My Wedding : Am I Nothing?

My Wedding : Am I Nothing?
Hari terluka?


__ADS_3

***


Keesokan harinya,


pagi sekali Anya sudah berada di balkon. sejenak dia memejamkan kedua bola matanya dan menghirup udara asri itu, jiwanya lebih tenang tatkala menghirup udara di pagi hari. Ini sudah menjadi rutinitas kebiasaannya. Terlebih saat ia merasakan keresahan, balkon lah tempat paling nyaman untuk ia menenangkan diri.


Tiiid


Suara klakson mobil terdengar nyaring, membuat anya mengerjapkan kedua matanya menatap ke arah suara tersebut. Anya melihat sebuah mobil melintas memasuki halaman rumahnya. Mobil itu sejenak berhenti di halaman depan rumah.


Selang beberapa menit seseorangvkeluar dari mobil itu, dia adalah Roni, Ayah Anya. Roni menutup kembali pintu mobil tersebut. tapi sepertinya dia tidak sendiri. Seseorang ikut turun dari pintu mobil yang bersebrangan. Seorang wanita, turun dari mobil tersebut dengan paper bag yang dibawanya,


"Ayah? tapi siapa wanita itu?" Anya bertanya-tanya


Anya segera menuruni anak tangga untuk menemui Roni dan wanita tadi. Di Ruang tamu Anya kini berpapasan dengan Roni dan wanita itu.


"Yah."


"Anya. lihat siapa yang ayah bawa." tukas Roni


Anya menatap wanita yang berada di samping ayahnya itu. Wanita itu tersenyum ramah kepada Anya."dia ini WO yang akan membantu berlangsungnya acara pernikahan kamu dan Arlan" Mendengar ucapan Roni, Anya tak tau harus berekspresi seperti apa. haruskah Anya terlihat senang atau bahkan sedih.


"Selamat pagi, Nona Anya. Senang bertemu dengan anda. semoga pernikahannya berlangsung tanpa hambatan." Ramah Wanita WO itu.


Anya tersenyum tipis, dan diikuti kata terima kasih. Baru saja Anya merasakan kedamaian, sekarang hatinya harus berkecamuk kembali.


***


Di tempat lain,

__ADS_1


"Arlan. Papa senang sekali mendengarnya. akhirnya, papa bakal jadi seorang kakek." tukas Roy sumringah."Papa percaya sama kamu. kamu bisa laluin masa ini. Yakinlah pada rencana Tuhan, Dia hanya ingin yang terbaik untuk para hamba-Nya."


terlihat Arlan yang sedang duduk di sofa dengan Roy, Sang ayah. Ternyata Arlan sedang membicarakan tentang pernikahannya bersama Anya. Roy tanpa tolakkan segera merestui putranya itu. karna, sebelumnya Arlan tidak mau menikah Muda. tapi entah alasan apa Arlan tiba-tiba membicarakan kalau ia akan menikah. Meski terdengar Aneh tapi ini menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi Roy.


aku enggak mungkin ceritain kejadian yang sebenernya. Papah gak boleh tau kalo pernikahan ini didasari keterpaksaan karena kesalahan yang ku buat. batin Arlan


***


Anya kini tengah duduk di atas kasur, sesekali dia menggeser layar kunci ponselnya. setelah pesan kemarin, Mike tak kunjung jua mengirimnya pesan. Anya berpikir jika ini mungkin adalah cara Mike untuk bisa Move on darinya.


"Mike. aku enggak pernah nyalahin kamu. Ini keputusanku. jika aku menyesal sekalipun, ini sudah menjadi konsekuensinya. dan aku harus menerimanya." tukas Anya seraya menatap foto yang berada di galeri ponselnya. terlihat dua insan yang saling menatap dengan tawa yang mengukir di kedua setiap sudut bibir mereka. Di bawah Salju yang turun mereka mengabadikan moment terbaik itu.


Pernikahanku kini hanya berjarak satu minggu. Tapi, pikiranku masih dihantui oleh bayang-bayang Mike. Oh Tuhan, apa aku sanggup menjalani ini semua tanpa Mike. batin Anya


Anya kemudian menempelkan ponselnya m di dadanya. Matanya terpejam dan air mata kini perlahan mengalir kembali. Anya berusaha menahan tangisnya dengan menutup mulutnya oleh salah satu tangnnya. sedangkan tangan yang satunya semakin mengeratkan genggaman pada ponselnya yang masih menempel di dadanya.


****


Sore hari Anya pergi ketempat di mana dia memutuskan Mike. Tempat itu masih sama, hanya saja kenangan yang membawa luka terus terngiang di kepalanya.


"aku masih gak percaya kisahku bisa hancur dalam sekejap mata."


Anya berusaha menahan buliran itu, bibirnya kini bergetar.


"Ayolah Nya. kamu gak boleh lemah. kamu bisa menerimanya." tukas Anya diiringi tangannya yang mulai menyikap beberapa buliran yang ada di pipinya.


Anya melangkahkan kakinya pergi dari tempat tersebut. Anya pulang menaiki Taksi, bukan tanpa sebab, Anya hanya tidak mau jika supir pribadi ayahnya melihat Anya yang terus menangis. karena apa pun yang dilakukan Anya, pasti dipantau dan dilaporkan kepada Roni.


***

__ADS_1


Taksi itu berhenti tepat di rumah Anya


Anya turun dari taksi, tapi dia merasa ada yang tidak biasa. iya, di rumahnya kini terparkir sebuah mobil mewah berwarna hitam. Sepertinya di rumahnya sedang ada tamu. jadi Anya memutuskan untuk masuk rumah melalui pintu samping yang lain.


Clek!


Anya kini memasuki ruangan dapur, semerbak macam-macam makanan kini saling berlalu lalang di hiding Anya. Anya semakin penasaran, siapa sebenarnya tamu ini. sepertinya sangat spesial, sampai-sampai asisten rumah tangganya membuat beberapa menu lebih banyak dari biasanya.


Anya menghampiri salah satu Asisten Rumah Tangga itu,"Bi, ini ada apa ya?"


"ini loh, Non. kita lagi masak buat tamu-tamu yang ada di depan. Calon Non."


"C-Calon?"


"iya. Pak Arlan."


'Arlan' mendengar nama itu seakan boomerang bagi Anya. Karna kehadiran Arlan lah yang membuat Ayahnya dengan mudah menggeser posisi Mike di kehidupan Anya.


"Ayah apa-apaan sih" kesal Anya pelan tapi masih terdengar oleh asisten rumah tangganya.


Anya mencoba melangkahkan kakinya untuk menemui Roni. Saat di ambang pintu menuju ruang tamu Anya, berpapasan dengan Arlan.


Muak. itulah yang ada dibenak Anya sekarang. Anya dengan segera mengalihkan pandangannya, saat Anya ingin melanjutkan langkahnya kembali, tangan Arlan dengan cepat menahan pergelangan tangan Anya.


"Saya menyetujui untuk membantumu mewujudkan impian Pak Roni."


kedua mata anya membelakak sempurna. ini tidak mungkin. Baru saja kemarin Anya dengar kalau lelaki ini menyuruhnya untuk mundur. Tapi hari ini Arlan berkata lain. apa maksudnya? apa dia hanya ingin mempermainkan perasaannya saja?.


***

__ADS_1


__ADS_2