Never Have

Never Have
Pintu neraka akhirnya terbuka


__ADS_3

"Ada apa?" tanyaku, aku belum membuka gembok di pagar besiku.


"Apa kau tak lapar?" tanyanya, waktu menunjukan jam 10:00 malam, dan lelaki ini datang membawa kantung kresek hitam yang entah isinya apa.


"Tidak!" tolakku, aku masih menyisakan sedikit akal sehatku. Aku masih bisa berfikir bagaimana jika lelaki ini mau berbuat jahat padaku.


Aku melihat perubahan ekspresi di wajahnya, dia terlihat kecewa.


"Apa kau tak ingat aku?" tanyanya. Aku hanya memandangnya semakin intens.


"Aku Iki, adiknya Mbak Wahyu!" katanya, aku baru ingat dia adik dari sahabatku.


*Kenapa aku sama sekali tak mengenalinya, terakhir aku melihatnya 1*3 tahun lalu, saat dia masih berusia 9 tahun...


"Kenapa kau tak ikut pindah?" tanyaku, kami sudah di dalam rumahku.


Desa terpencil ini akan di sulap menjadi sebuah wisata dan Resort pegunungan untuk kelas elite dan semua tanah di sini sudah di beli perusahaan Ayahku.


"Aku salah satu mandor di proyek pembangunan Resort di desa ini!" kata Kiki dengan senyuman yang mengembang.


Alasan tak punya kompor membuatku luluh dan mengijinkannya masuk, dia sekarang sedang sibuk memasak mie rebus di dapur kecilku.


"Maaf aku tak mengenalimu!" kataku.


"Saat tante Heny meningal, kenapa kau tak pulang?" tanyanya,


"Aku terlambat di kabari, dan waktu itu aku sedang tak di Indonesia!" kataku Jujur,


Aku duduk di meja makan kecil di ruangan yang sama, dari sana aku memperhatikan Kiki yang sedang memasak.


Seksi...


Aku meraih keningku dengan satu telapak tanganku, apa yang baru saja ku fikirkan. Dia adik sahabatku semasa SD.


"Ada apa?" tanyanya, dia menoleh ke arahku, meja ini terletak di samping dapur kecil itu.


"Tidak!" jawabku,


"Kau yakin tak lapar?" tanyanya lagi, sekali lagi senyumnya melemahkanku.


"Boleh!"


Pandangan Kiki kembali ke arah panci di atas kompor dan aku bisa leluasa memperhatikannya lagi.


Kenapa dia sangat menarik....

__ADS_1


Gerakan tubuhnya ketika memasak, lengannya yang kekar memegang gagang panci. Gerakannya saat memutar sepatula di dalam panci, Ekspresi seriusnya saat membuka bungkus-bungkus mie instan. Kenapa hal itu sangat menarik.


Apa aku sedang di Fase Okulasi....


Hormon kewanitaanku sedang naik...


Bau sedap bawang tercium di hidungku, Kiki sudah meletakkan panci berisi mie itu di atas meja makanku setelah melapisinya dengan selembar serbet kain di bawahnya.


Tak lupa lelaki itu juga mengambil dua mangkuk dan dua pasang sendok garpu di rak serta dua botol air mineral dari dalam kulkas.


"Trimakasih!" kataku lembut.


"Sama-sama!" Jawabnya.


"Sekarang Wahyu tingal di mana?" tanyaku, aku mencoba mengalihkan fikiran nakalku.


"Di kecamatan lain!" Jawabnya, dia menyendok mienya dengan garpu dan meniupnya perlahan.


Sejak kapan pria bisa se seksi itu saat meniup sesuatu....


Aku memalingkan wajahku dan tak sengaja aku mengibas-ngibaskan telapak tanganku karena merasa gerah, apa lagi Kiki saat ini hanya memakai T-shirt tanpa lengan dan celana Bokser.


Penampilan maskulinnya yang semakin membuat jantungku tak bisa berhenti berdegup kencang, di tambah Rambutnya agak berantakan dan masih sedikit basah. Bau sabun batangan masih melekat di tubuhnya dia pasti habis mandi lalu datang ke sini.


"Ngak papa kalo aku pangil Nesa aja, kamu kan sepantaran sama Mbak Wahyu?" tanya Kiki, aku segera mencoba fokus dengan obrolan yang di mulai.


"Apa kau sakit?" tanya Kiki yang menajamkan pandangannya pada wajahku.


"Ngak, hanya sedikit panas!" alasanku.


Kiki berdiri dan berjalan menuju meja kompor, dia mengambil sesuatu dan berjalan kembali ke dekatku.


Tanpa permisi Kiki sudah meraih rambut panjangku dari belakang tubuhku, seketika tubuhku tersentak karena sentuhan mendadaknya itu.


Aku bisa merasakan sentuhan jemarinya di area telinga dan tengkukku. Tubuhku merinding, geli tapi aku berusaha tak mendesah dan bergerak.


"Bagaimana apa masih panas?" di bertanya sambil memiringkan tubuhnya agar dia bisa melihat ekspresiku.


Dia menali rambutku....


"Ini lebih baik!" jawabku.


Aku kikuk di depan seorang pria yang bahkan lebih muda dariku....


Dia kembali duduk di hadapnku dan tersenyum manis sebelum melanjutkan makannya.

__ADS_1


"Kau punya leher yang indah, kau sangat cantik saat rambutmu di ikat begitu!" puji Kiki.


Apakah dia merayuku...


Apa malam ini akan terjadi sesuatu di antara kami berdua...


"Trimakasih!" kataku, aku bukan mencoba sok polos. Tapi bercinta saat pertama bertemu bukan lah gayaku.


"Jika masih panas, bergantilah pakaian yang lebih tipis!" kata Kiki.


Dia sudah berniat untuk bercinta dengan ku malam ini....


Aku membuka Sweater yang kukenakan di depannya, tersisa tanktop tipis berbahan satin berwarna cream. Sebuah kebiasaan untuk tak memakai bra di malam hari untukku.


Aku bisa melihat mata Kiki berbinar melihat pemandangan yang ku suguhkan, dia mulai merubah sedikit posisi duduknya. Aku jadi ingin mengodanya.


Aku menyendok mie di mangkuk dengan garpu dan ku tiup sebentar, ku sruput helaian mie yang panjang itu perlahan-lahan. Bola matanya masih mengarah padaku dan aku bisa melihat jakunnya bergerak karena menelan silivanya sendiri.


"Apa kau tak punya pacar Nesa?" tanyanya, Kiki benar-benar sudah tergoda dengan pesonaku.


"Apa kau akan mundur jika aku punya pacar?" tanyaku, langsung.


Manik matanya mencari guratan keraguan di wajahku, beberapa detik kemudian dia menurunkan pandangannya. Tampaknya dia tak menemukan segurat pun keraguan di wajahku.


"Kau yakin padaku?" tanyanya, aku bisa mendengar getaran nafsu di suara seraknya.


Apa aku yang harus memulai....


Mbak Wahyu maaf aku telah menodai adikmu....


Aku menarik panci mie yang sudah mulai dingin ke arahku, dan mangkuk mie Kiki yang masih separuh. Aku berdiri dan berjalan ke arah lelaki yang sudah gemetar pelan menahan gejolak di dadanya.


Aku mengelus wajahnya perlahan, nafas lirihnya terdengar menderu seperti kereta yang tengah melaju cepat. Matanya yang sudah penuh dengan harapan kepuasan, dan bibir ramunnya yang agak menghitam karena merokok, sudah menunggu kecupan-kecupan mesra dariku.


"Mau menikmati malam ini bersamaku di sini?" tanyaku,


Kiki tak menjawab, tak juga memberi kode, tapi tubuhnya sudah tak bisa menampung hasrat lelaki dewasanya.


Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan ku kitari wajah tegas itu perlahan dengan kecupan-kecupan mesra yang lembut.


Sebuah kecupan ku akhirnya mendarat di bibirnya perlahan, Kiki mulai bereaksi dia menarik wajahku dan mengimbangi ciumanku di bibirnya. Dia berdiri dan mengangkat tubuhku rampingku ke atas meja, kedua tangannya mulai berkeliaran di area dadaku yang hanya tertutup sehelai kain satin tipis.


Ciumannya tak berhenti terus ******* dan mengejar lidahku yang sengaja ku mainkan agar dia gemas, tangannya kini meremas-remas pelan dadaku. Membuatku mendesah pelan.


Kiki melepas bibirnya dariku, dan menarik tanktop satinku ke atas. Dia melepasnya dan melempar kain tipis itu entah kemana.

__ADS_1


Kini leher jenjangku yang jadi sasaran bibir dan lidahnya, aku hanya bisa mendesah nikmat dan mencengkeram rambutnya hinga berantakan.


Pintu neraka akhirnya terbuka...


__ADS_2