Never Have

Never Have
Jadilah adikku


__ADS_3

Sebuah rekor untukku, hanya bergengaman tangan dengan lelaki yang begitu menarik perhatianku bahkan setelah tiga kali bertemu.


Pagi ini aku bangun lebih pagi, mungkin karena aku tidur sejak masih sore. Aku tak suka udara pagi yang dingin dan menusuk, jadi aku hanya melihat pemandangan di depan rumahku dari balik jendela kaca yang di lindungi terali besi dari dalam.


Aku tak suka bangun sepagi ini, tapi rasa kantuk di mataku sudah musnah. Aku baru ingat tentang akun facebook kiki, aku segera ke kamar dan mengambil ponselku.


Sudah lama sejak aku putus dengan Asahi, aku tak pernah membuka lagi akun media sosialku lagi. Aku membuka akun itu lagi dengan kata sandi dan alamat emailku.


Ternyata Kiki mengirim cukup banyak pesan teks di inbok aplikasi itu. Segera ku buka, dan ku baca satu persatu pesan teks yang dia kirim dan di akhir dia mengirim sebuah kalimat.


Trimakasih....pakaianya aku suka.


Senyumku langsung menegembang, aku senang hanya karena hal sepele semacam ini. Ku rasa aku benar-benar tak bisa mengabaikannya.


Jika pun aku main-main dengannya dia juga masih punya tunangannya untuk bersandar saat ku campakan nanti.


Kita akan bermain sepuasnya Kiki, tunggu aku.


Aku berjalan ke kamarku dan mengambil mantelku di almari, aku memilih yang paling tipis. Siapa yang memenyiapkan begitu banyak mantel padahal aku tak menetap di kutub.


Aku baru ingat my mom yang menyiapkan semua yang ada di sini untukku, termasuk renovasi bangunan rumah mendiang ibuku yang di buat ulang dengan gaya Amerika minimalis.


Aku keluar di cuaca dingin ini, tapi langkahku terhenti saat seorang gadis berseragam SMU yang rapi menaiki sepeda jengki usang dan kepang dua yang khas itu.


Itu pasti Ida...


Aku kalah selangkah, tapi hal ini lebih baik dari pada Ida melihatku sedang menindih tubuh Kiki di atas ranjang kecilnya dengan tanpa busana sama sekali.


Tentu saja aku harus kembali ke dalam rumah, aku tak mau mati karena kedinginan.


Aku menyalakan mesin pembuat kopi dan membuat secangkir untukku sendiri, aku membaca sebuah buku motifasi bisnis yang sudah menjadi santapanku sejak SMP. Meski awalnya aku bingung bagaimana mengurai bahasa dalam buku-buku semacam ini, tapi aku tak menyerah untuk memahami sesuatu.


Mungkin hanya itu kelebihanku, aku di lahirkan untuk selalu bisa memahami apa pun, bahkan aku bisa faham apa yang mungkin Ida dan Kiki lakukan di rumah papan yang reot itu.


Aku tak perlu berfikir untuk memhami sesuatu, karena itu aku juga faham saat Asahi meminta putus setelah 2 tahun pacaran dan berbisnis bersama.


Aku faham kedua orang tuanya yang tak ingin anaknya tingal jauh dari mereka, aku faham kenapa Asahi lebih memilih orang tuanya dari pada aku, aku faham kenapa dia langsung menikah dengan gadis jepang yang tingal tak jauh dari tempat tingalnya.


"Kenapa kau tak marah Nesa?" tanya Ikhsan.


"Kenapa aku harus marah, apa jika aku marah Asahi akan mencintaiku lagi?" itu jawabanku.


Jawabanku tak salah, benar-benar tak salah.

__ADS_1


Tapi aku sedikit marah, saat melihat gadis kepang itu tadi. yaaa sedikit.


Hari ini aku akan melihat perkembangan pembangunan di area Resort. Area yang sudah hampir 50% di bangun sejak satu tahun yang lalu. Aku sudah ke sana sekali dan hasil kerja yang sangat menajubkan.


Resort ini akan di bangun hanya untuk berlibur orang-orang dengan keuangan yang mapan, seluruh bagunan di pastikan memgunakan material yang paling baik. Aku bukan arsitek atau apa aku ke sini hanya menuruti perintah Dedy untuk melihat-lihat perkembangan pembangunan, aku tau dia juga pasti sudah mengutus orang lain untuk pekerjaan itu.


Setelah putus dengan Asahi aku tak mau pacaran dengan siapa pun lagi, aku hanya ingin bersenang-senang. Karena itulah aku di tarik ke tempat ini, Dady tak suka jika aku menjadi wanita yang liar.


Alasan apa pun tak bisa ku katakan, Dady ingin aku menjalin hubungan entah itu dengan siapa dia tak peduli. Dia ingin aku kembali normal seperti sebelum aku putus dengan Asahi. Tapi aku yakin jika aku menyodorkan Kiki ke wajahnya, Dady akan langsung menolak.


Suamiku harus seseorang yang setidaknya tak pernah memakai kaus yang lengannya di robek paksa.


.


.


.


.


Hari ini aku tak melihat Kiki di tempat kerja atau pun dirumah, dan aku malas untuk berkunjung ke gubuk reotnya. Saat di sana aku merasa tidak nyaman tempat yang sempit dan kumuh serta banyak debu.


Aku berbaring di kasurku dan terdengar suara ponselku. Aku mendapat pesan teks dari Kiki.


Aku segera mengetik jawaban untuk pertanyaanya.


Belum...


Aku menunggu cukup lama untuk menerima balasan darinya.


Aku punya sesuatu untukmu, boleh aku ke rumahmu....


Aku terdiam sejenak, dan berfikir.


Ok...


Aku mengetiknya dengan hati-hati.


Apa aku memberinya sedikit jalan untuk mendekatiku. Atau aku yang sudah tak bisa menahan rindu.


Aku terdiam di posisiku cukup lama, kenapa aku begitu bingung. Ini bukan kali pertama ada pria datang ke rumah, dan ini bukan pertama kalinya aku dekat dengan pria.


Telingaku mendengar pangilannya dari luar, aku berjalan cepat menuju pintu depan dan segera ku langkahkan kakiku ke halaman untuk menyambutnya.

__ADS_1


"Kau sudah mau tidur?" tanyanya, mungkin dia melihat aku sudah mengunakan dress tipis untuk tidur.


"Tidak juga!" jawabku.


Aku segera membuka pagar karena Kiki terlihat membawa sesuatu yang berat di kedua tangannya.


"Apa ini?" tanyaku.


"Hanya sebuah pahatan, semoga kau suka!" kata Kiki, dia mau memyerahkanya padaku.


"Ini terlalu berat untukku!" kataku,


"Boleh aku masuk?" tanyanya sebelum melewati padar besi yang sudah ku buka.


"Silahkan!"


Kiki meletakkan papan besar itu di lantai dan di sandarkan di dinding. Aku berjogkok untuk melihat dengan jelas.


Kiki membuat seketsa diriku dengan cara memahat papan kayu yang lebar itu.


"Kapan kau membuatnya ini indah sekali!" kataku, tanganku masih meraba betapa halusnya detail pahatannya.


"Aku membuatnya dua malam!" kata Kiki.


"Wow...!" Aku berdiri dan memeluk tubuh kekarnya, tubuhnya tersentak tapi tak mendorongku menjauh.


"Maaf, Trimakasih!" kataku.


"Sama-sama kau juga membelikan banyak baju untukku!" Dia tak tersenyum senang ketika mengatakannya.


"Apa kau tsrsingung saat aku melakukan hal itu?" tanyaku, dia memandang wajahku.


"Tidak,!" dia mengelengkan kepalanya.


"Kau tampak tersingung!" desakku.


"Seorang wanita hanya boleh membeli baju untuk lelaki yang sudah menjadi keluarganya!" kata Kiki, dia kolot sekali.


"Kau keluargaku, kau bisa jadi apa saja asal kau mau!" kataku dengan tawa bahagia, ternyata dia tersingung hanya karena sopan santun.


Kiki lagi-lagi hanya diam,


"Jadilah adikku, aku tak punya adik!" kataku.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau!" katanya dengan penuh penekanan.


__ADS_2