
"Aku ingin apa yang ada di dalam sungai tak di ubah, aku bermimpi bisa melakukan Arum Jeram setiap hari!" pintaku.
Itu mimpiku semenjak masih kecil, aku ingin menyusuri sungai ini setiap hari. Tapi aku takut ibuku marah, dia tak suka aku berkeliaran di sungai. Dia selalu saja bilang tentang mitos-mitos jawa kuno yang tak masuk akal setiap aku menyelinap pergi ke sungai.
"Baiklah!" jawabnya, Kiki kembali berkutat dengan kertas-kertas di tanganya. Mataku kembali ke arahnya yang sedang serius itu.
Apa pria selalu seseksi itu ketika sedang serius, kakak-kakak dan ayahku akan terlihat kejam kalau serius.
"Ada lagi?" tanyanya.
"Untuk saat ini, ini sudah lumayan!" kataku, apa dia tipe orang yang tak suka bercanda ketika berkerja.
Wajah tegasnya yang tampak manis itu terlihat cukup serius sekarang, tak seperti kemarin. Serasa bertemu dua mahluk yang berbeda.
Kami berputar-putar di sekitar tempat itu, Kiki dengan profesional menjelaskan setiap detail apa yang tengah di kerjakan pekerjanya. Aku fokus dan bisa menagkap apa yang ingin dia utarakan, karena dia tak memasang senyum indahnya sepanjang waktu seperti kemarin.
Aku duduk sejenak di tepi air terjun, aku bisa merasakan hembusan angin yang membawa butiran partikel air ke udara.
"Nona kau bisa basah!" kata Kiki, dia berdiri di samping bebatuan yang ku duduki.
"Aku suka di sini!" kataku sambil tersenyum ke arahnya, tapi dia tak membalas senyumanku.
Ku rasa dia memang sedang tergangu akan sesuatu hal, tapi apa...
Aku melihat para pekerja pergi dari sana, ini sudah tengah hari tentu saja waktunya mereka istirahat siang.
"Nona tak pulang?" tanya Kiki.
"Aku masih ingin di sini!" kataku.
"Disini berbahaya!" kata Kiki lagi.
"Aku hanya akan duduk di sini selama kalian istirahat, aku tak akan mencoba menyentuh apa pun!" kataku, aku memang keras kepala.
"Bagaimana kalau duduk di sana saja, kita makan siang bersama!" ajaknya.
Aku memutar bola mataku, aku tau apa yang akan ku katakan tapi aku tak mau terlalu terlihat murahan.
"Baiklah!" jawabku, akhirnya.
Aku duduk di sebuah paviliun yang sudah selesai di bangun, bangunan rumah kayu berukuran 7 × 9 ini akan menjadi salah satu kamar untuk para tamu Resort nantinya. Meski bagian dalamnya masih kosong tanpa parabot apa pun saat ini, tapi sudah terlihat kemewahan berkelas di setiap inci nya.
"Usiamu masih 22 tahun kan?" tanyaku, aku mencoba membuka percakapan.
__ADS_1
Kami duduk di meja kecil dan dua kursi yang saling berhadapan di teras paviliun itu.
"Benar!" jawabnya singkat, dia sama sekali tak menunjukkan senyumnya sama sekali.
Dia mengeluarkan sebuah buntelan yang dia terima dari gadis berkepang di pintu masuk tadi.
"Kau marah padaku, karena tak mengijinkan mu masuk ke rumahku tadi malam?" tanyaku langsung.
Akhirnya mata coklatnya memandang ke arahku, tapi segera dia turunkan entah karena apa.
Dia membuka buntelan kain merah muda itu dan berisi rantang susun yang sangat femilier tapi sudah lama tak kulihat. Rantang yang biasa di gunakan untuk bekal para petani untuk bekerja di ladang. Dulu ibuku suka menyuruhku memberikan bekal seperti ini, untuk Om Paidi adik ibuku yang selalu berkerja di ladang belakang rumah.
Dia mengeluarkan satu-persatu susunannya, dan di akhir ada nasi putih yang sengaja di bentuk hati. Aku segera tertawa tak bersuara, ungkapan cinta yang begitu sederhana.
Kiki memandang lekat-lekat bekal itu, dan aku langsung bisa menebak dari mana sumber kegundahannya berasal.
"Apa aku boleh makan juga, makanan ini terlihat hanya di siapkan khusus untukmu!" godaku. Lagi-lagi mata itu hanya menatapku beberapa detik dan meringsut lagi.
"Kau benar-benar marah soal semalam,!" aku memandangnya seolah tak percaya, bagaimana bisa pria merajuk hanya dengan hal sesepele itu.
"Bagaimana pun kau itu pria, meski kau adik temanku, kau seorang pria Kiki. Semalam itu sudah terlalu larut!" jelasku.
"Apa kau memadangku sebagai seorang pria?" tanyanya, terlukis banyak harapan di wajah tegasnya.
"Bolehkan aku menyukaimu sebagai Nesa saja,!"
Aku tertegun mendengar ucapan lelaki di depanku ini, apa maksut kata "Nesa saja".
Kami hanya saling pandang dalam diam, kenapa cinta bisa begitu sederhana.
Aku menyukaimu, dan kau menyukaiku, kita bersama.
Aku mengambil nafas panjang dan ku turunkan mataku, aku akan mengalihkan perhatiannya. Bocah ini bukan lelaki yang bisa ku ajak bercinta semalam lalu ke tinggalkan. Dia terlalu baik.
"Kelihatanya pacarmu pandai memasak!" kataku, aku mengambil salah satu sendok di gengamannya.
Aku masih ingat aku pernah makan sayuran yang di campur dengan ampas kelapa ini, rasanya enak tapi cukup pedas, aku juga mencium aroma laut di dalamnya. Tempe dan tahu coklat yang terlihat seperti di rendam kecap cukup lama dan telur ceplok yang lumayan asin.
Bisa di makan, gadis muda itu pasti berusaha keras memasak hidangan lengkap ini.
"Dia bukan pacarku!" kata Kiki, dia hanya memandangiku makan dan dia tak makan.
"Siapa pun dia, dia pasti berusaha keras memasak ini untukmu...makanlah!" kataku, seperti aku adalah pemilik sah makanan di dalam setiap rantang ini.
__ADS_1
"Dia tunanganku!" katanya dengan kepala menunduk,
Aku terdiam dan mencoba untuk tak berkomentar jahat.
"Kata Jomblo di awal pertemuan kita, hanya kiasan?" tanyaku, kenapa aku jadi menghapal perkataan orang.
Dan kenapa aku marah dengan hal seremeh itu.
"Maaf, aku tak bermaksut menipu mu, tapi aku benar-benar tertarik padamu saat pertama melihatmu di warung bakso itu!" aku bisa membaca kejujuran di setiap katanya.
"Kau tak perlu merasa bersalah padaku!" kataku, akhirnya aku bisa meredam emosiku.
"Aku mencintaimu Nesa!" katanya.
Saat aku berfikir tentang setatus, aku pasti akan memakinya.
Dasar bajingan tak tau diri, kau hanya mandor rendahan berani sekali kau mengajakku berselingkuh...
Tapi saat aku melihat betapa menariknya dia di mataku.
"Aku ingin selalu dekat denganmu, aku mencintaimu!"
Pandangan kami saling beradu, dan ingatan mimpiku semalam berputar lagi di otakku. Apakah akan sama rasanya jika bercinta dengannya secara nyata, apakah akan seindah seperti di mimpiku semalam.
Apa kucing akan menolak tuna segar ini...
"Apa kita harus pacaran jika ingin dekat?" tanyaku padanya.
Kucing tak akan menolak tuna segar ini...
"Maksutmu Nesa?" tanyanya, dia mengeryitkan dahinya dan aku tersenyum melihat ekspresinya itu.
"Kau ingin sedekat apa?" tanyaku.
Aku menyendok makanan di depanku dan ku suapkan padanya.
"Sedekat ini?" tanyaku, dia masih memandangku sambil menerima suapan dariku.
"Kau tak keberatan,?" tanyanya,
Dia berfikir apa aku adalah gadis polos yang tingal di puncak gunung, aku pernah pacaran dan pacarku seorang pria berkebangsaan Jepang. Aku dan Asahi tingal bersama selama satu tahun di Singapura saat masih bersama.
Akhirnya aku menarik lengannya ke dalam bangunan paviliun itu, aku bisa melihat dengan jelas kegelisahan di wajahnya. Mata kami saling menatap dan dia sama sekali tak bereaksi meski di dalam bangunan tertutup ini.
__ADS_1
Apa aku harus memulai duluan seperti di dalam mimpi...