
"Kenapa?" tanya Kiki, dia tak bisa menyembunyikan kegelisahan di hatinya.
"Nesa bilang dia selalu ingat ibunya ketika tingal di sini, kau tak perlu merasa bersalah Kiki. Bibi yakin Nesa pindah bukan karena kamu!" jelas Bik Karti.
Tapi Kiki tau, alasan Nesa pindah dari sini adalah dia. Meski begitu Kiki juga tak tau apa alasan tepatnya Nesa menghindarinya.
"Bibi pulang dulu Kiki, jangan merasa bersalah ini bukan salahmu anak baik!" kata Bik Karti sembari melengangkan kakinya keluar dari kediaman Nesa.
Setelah kepergian Bik Karti, Kiki segera masuk dan mengambil ponselnya di dalam tas ransel yang biasa dia gunakan untuk berkerja.
Dengan perasaan cemas dia mengetik pesan untuk Nesa. Tangannya setengah gemetar karena fikirannya sedang tak tenang.
Tapi Kiki tak tau harus menulis apa di sana, setiap kata yang dia tulis dia hapus lagi. Dia tak ingin salah mengirim pesan yang membuat Nesa semakin membencinya.
Tubuh kekar itu terduduk lemas di sofa ruang TV rumah Nesa, dia memukul dadanya dengan lengannya beberapa kali. Tanpa terasa air mata keluar dari pelupuk matanya.
"Kenapa aku begini?" tanya Kiki pada dirinya sendiri.
"Apa yang harus ku lakukan!" dia terus bertanya tanpa ada yang memberi jawaban untuknya.
Tangisnya mulai pecah, dia terisak semakin keras. Ingin rasanya dia mencari Nesa dan menanyakan alasannya secara langsung. Tapi hal itu pasti akan membuat Nesa semakin membencinya nanti.
.
.
.
.
Suara burung berkicau membangunkanku, aku tidur masih mengenakan kemeja dan celana kainku. Ku sibakkan selimutku dan ke ikat rambutku dengan ikat rambut yang berhasil ku raih dari meja sebelah ranjangku.
Aku turun dan ku lihat jam di dinding, jam 07:00 pas. Langkah kakiku ku arahkan ke ujung ruangan dan ku buka jendela di sana. Sinar matahari pagi menyengat wajahku, aku menyeryit untuk menghalau sinar yang masuk ke mataku.
"Pagi yang indah!" gumamku, tanpa kegelisahan dan tanpa Kiki.
Aku nemesan sarapan dari balik pangilan telepon kabel di kamarku, aku minta nasi goreng dan telur cepok.
"Tidak jangan itu, aku ingin roti bakar dan sedikit selai kacang!" ralatku.
"Baik nona, ada lagi?" tanya pelayan di balik telepon.
"Apa kalian punya segelas capucino?" tanyaku.
"Tentu saja kami punya!" kata pelayan itu mantap.
"Ok aku mau segelas!" kataku.
Ku tutup pangilan telepon dan ku remas rambut bagian depan kepala ku. Aku frustasi, kenapa aku masih saja berfikir tentang kebersamaan semu itu.
__ADS_1
Segelas air putih ku tengak untuk menyapu dahaga di tengorokanku. Aku segera mandi dan bersiap untuk memeriksa pekerjaanku, saat aku selesai mandi aku melihat sarapanku yang sudah siap di salah satu meja.
Aku makan di dampingi suara televisi yang menayangkan berita terkini, aku melihat seksama pantulan diriku di cermin. Aku memandang lekat-lekat wajahku yang terbingkai rambut yang masih basah, dan aku mengingat kembali bagaimana ekspresi Kiki ketika dia bilang dia mencintaiku.
Tiba-tiba aku punya kekuatan untuk menolak sebuah gejolak yang begitu mengebu ini. Apa karena suasana desa yang syarat akan ketabuan di mana pun aku berada. Jadi aku sedikit punya malu sekarang. Aku tak tau itu bagus apa tidak, tapi aku merasa aneh. Benar-benar aneh.
.
.
.
.
Satu hal yang tak bisa ku hindari yaitu pekerjaanku, aku harus pergi ke sana. Dady memintaku mengambil foto atau vidio di semua lokasi pembangunan.
Hari itu aku datang di lokasi pembangunan gedung utama, aku banyak memotret. Setelah ku lihat-lihat aku cukup pandai dalam hal fotografer ternyata. Gambarku cukup bagus dan fokus, aku masih menenteng kameraku dan menyusuri area di bimbing oleh mandor di sana.
"Nona Nesa coba lihat di bagian ini!" mandor itu membawaku ke jendela besar yang nantinya akan di buat untuk lestoran hotel.
"Lihat dari sini pengunjung bisa langsung melihat air terjun!" kata mandor itu.
Aku hanya tersenyum biasa saja, aku mengambil gambar air terjun itu dari sana dengan beberapa bidikan.
Seharian aku di area itu, naik turun tangga dan membuat kakiku sangat pegal. Sore itu aku menghubungi bibi tapi dia tak menjawab pangilanku, aku ingin mampir ke rumahnya untuk sekedar beristirahat.
Suara itu segera membuatku salah tingkah, itu suara Kiki.
"Belum!" jawabku.
Dia menghampiriku yang masih duduk di balik kemudiku dan belum menyalakan mesin mobilku.
"Siapa yang kau hubungi?" tanya Kiki, dia sepertinya sudah memperhatikanku dari tadi.
"Bibiku!" jawabku jujur.
"Sudah sore aku harus bergegas!" kataku.
Aku tak suka melewati jalan berkelok tajam dan menurun di saat hari sudah petang. Itu sangat menyeramkan.
Aku menyalakan mesin mobilku, dan melambaikan tanganku ke arah Kiki. Aku tak harus mengabaikan dia, yang salah itu aku, yang menyukainya aku, dan aku menghindarinya sekarang.
Aku tiba di kamar hotelku sudah lebih dari jam 07:00 dan aku memesan makan malam. Malam itu aku memesan steak daging setengah matang dan juga sebotol wine.
Aku menikmati makananku di kamar hotelku, aku sekarang jadi pendiam yang suka mengurung diri lagi. Aku tak suka berkeliaran dan memamerkan kecantikanku pada dunia.
Aku sudah menghabiskan setengah porsi dagingku, tapi seseorang menghubungiku dengan nomer baru. Aku ragu untuk mengangkatnya, tapi akhirnya ku angkat.
"Hallo!" sapaku duluan, aku diam selama beberapa detik dan baru berbicara setelah tak ada suara apa pun di balik sambungan telepon ini.
__ADS_1
"Ohhhh orang iseng!" gumamku, aku hampir mengeser ikon merah di ponselku.
"Aku Kiki!" jawab orang itu.
"Kau, ada apa?" tanyaku.
Dia tak tau nomor ponselku, mungkin dia minta pada bibiku.
"Tidak, kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Tentu saja!" jawabku.
"Kau sudah makan!" tanyanya.
"Ini aku sedang makan!" jawabku.
"Kau makan apa?" tanyanya.
Dia aneh kenapa tanya aku makan apa. Kami tak sedekat itu untuk saling bertanya hal sedetail ini.
"Daging!" kataku.
"Ohhhhh, apa kau sangat sibuk setelah makan?" tanyanya.
"Kenapa!" tanyaku.
"Tidak papa, lanjutkan makanmu!" kata Kiki.
"Baiklah!" jawabku.
Aku diam sejenak dan mengelengkan kepalaku, dan ku lanjutkan acara makanku sambil memikirkan pertanyaan-pertanyaan Kiki tadi.
.
.
.
.
Kiki duduk di sebuah lestoran tenda pingir jalan, tepat di depan hotel yang di tempati Nesa.
Pria ini mengikuti mobil Nesa untuk sampai di sini, segelas kopi hitam panas dan sebatang rokok menemaninya malam ini.
Dia tampak seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainannya, dia bingung harus melakukan apa. Mencari atau membiarkan.
Dia takut jika dia mencari dia tak bisa pulang, dan jika dia membiarkan dia akan sangat kehilangan.
Wajahnya menatap ke depan dengan pandangan kosong, dia tak pernah segila ini sebelumnya. Karena ini pertama kalinya dia merasakan getaran kupu-kupu terbang di dadanya.
__ADS_1