
***
Pantai Oppa Sea
disebut Oppa Sea karena 90% dari pengunjung pantai tersebut ialah para remaja yang tampan. Selain terkenal karna pengunjungnya, Oppa Sea juga dikenal sebagai pantai eksotis akan pemandangannya yang indah.
***
Disinilah mereka sekarang.
Mike, Arlan, dan Anya kini telah sampai di sebuah pantai yang asri, jernih dan menyejukkan. Meski pemandangan ini bagitu eksotis tapi tak membuat Anya seantusias biasanya.
Ponsel Arlan berderung tanda panggilan masuk, diq mengecek ponselnya. ternyata itu panggilan dari Roni. Arlan sedikit menjauh dari Mike dan Anya untuk menjawab telfon.
Suasana menjadi sangat kikuk, Anya memutuskan untuk pergi dari tempat itu tapi suara seseorang menahannya,
"kamu mau menikahkan?" sudut Mike. Anya membalikkan badannya menatap Mike yang menatap lurus pada lautan yang sesekali di iringi ombak-ombak kecil yang menyapa kedua kakinya. "dan lelaki itu adalah Arlan." sambungnya kembali.
Mike kini membalikkan badannya menghadap Anya, mata Mike dipenuhi oleh puing-puing kekecewaan. tatapan Mike seperti meminta jawaban dari pertanyaannya tadi. Mimik muka Anya kini kian sedu, bibirnya bergetar.
"aku kira kamu akan memberi kesempatan untuk aku berubah dan meyakinkan ayahmu itu. tapi sepertinya aku terlalu berekspetasi tinggi tentang mimpi itu. Karena dugaankunternyata salah, kamu gak bisa mempertahankan hubungan kita, seperti aku mempertahankan kamu." jelas Mike membuat anya merasa bersalah,
"Mike."
"Selamat. selamat kamu berhasil membuat aku bodoh karena setia." sudut Mike lagi kepada Anya
Mike melepaskan Cincin Couple yang selalu di pakainya. dia membuangnya ke sembarang tempat. Mike berlalu meninggalkan Anya Sendiri. Angin sendu kini menjadi sedikit kencang membuat air laut mengaliri pinggiran pantai lebih deras. Anya dengan menitihkan air matanya mencari cincin yang dibuang Mike.
Di tengah pencariannya, kaki Anya tiba-tiba saja keram. tubuh Anya perlahan terseret ombak pantai,
"aaaaaah"
mendengar teriakan yang tak asing kini Mike yang sudah melangkah jauh membalikkan badannya, kedua matanya membelakak sempurna tatkala melihat Anya,
__ADS_1
"Anya. ANYA!!!!!" teriak Mike Khawatir
kedua kakinya yang sudah melangkah jauh kini berlari menuju tempat tadi. Dari arah lain Arlan yang ternyata terlihat khawatir mulai berlari ke arah Anya. Posisi Arlan yang lebih terjangkau berhasil menyelamatkan Anya.
Arlam mengangkat tubuh Anya untuk menepi. kekhawatiran terlihat jelas di wajah Arlan. Dia mencoba menepuk pelan kedua pipi Anya secara bergantian. Arlan berniat memberikan nafas buatan untuk Anya. Saat Arlan mendekatkan Wajahnya seketika wajahnya seperti tertahan, Arlan menjauhkan kembali wajahnya.
"Anya. Maafin aku. bangun Nya." tukas Mike
Wajah khawatir mike terpampang jelas saat ia tiba. Mike menarik tubuh Anya dari tangan Arlan. tanpa basa basi Mike memberikan nafas buatan beberapa kali kepada Anya. Arlan memalingkan pandangannya ke arah lain.
nafas buatan yang di berikan Mike ternyata berhasil. Kedua mata Anya mulai mengerjap-ngerjap,
"uhukk... uhukkk..."Sadar Anya di iringi batuk yang mengeluarkan air. Anya terlalu banyak menelan air sehingga sulit bernapas dan tak sadarkan diri.
rasa khawatir Arlan dan Mike kini mulai lega. Mike memeluk erat tubuh Anya yang terkulai lemas. Meski dalam pelukkan Mike, sudut pandangan Anya sempat memandang Arlan yang mulai menjauh.
Bibir Anya yang ingin memanggil Arlan rasanya kelu. tubuh Arlan semakin menjauh dan pandangan Anya pun kini semakin buyar kembali.
"Hey. aku ada disini. jangan khawatir" tukas Mike semakin mempererat pelukannya. Mike membopong tubuh Anya dari tempat tersebut.
***
Dari atas balkon lensa Arlan sempat menangkap Mike yang datang dengan Anya yang dibopongnya.
"Aku gak boleh egois. Seharusnya yang ada diposisi Saga itu aku." tukas Arlan
Arlan berlalu dari balkon kamarnya menuju kamar Anya. Saat berada di depan pintu kamar Anya Arlan berpapasan dengan Mike yang membopong Anya. Arlan tanpa basa basi merebut Anya dari tangan Mike tapi tertahan oleh Mike.
"lelaki macam apa anda. beberapa menit yang lalu nyawanya terancam dan anda hanya diam. apa pantas lelaki semacam Anda di sebut sebagai calon suami." sudut Mike pada Arlan,
"Saya akui, saya bukan calon suami yang baik untuk Bu Anya. Tapi setidaknya, saya tidak pernah membiarkan seorang wanita menangis sendirian seperti tadi." Sahut Arlan.
Perkataan Arlan membuat Mike sedikit tersinggung, pertahanannya kini goyah. Arlan berhasil merebut Anya dari Mike. Arlan membopong tubuh Anya memasuki kamar meninggalkan Mike yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
__ADS_1
***
Di Ruangan Kantor Roni,
Roni yang kini tengah sibuk dengan perkerjaannya sempat mengeluh, tapi dia mengingat kembali Anya. putrinya itu selalu menjadi penyemangat hidupnya. İbaratkan obat, Anya adalah penyembuh luka bagi Roni.
Neta yang sedari tadi membantu Roni membereskan berkas di ruangan mulai berjalan ke arah Roni,"pak Roni. apa anda yakin dengan rencana ini?" tanya Neta sembari meletakkan beberapa berkas.
Roni meletakkan penanya, "Saya yakin," jawabnya menatap ke arah Neta.
"tapi mereka pergi bersama tuan Saga juga. Maksud saya, apa pak Roni tidak curiga kalau Tuan Saga memiliki hubungan khusus dengan Bu Anya?"
"maksud kamu apa?"
"İya. Apa pak Roni tidak melihat gerak gerik tuan Saga selama Seminggu terakhir. Beliau terlihat sangat peduli sekali kepada Bu Anya."
Neta mencoba mempengaruhi Roni dengan ucapannya. Neta memang sekretaris Roni yang sejak lama menaruh perasaan kepada Arlan, Sang COO. Neta tidak terima saat mendengar kabar jika Roni akan menjodohkan Arlan dengan putrinya, Yakni Anya. hal itu membuat Neta mencari berbagai cara untuk menggagalkan rencana pernikahan itu. kedatangan Mike sebagai partner kerja di perusahaan Roni, adalah suatu keberuntungan bagi Neta. dia berfikir jika dia bisa menggagalkan pernikahan itu melalui Saga.
"Peduli itu hal wajar. apa yang harus dicurigai?"
"Tapi pak-"
"Cukup Neta. Kamu terlalu curiga, hilangkanlah sifat burukmu itu, berfikirlah positif. Tuan Saga sekarang adalah rekan kerja perusahaan kita. jadi tidak ada salahnya kalau beliau peduli, terlebih kepada putri saya. Lagi pula, Tuan Saga juga mengetahui jika putri saya akan menikah. tidak perlu khawatir." tukas Roni dengan yakin memotong pembicaraan, Roni berjalan ke arah jendela menatap pemandangan kota yang begitu indah.
"yasudah. kalo begitu karna pekerjaan saya disini sudah beres, saya izin kembali keruangan saya. permisi"
Neta berjalan keluar dari ruangan Roni. saat berada di balik pintu neta tidak berhenti mengoceh karena dirinya gagal mempengaruhi Roni.
"peduli itu wajar. Cih.apanya yang wajar? dasar bego. udah tua susah pula dibilangin." celotehnya mendumel kesal lantas kembali ke ruangannya,
sementara itu, Roni yang masih berdiri di depan jendela, kini mulai berkata, "Semoga saja dengan ini, kita bisa semakin mempererat persahabatan dengan pesusahaan beliau" tukas Roni penuh harap.
***
__ADS_1
To Be Continued