
Aku masih menyetir saat warna gelap merayap menutupi angkasa, jalanan berliku dan menanjak lalu turun lagi. Aku harus esktra fokus saat sudah memasuki area Kabupaten Karang Pandan ini.
Pagar pembatas jalan yang hanya di pasang di tikungan serta rambu-rambu jalan yang minin, untung penerangan jalan masih lumayan meski beberapa lampu tampak tak menyala.
Seperti di tempat lain di Indonesia, jalanan hampir di penuhi pengendara motor. Mereka seakan menjadi penguasa di seluruh aspal hitam yang terbentang di negara ini.
Yang paling aku benci adalah motor dengan asap tebal dan bersuara melengking memekakkan telinga, mendahului laju mobilku tanpa menyalakan lampu sennya dan langsung berbelok ke dalam gang. Dengan begitu semua kata-kata kotor yang ku kenal akan keluar dengan sendirinya.
Aku sampai di depan rumahku setelah perjalanan panjang hanya untuk membeli pakaian dalam yang bukan seleraku, dan juga beberapa stel baju kasual untuk Kiki.
Aku melihat ke arah rumahku yang sudah terang karena sistem penerangan di rumahku sudah dinyalakan.
Mungkin Bibi yang melakukannya...
Aku berjalan melewati rumput pendek di halamanku dan melewati pintu pagarku yang masih terbuka, aku melihat ke arah rumah pondok yang hanya berjarak 50 meter dari rumahku.
Sebelum fikiranku melalang buana ke area terlarang, aku memutuskan untuk memberikan apa yang ingin aku berikan. Memberi beberapa potong pakaian kepada adik teman lamaku, bukan sebuah perbuatan berdosa.
Langkahku sampai di depan pintu rumah papan itu, aku mengumpulkan seluruh nafasku di dadaku dan mengeluarkannya bersamaan.
Aku gugup....
Tok tok tok....
Ku ketuk pintunya, dan tak lama seseorang membukanya.
Aku tercengang, aroma sabun murah segera menusuk hidungku. Dia pasti mengunakan satu batang sabun untuk mencuci seluruh bagian di tubuhnya, karena hanya satu aroma yang bisa ku cium darinya. Aroma jeruk yang kuat.
Dia tak mengunakan sabun cuci piring untuk mandi-kan.
"Nesa, kau sudah pulang?" tanyanya, nafasnya yang segar bau mint.
"Iya,!" jawabku.
Kami saling berpandangan sejenak, entah apa yang mata kami bicarakan tapi dia seolah mengerti apa yang ku inginkan.
"Masuklah!" katanya lirih.
Dia terlihat baru saja mandi, sehelai handuk masih melilit di pingangnya. Rambutnya yang masih basah sangat berantakan dan sisa-sisa air masih membasahi tubuh atletisnya.
Aku terpesona lagi...
"Ok!" jawabku, aku akan melepas sepatuku karena dia menyambutku tanpa alas kaki.
"Tak perlu di lepas, lantainya kotor!" dia menunduk dan mencengkeram lembut lenganku, alhasil posisi kami sangatlah dekat.
__ADS_1
"Aku belum membersihkan lantainya setelah membuat sesuatu" kata Kiki dengan suara lembut dan seraknya.
Aku kembali berdiri dan memandang ke seluruh ruangan, untuk memgalihkan perhatianku dari dada bidangnya yang ingin sekali ku rengkuh dan ku tandai menjadi hak milikku.
Beberapa papan tampak di tata tak rapi di lantai, alat-alat tukang yang masih di berserakan dan serpihan kayu yang berhamburan.
Pandanganku beralih ke sebuah karya yang akan dia buat, aku mendekati karya yang belum rampung itu dan menyentuh serta memcoba memahami apa yang mau dia tuangkan di karyanya.
Aku tersenyum membaca sesuatu di karyanya, dia orang yang teliti dan sangat perhatian.
"Aku akan berganti pakaian di kamar mandi sebentar, kau jangan pergi!" kata Kiki yang sudah berdiri 5 meter dariku dia membuka almari pakaiannya dan mengambil beberapa lembar pakaian di sana.
Ruangan yang mungkin berukuran 7×5 ini hanya di isi satu ranjang kecil dan almari pakaian usang. Meja di pojok ruangan dan beberapa piring serta gelas yang hanya di letakkan tengkurap di atas meja tanpa rak dan meja kecil di dekat ranjang.
Apa ini tempat tinggal manusia?
Kiki keluar dari kamar mandi yang berada di dekat meja tempat piring. Dia mengunakan kaus tanpa lengannya kemarin dan celana olahraga hitam pendek.
Dia meletakkan handuknya di gantungan paku yang tersebar di beberapa bagian dinding rumah usang ini.
"Aku tadi ke pusat perbelanjaan, dan aku melihat beberapa pakaian yang cocok untukmu. Jadi aku membelinya!" kataku, ku sodorkan kantung kresek berlogo nama toko Ritail yang paing terkenal di negara ini.
Dia memandangku dengan wajah yang aneh, aku tak menyingungnya kan. Apa dia tak suka saat seorang wanita membelikannya sesuatu, apa itu dia angap sebagai penghinaan.
"Lain kali, kau tak perlu melakukan ini!" katanya, aku bisa merasakan kesedihan di sana.
Dia mengangapku menghinanya....
Benar, aku menghinanya. Aku pasti telah melukai harga dirinya sekarang. Apa aku akan tetap di sini menunggu dia meledak.
"Aku tak bermaksut...., aku akan pulang!" kataku, aku berjalan menuju pintu dan Kiki masih berdiri mematung dan tak mencoba mencegahku.
.
Dia tersingung karena hal semacam itu, kalau tak mau ku belikan kenapa memakai pakaian yang mengerikan setiap kami bertemu.
Tidurku malam ini, apa akan di temani dia di dalam mimpi.
Kurasa tidak....
.
.
.
__ADS_1
.
Embun di dedaunan menetes ke tanah pertanda udara dingin berubah menjadi hangat. Sang Surya perlahan bergerak naik ke cakrawala, langit biru cerah dengan semburat putih karena awan belum terusir oleh angin
Kiki masih sibuk dengan palu dan alat pahatnya, dia terus mengetukkan palunya dengan pelan dan hati-hati ke papan yang di berdiri tegak di hadapannya.
Entah apa yang dia kerjakan, tetesan peluh di keningnya beringsut melewati dagunya yang tegas. Mata elangnya terus menatap tajam ke hasil kerjanya, akhirnya dia menghentikan pukulan palunya.
Wajahnya menunduk sedih, saat dia mendongak lagi, terlihat matanya berkaca-kaca. Hatinya sedang gundah.
Wanita itu sudah menyusup ke dalam hatinya, bahkan di detik pertama saat mereka bertemu.
Bagaimana pun dia tak bisa kabur dalam situasi ini, dia harus memendam hasrat terlarangnya dengan Nesa.
Dia sudah memutuskan, dia akan berhenti mencintai Nesa.
Seperti tunas yang di petik tepat saat dia tumbuh. Seperti saat kau kehausan tapi tak boleh minum padahal ada minuman di sebelahmu. Ini sangat berat tapi harus di lewati oleh pemuda itu.
Tok Tok Tok
Semburat harapan terpancar di wajah Kiki yang baru saja sadar dari lamunannya.
Nesa...
Langkahnya segera mendekat ke pintu dan dengan cepat tangan kekar itu menarik gagang pintu yang memang tak di kunci olehnya.
Wajah tegas itu tampak sedikit kecewa, tapi dia segera menyembunyikan ekspresinya. Dia tak mungkin memperlihatkan kekecewaan di wajahnya di depan tunangannya Ida Permatasari.
"Mas, udah masak?" tanya Ida langsung.
Gadis berkepang yang lagi-lagi membawa rantang yang di buntel kain usang.
"Kau tak perlu repot-repot Ida.!" Kiki mempersilahkan tunangannya itu masuk.
"Mas, ngak tidur lagi,?" tanya Ida yang sudah berdiri di depan karya yang di buat oleh Kiki.
"Bukankah ini wanita yang mas bilang bos pemilik Hotel,!" kata Ida yang tengah melihat pahatan yang seperti lukisan di atas papan yang menghadap ke arahnya.
"Dia memintaku membuatkannya, lumayan untuk tambahan penghasilan!" kata Kiki bohong.
"Iya, Mas mandi sana, pasti semalaman Mas ngak tidur karena mengerjakan ini!" kata Ida
Gadis ini sudah mengenakan seragam sekolahnya, dia sekolah di dekat sini dan gadis yang di tunanggi oleh Kiki ini masih berusia 18 tahun.
Tapi sebagai wanita desa Ida sudah sangat terampil mengurus rumah dan juga Kiki yang masih bersetatus sebagai tunangannya.
__ADS_1