menatap Arlan lantas kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Arlan tahu pasti ada alasan dibalik sikap Anya yang selalu bertahan dari kesakitan yang di alaminya. sekuat itukah Anya.
Sikap Anya ini lah yang benar-benar membuat Arlan bingung. Wanita ini, kadang bersikap baik dan kadang pula terlihat dingin dan menyedihkan.
"Aku tau kamu juga sebenarnya sudah mengetahui alasan kita dipertemukan hari ini." kini Anya memberanikan diri mengalihkan pandangannya kepada Arlan yang fokus dengan stir dan jalanannya itu. "Ayahku. menginginkan kita hidup bersama. apa itu mungkin? " sambung Anya.
perkataan Anya sontak membuat Arlan seketika menghentikan mobilnya. tubuh Arlan serasa diguncang ribuan badai pandangannya seakan terhenti.
Anya kini semakin menatap Arlan yang berada di sampingnya. "kamu maukan membantuku untuk mewujudkan keinginannya itu? menikah denganku?" kata-kata itu sukses Anya ucapkan tanpa sedikitpun salah. meski dalam hatinya dia menolak perjodohan ini.
***
Mike sampai di rumahnya. dia memasukkan mobil kesayangannya ke garasi. Mike keluar dari mobil, dia berjalan sempoyongan masuk kedalam rumahnya. Rancauan tak karuan berkeluaran dari mulutnya.
"Aaaarrrrrgh"
semua barang yang berada di atas meja tamu berhasil ia seret dengan kasar. Mike kini menghempaskan badannya di atas kursi yang berada di ruang tamu tersebut.
"Anya... aku hancur... tolong jangan pergi dari kehidupanku."lirihnya masih dalam keadaan mabuk.
***
sesampainya di rumah
clek!
suara pintu kamar terbuka. Anya dengan malas memasuki kamarnya yang bernuansa Hotel itu. Bagaimana tidak? dari mulai kasur, lemari, meja rias, dan penmpatan barang lainnya di design semirip mungkin dengan hotel bintang lima yang ada dikota nya. Bahkan bagian balkon adalah tempat favorite Anya. baik saat senang maupun sedih. balkon adalah pelampiasan Anya.
Dan benar Saja, setelah masuk ke kamar Anya perlahan berjalan menuju ke arah balkon. Anya menatap sendu langit malam itu, rasanya ingin sekali dia menceritakan keluh kesalnya. Buliran air itu kembali membasahi kedua pipi Anya. Kini bayangannya teringat kembali pada Mike.
Flashback On
__ADS_1
di sebuah Perayaan Malam, Mike menarik pergelangan tangan Anya. Dia memutuskan untuk mengajak Anya pergi ke lantai paling atas gedung. Sesampainya disana,
"Kamu kok ngajak aku kesini?"
"Ada sesuatu yang mau aku tunjukkin sama kamu."
Mike memetikkan jemarinya. setelah itu, lampu mulai bernyalaan satu per satu. Lampu itu membentuk hati, bahkah di tengah-tengah lampu itu sudah tersedia satu meja makan dengan bunga di atasnya juga dilengkapi dua kursi yang saling berhadapan. sederhana, tapi bagi Anya ini adalah hal istimewa.
Saking istimewanya Anya sampai-sampai harus menutup mulutnya karena menganga terkesima dengan pemandangan yang ada dihadapannya. Anya melagkahkan kakinya menuju tempat romantis itu.
"Demi apa? ini romantis banget."
Mike mengikuti langkah Anya dari belakang, "Oke. Malam ini, kita akan dinner di sini. Daaaan. Langit yang indah dengan bulan dan bintang inilah yang akan menjadi saksi dimana Cinta seorang Mike dan Anya ditakdirkan untuk selalu bersama."
"beb. apaan sih kamu, bucin tau."
"ya gapapa. bagus dong bucin sama pacar sendiri."
Anya speechless karena kata-kata Mike yang selalu membuat dirinya berasa berarti.
"kamu suka?"
Anya menatap Mike dan mengangguk senang. sekilas Anya mencium pipi Mike lantas Anya juga memeluk erat kekasihnya itu , dan Mike juga membalas pelukan Anya.
Baru kali ini Anya mendapat kekasih seperti Mike, dia merasa sangat berharga. Prilaku Mike selalu membuatnya bak seorang putri. Dan malam ini, Mike kembali membuktikan rasa sayangnya, Mike selalu melakukan hal yang sama, yang membuat Anya bahagia
Flashback Off
Air mata Anya semakin berjatuhan, tatkala mengingat masa-masa indahnya bersama kekasihnya. Bagaimana bisa Anya melupakan Mike, Mike adalah Cinta pertamanya sejak dia masih menduduki bangku SMA. Suka dan duka sudah mereka lewati bersama, tapi saat menjelang sidang kelulusannya dia harus di hadapkan dengan kata perpisahan yang terpaksa. Mimpi Anya untuk menikah dengan Mike kini seakan pupus, habis ditelan angan.
"Teruntuk langit malamku. hatiku akan tetap berada disampingmu, menjadi bulan dan ribuan bintang yang tetap menyinari malammu. Karna aku, hanya mencintaimu. Dan, meski kini takdir harus memisahkan kita. tapi jiwa kita akan selalu bersama. bak langit malam dan para bintang juga bulan yang tak terpisahkan." lirih Anya sembari menatap Langit malam dengan sendu dan hati yang remuk akan perasaan.
Sepertinya dugaan Arlan benar, Anya sepertinya sangat tersakiti atas perjodohan ini. Jika saja Anya tau di sebrang sana Mike juga merasakan hal yang sama. Tapi tetap, Anya akan pada pendiriannya. Anya tidak mau mngecewakan Roni sang ayah. dia merelakan kebahagiaannya demi membahagiakan Roni.
***
To be Continued
__ADS_1