
Binaran mataku terus menyusuri setiap lekuk indah di wajahnya, hal itu membuat nafasnya memburu.
Apa ini pertama kalinya baginya,
"Kau tak pernah berciuman?" tanyaku,
"Pernah!" jawabnya, nada suaranya bahkan terdengar sangat gugup.
Aku tertegun saat melihatnya mengerakkan buah jakunnya, pandanganku kembali ke bibirnya yang sedikit menghitam karena nikotin. Aku bisa mencium bau rokok di nafasnya, tapi itu bukan sesuatu yang baru bagiku.
Aku menatap ke matanya yang tampak sangat berharap aku melakukan sesuatu, karena merasa cukup tergangu dengan permintaan di sorot matanya. Aku mengengam telapak tangannya dan meremasnya pelan.
Aku yakin detak jantungnya meningkat saat ini, dia masih tak mau tersenyum padaku meski aku tersenyum ke arahnya.
"Kau kenapa?" tanyaku, aku tak menyangka bermain dengan pria yang polos cukup menyenagkan.
Matanya hanya memandang ke arahku, dan seakan dia menghembuskan nafasnya karena ada aku. Aku merasa sangat penting baginya saat dia menatapku begitu, aku merasa benar-benar istimewa.
"Aku tak bisa membatalkan pertunanganku dengan Ida,!" katanya lirih, matanya berpaling dariku dan memandang ke arah jendela luar.
Kenapa aku merasa tak suka dengan tingkahnya barusan. Mengalihkan pandangannya saat di depanku, kenapa aku seanarki itu. Aku marah karena hal sepele lagi.
"Namanya Ida!" aku kembali meremas gengangamku di jemari kasarnya.
"Iya!" dia menjawab sambil menganguk pelan.
Apa semua pria yang sudah punya pasangan semenarik dia, bukan aku tertarik padanya bahkan sebelum aku tau di bertunangan. Tapi setelah aku tau dia bertunangan kenapa aku ingin dia mencampakan tunanganya.
Aku wanita yang sangat jahat...
"Kenapa kau ingin membatalkan pertunanganmu dengannya?" tanyaku.
Dia menunduk dan mengerakkan jemarinya, tangannya beralih untuk mengengam jemariku. Aku bisa merasakan telapak tangannya lebih kasar dari jemarinya dan kini aku merasa di tanganku seperti di apit dua buah batu yang kasar dan kuat.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Nesa, aku hanya mencintaimu!" pengakuan cinta lagi, dia seorang pria tapi bisa dengan mudah mengatakannya berkali-kali.
Kebanyakan pria hanya berbisik kalau ingin memgucapkan kata-kata manis itu, tapi lelaki ini tanpa punya rasa malu mengatakannya dengan mudah seperti sebuah kata sapaan.
Cinta pada pandangan pertama, dia mungkin tak kenal istilah itu atau dia tak mau mengatakannya. Tapi bagiku cinta semacam itu hanya ada di novel Fiksi.
"Kau mau mengatakannya berapa kali, aku tak tuli!" kataku, aku tak marah, tapi dia merubah ekspresi di wajahnya.
"Kau marah?" tanyanya, ohhh aku bertemu seorang casanova yang baru belajar di desa terpencil ini.
"Tidak!" kataku, dia mundur dari tempatnya berdiri dan berjalan ke luar, tentu saja aku hanya mengikutinya.
Aku juga bingung dengan jalan fikiranku, aku merasa ada dinding dia antara kami yang tak bisa ku lewati.
Aku tertenagkan oleh henbusan angin yang sejuk dan harum pegunungan, aku berjalan melewatinya yang berdiri tak jauh dari pintu paviliun.
"Apa kau mau pulang?" tanyanya, wajahnya masih sangat bingung dan gundah.
"Kau tak perlu memilih antara aku atau Ida, aku wanita yang tak bisa kau miliki seutuhnya Kiki!" kataku, aku segera berbalik kembali kelangkahku lagi.
Aku masih menyetir setelah setengah jam, aku berada di perjalanan ke kota. Kota ini masih tak terlalu ramai tak seperti ibu kota yang akan macet di siang bolong begini.
Aku memutar album Britney Spears bertajuk Glory ini adalah album terbarunya yang belum ku beli saat aku bersiap datang ke tempat ini.
Aku suka musik yang bersemangat dan bebas, bagiku semua musik Britney Spears mewakili seleraku. Meski kata ayah musik balada atau klasik lebih bagus, tapi aku suka sesuatu yang membuatku bersemangat sepanjang hari.
Seperti Kiki, saat melihatnya aku langsung bersemangat dan tak berdaya untuk menolak keindahan dan kharisma manis yang terpancar alami dari setiap gerak tubuhnya.
Aku tersenyum saat mengingat momen-momen singkat kami, baru kemarin kami bertemu dan dia sudah membuatku tersenyum tanpa alasan.
Seseorang yang membuatmu tersenyum tanpa alasan, juga bisa membuatmu menagis tanpa alasan.
Itu kata Momy ku, ibu tiriku. Dia menikah dengan Dadyku sewaktu ibuku mengandungku, ibuku wanita simpanan. Semua orang bilang begitu.
__ADS_1
Itu kenapa letak rumah ibuku jauh dari pemukiman warga, para warga jijik pada ibuku. Bagi mereka seseorang yang merusak pagar ayu adalah pendosa yang tak bisa di ampuni.
Ibuku merusak pagar ayu nya sendiri, dan yang sibuk mengunjing, tentu saja ke warga kabupaten. Tapi itulah ibuku yang hanya diam, dan selalu menerima olokan orang lain.
Aku masih membayangkan bagaimana jika aku di besarkan wanita desa itu dan tak di berikan pada Dady. Mungkin aku akan menjadi gadis terlemah di dunia.
Kiki takut dengan hal yang menimpa ibuku, dia takut di kucilkan, dia takut di olok-olok. Masyarakat yang sangat primitif.
S.e.x bukanlah dosa, s.e.x adalah hasrat yang di miliki semua orang. Laki-laki atau perempuan semua punya hasrat itu, lalu bagaimana jika kau punya keinginan untuk tidur dengan seseorang tapi tak ingin menikahinya.
Tentu saja mereka hanya akan diam...
Seperti Kiki yang salah mengartikan nafsu s.e.x nya sebagai rasa cinta, dia bahkan tak bisa membedakan apa itu s.e.x, dan apa itu cinta. Cinta atau pun s.e.x bagiku sama saja, aku tak peduli, aku juga tak bisa membedakannya.
Meski aku sudah pacaran dengan dua lelaki, dan mengenal banyak pria dari luar negara ini. Aku hanya bisa membedakan pria dalam dua golongan, pria yang bisa ku ajak bermain, atu yang tak bisa.
Dan Kiki tak masuk ke dalam ke dua golongan itu, dia membuatku bingung. Dia membuatku berfikir keras untuk meletakkan dia di golongan mana.
Apa dia tak bisa hanya berdiri di tempatnya dan aku tak perlu sepanik ini untuk memperdebatkan hal semacam ini di hatiku.
Setelah satu jam memgemudi aku sampai di pusat kota, yang tampak tak seramai ibu kota lagi-lagi.
Apa aku bisa menemukan apa yang aku cari...
Aku masuk kedalam pusat perbelanjaan terbesar di kota ini dan tentu saja tak ada toko desainer di sini. Aku menuju departemen store ternama dan menelusuri setiap sekat di sana.
Hari ini aku sama sekali tak bisa fokus berbelanja, aku mengingat pakaian Kiki yang selalu saja tampak lusuh.
Tanpa sadar aku sudah di stan pakaian pria,
Jika aku membelikan dia pakaian apa aku terlihat seperti menghinanya.
Aku tak tega melihatnya yang mengenakan kaus tanpa lengan, yang sepertinya bagian lengan itu di robek paksa.
__ADS_1
Ini hanya amal, atau hadiah, karena pekerjaannya bagus.