Never Have

Never Have
Perkenalan


__ADS_3

Langit mulai mengelap karena tertutup awan hitam yang tebal, ranting-ranting pepohonan terseok-seok di tiup angin yang cukup kencang. Dedaunan kering berterbangan di udara menandakan cuaca berubah buruk.


Ku percepat laju sepeda motorku dan aku bisa merasakan beberapa titik air membasahi wajahku. Mataku tertuju pada bangunan papan yang memanjang di tikungan, ku arahkan setir motorku kesana. Aku tak mau air hujan membasahiku karena aku mudah sekali flu.


Pandangankuku terus berpendar mengelilingi tempat itu.


Warung bakso rupanya...


Aku berjalan cepat ke arah teras bangunan minimalis itu, bukan minimalis tapi Minim butget. Seorang lelaki duduk di sudut ruangan masih menikmati baksonya, dan ku lepas helmku ku letakkan di meja saji di teras.


Tak lama seorang wanita paruh baya keluar dan tersenyum padaku, aku juga membalas senyumnya. Aku masih mengenali wanita itu, tapi tampaknya dia tak mengenaliku.


"Bakso satu bik, sama teh anget satu!" pesanku.


"Tapi nunggu ya Neng!" kata wanita itu ramah,


Di mana Bude Dirah menyembunyikan wajah pengunjingnya....apa dia sudah berubah....


Aku segera duduk di meja di teras, terlihat gerimis mulai menjadi hujan, aku memperhatikan motor Honda Supra X putihku bersanding mesra dengan Honda Vixion merah yang tampak lebih gagah di sebelahnya.


Motor itu pasti milik mas-mas yang di dalam ...


"Boleh saya duduk di sini?" suara serak yang berat itu membuat ku menoleh, dia lelaki yang tadi duduk di dalam.


"Ohhhh silahkan!" jawabku, tak enak menolaknya yang sudah berinisiatif mengajakku ngobrol.


"Mbak kerja di hotel baru itu?" lelaki itu tampak seumuran denganku, wajahnya tegas dengan pembawaan yang sangat maskulin. Kulitnya sawo matang dan tubuhnya terlihat cukup tegap dan berotot.


"Iya Mas!" jawabku.


"Nama ku Kiki!" katanya, aku sempat terbengong sebentar.


Lelaki yang sok akrab, tentu saja.


"Nesa!" sahutku kemudian.


"Nesa...saja?" tanyanya lagi.


"Lebih baik begitu!" jawabku.


"Ohhhhh!" timpalnya,


Aku tersenyum karena merasa lucu dengan cara bicaranya,


"Ada yang lucu ya?" tanyanya, dia juga tersenyum padaku.


Senyumnya manis....


"Tidak!" aku masih saja tersenyum entah kenapa, aku merasa langsung akrab dengan orang yang baru saja ku temui ini.


"Ki..ki...ada cewek bening langsung di embat!" suara cempreng Bude Dirah menghentikan tawaku, dengan sigap dan telaten tangan gempalnya menyajikan semangkok bakso dan secangkir teh hangat di hadapanku.

__ADS_1


"Lagi jomblo Bude!" tanpa rasa malu lelaki itu menyahut gurauan Bude Dirah.


"Makan mas!" tawarku.


"Tadi udah kok Nesa!" katanya lembut.


Aku kembali tersenyum tertahan, mendengar caranya berbicara.


"Mbak jangan sambil tertawa nanti keselek lho!" katanya, ternyata dia tipe orang yang jahil yang suka mengoda orang.


"Aku mohon berhentilah tersenyum padaku, aku tak bisa berhenti tersenyum jika kau terus begitu!" kataku.


"Siap....aku akan diam!" katanya, dan aku tersenyum lagi.


Sambil makan aku memperhatikan Kiki yang sedang memainkan benda hitam tipis di tangannya. Lelaki ini tampan, matanya indah, hidungnya mancung dan kecil serta bibirnya yang kecil tapi penuh. Hanya saja dia mempunyai beberapa noda bekas jerawat di sekitar pipi tirusnya. Kulitnya yang sawo matang membuatnya semakin seksi, dan otot-otot yang menyembul di kedua lenganya semakin membuat kemaskulinannya memancar. Di lengan kirinya ada tato yang cukup panjang tapi tak jelas itu tato apa.


Kaus hitam ketat yang dia kenakan juga menampakkan dada bidangnya yang sangat nyaman di peluk.


Kenapa aku berfikir begitu...


Ini pertama kalinya aku merasa langsung tertarik pada seseorang yang baru aku temui sepanjang hidupku.


"Ada apa Nesa,?" tanyanya, dia pasti sadar kalau aku memandanginya dengan serius sejak tadi.


"Engak, hanya merasa kau mirip seseorang yang ku kenal!" kilahku, aku tak mungkin jujur padanya kalau aku tertarik padanya.


Tertarik...


Aku menurunkan pandanganku dan mencoba kembali fokus pada baksoku.


"Ini akun facebook ku!" katanya, menyodorkan ponsel gengamnya yang tertulis nama akun Riski Awaludin, dengan foto wajahnya di sana.


Mata kami lagi-lagi bertemu, dan aku menahan senyumku.


Aku ketahuan...


Aku mengambil ponselku di saku jaketku dan ku ketik nama itu di kolom pencarian aplikasi Facebook.


"Aku sudah meminta pertemanan!" kataku.


Dia segera mengambil ponselnya dan mengkomfim permintaan pertemanan dariku.


Dia tersenyum ke arahku dan aku juga tersenyum ke arahnya.


"Kau harus membalas pesan dariku!" katanya.


"Ok!" sahutku.


"Kau tingal di mana?" tanyanya.


"Di rumah mendiang buk Heny!" kataku.

__ADS_1


"Ohhhh, apa kamu anak gadisnya yang di kota!" tanya Kiki.


"Iya!" jawabku agak gugup, apa dia seseorang yang ku kenal.


"Mimin!" celetuk Bude Dirah, membuatku memunduk hormat ke arahnya datangnya suara Bude Dirah yang baru saja keluar dari dapur, tanpa bangun dari dudukku.


"Ya ampun ndokkkk kamu udah nikah?" tanya Bude Dirah. Aku menjawab dengan mengeleng.


"Nikahin aja nak Kiki, ni anaknya Heny, cantikkan!" ucap Bude Dirah dengan sangat antusias.


Pertama kali dalam sejarah wanita ternyinyir di desaku ini memujiku.


Kiki dan aku hanya saling menatap dan melempar tersenyum satu sama lain,


Sekarang tahun 2016 usiaku 24 tahun, dan bagi kebanyakan orang di desa ini aku termasuk golongan Perawan tua. Meski aku sudah tak perawan lagi tetap saja julukanku tak akan berubah.


Meski aku pernah 12 tahun di tempat ini semenjak aku lahir sampai lulus SD. Aku masih sangat benci dengan pandangan orang di sini.


Mereka yang suka menghakimi sesuatu dengan cara mereka sendiri, hidup di desa itu seperti hidup di hutan rimba. Jika kau tak hati-hati maka binatang yang lebih buas akan memangsamu.


Aku si Mimin anak haram yang kalian gunjingkan setiap hari, yang kalian singkirkan dari kerumunan, yang kalian jauhi seakan aku sampah. Aku telah kembali.


.


.


"Bagaimana harimu girl?" tanya ayahku di balik telvon.


"So bad!" kataku kesal.


"Wayyyy?"


"Dad...Bisakan kak Iksan yang mengurus di sini?" tanyaku, berharap.


"Untuk sekarang ngak bisa sayang, Iksan kan masih di Sumatra....bertahanlah!"


"Ok Dad, tapi....aku tak mau tingal di tempat Ibu!" kataku.


Pandangan mataku mengelilingi kamarku yang sempit dan jendela yang susah di buka karena engselnya karatan.


"Jangan manja Vanesa, berapa usiamu sekarang?" lagi-lagi aku di suruh dewasa oleh Ayahku.


"Dad....Ok, aku ngerti aku akan di sini,!" aku tau ini permintaan terakhir ibuku, tapi apa iya aku bisa bertahan di rumah kumuh ini seorang diri.


"Have fun girl!" ayahku menutup pangilannya, kenapa dia membuangku seperti ini.


Nesaaaaa....Nesaaa...Nesaaa..


Aku mendengar seseorang memangil namaku, perlahan aku berjalan ke jendela dan aku bisa melihat Kiki sedang di luar pagar rumah ini.


Jam berapa ini, kenapa dia datang kemari....

__ADS_1


__ADS_2