Never Have

Never Have
Mimpi Erotis


__ADS_3

Manik mata kami kembali bertemu, enggahan nafas yang tersengal kami saling berhembus dan menyapu udara di sekitar. Pandangan penuh nafsu kami mengetarkan dada kami yang sudah kembang kempis menahan gejolak dewasa ini.


Kiki melepas T-shirt tanpa lenganya dan memperlihatkan dada bidangnya yang cukup berotot. Usianya masih 22 tahun tapi, kenapa tubuhnya bisa seindah ini.


Aku sudah tak bisa menahan nafsuku untuk membalas rangsanganya, aku membalikan posisi kami. Dia yang kini terhimpit di antara meja dan pahaku saat ini.


Kecupan ku segera mendarat ke rahang tegasnya dan seluruh leher nya yang menegang karena menahan rangsangan yang ku berikan.


Tapi lenguhan kenikamatan itu keluar juga "Akhhhh!" pekiknya beberapa kali, membuat semangatku semakin membara untuk membuatnya terbang.


Ku telusuri seluruh dada dan perutnya dengan ciuman dan lidahku yang menari-nari, wajahnya kini hanya ada eskspresi pasrah akan semua rasa nikmat.


Aku tersenyum kearahnya, kedua tangannya meraih celana tidurku. Tubuhku tanpa sehelai benang pun sudah dia tindih di atas kasur kamarku.


Dia masih sibuk menciumi setiap senti tubuhku hinga tubuh rampingku mengelinjar menahan kenikamatan.


Kluntiang....kluntiang....kluntiang.


Mataku mengerjap kaget, udara terasa hangat dan beberapa tetes peluh membasahi keningku.


Aku memimpikan hal erotis dengan pria yang baru saja ku temui...


Aku bangun dan menuju dapur, ku seka tengorokan keringku dengan segelas air mineral. Aku berjalan pelan ke depan dan menyingkap horden di jendela.


Hari sudah terang, dan kulihat angka yang di tunjuk jarum jam sudah di angka 7. Aku kembali melihat keluar karena sesuatu menganguku.


Lelaki itu berdiri di depan pagarku...Lagi.


Semalam aku tak mengijinkannya masuk ke dalam rumahku, dan aku malah memimpikan hal erotis untuk pertama kalinya.


Aku menarik nafasku dalam-dalam ku seka tengkukku yang merinding karena fikiran kotorku dan aku segera berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap untuk berangkat berkerja.


Setelah mandi dengan masih mengunakan kimono mandiku aku memandaang ke halaman belakang rumah ibuku ini dari jendela lapang yang terbentang cukup luas dan aku membuka pintu belakang.


Ku hirup udara segar pegunungan, dan ku sapu seluruh pemandangan hijau di taman itu. Meski sudah satu tahun ibuku meningal rumahnya masih di jaga dengan baik oleh bibiku.

__ADS_1


"Nes udah bangun!" sapa wanita paruh baya yang baru saja masuk dan membawa tas belanja yang di penuhi sayuran.


"Udah Bik!" jawabku,


"Kamu ngak takut sendiri di sini, kalau takut biar Ningsih aku suruh tingal di sini!" kata Bibiku, Ningsih adalah anak perempuan bibiku, mungkin usianya 13 tahunan.


"Ngak usah Bik!" jawabku.


"Ohhh iya kalau ada apa-apa kamu bisa ke pondok yang sana itu....itu pondok untuk mandor, setiap malam mas Kiki selalu jaga di sana!" jelas Bibi,


Sebagian dari desa ini sudah rata dengan tanah, hanya ada beberapa rumah di area kediaman ibuku ini yang masih berdiri. Karena dulu area ini adalah area pingiran desa jadi masih banyak rumah yang terbuat dari kayu.


Pondok yang di tingali Kiki mungkin adalah pondok yang di buat warga di bekas ladang pertanian.


"Iya bik!" aku segera berlalu ke kamarku untuk besiap.


Aku memandang ranjangku yang masih berantakan, aku membayangkan lagi mimpiku semalam.


Vanesa masih bayak lelaki lain....jangan dia...


Aku yang biasanya cuek kenapa sekarang memikirkan hal-hal semacam gunjingan orang, karena aku teringat betapa sengsaranya aku dulu saat di cap sebagai anak Haram di sini.


Aku tak peduli jika seluruh mahluk di desa ini mengecapku apa saja, tapi aku takut Kiki di singkirkan.


Kenapa tiba-tiba aku punya rasa peduli....


Pasti karena kakaknya dulu teman baikku yang selalu membela ku saat aku di hina teman-teman lain.


Hari ini aku hanya bertugas mengawasi pembanguan di area air terjun, dan hari ini juga mobilku datang. Mobil pribadi yang ku pesan, aku tak bisa naik mobil yang ACnya mati.


Aku sudah siap dengan setelan jas berwarna biru Navy ku dan sepatu kets karena tak mungkin bagiku untuk mengenakan High Heels di area pembangunan. Aku mengitari halaman depan rumahku dengan pandangan mencari sesuatu.


Apa aku berharap pria itu belum pergi....


Aku masuk ke dalam mobil baruku yang sudah siap pakai, aku segera menyetir mobil mewah itu. Aku melewati area pembangunan Resort yang terletak di tengah desa, dan menuju pembangunan di air terjun yang tak jauh dari sana.

__ADS_1


Aku sampai di area pembangunan air terjun yang dulu sangat aku sukai. Satu-satunya tempat yang menenangkan bagiku. Aku berjalan perlahan dan melihat seorang gadis berkulit sawo matang dengan rambut hitam yang di kepang dua serta baju kaus dan celana yang lusuh.


Gadis itu berdiri di samping sepeda Jengki jadul yang tampak sama lusuhnya dengan penampilannya.


Dan dari dalam area pembangunan Kiki berjalan tergesa ke arah gadis itu. Mereka tampak akrab dan gadis itu memberikan sebuah buntelan pada Kiki.


Aku baru sadar aku terdiam cukup lama di tempat yang sama, aku meraih kesadaranku lagi dan melanjutkan langkahku memasukki area pembangunan itu.


Tanpa menyapa dan menoleh aku melewati tempat berdirinya kedua sejoli yang di landa kasmaran itu, aku terus berjalan dan masuk ke dalam pos keamanan.


"Pagi pak!" sapaku, pada seorang security di sana.


"Pagi juga Non!" jawab lelaki paruh baya yang kekar itu, ku rasa dia preman.


Dengan sigap pria itu mengambilkan helm kuning untukku dan aku pun menerimanya dan memakainya.


"Mandornya kemana pak?" tanyaku.


"Itu Non!" kata bapak security itu.


Sudah ku duga Kiki berjalan ke arahku dengan langkat tegapnya, seperti biasa dia hanya mengunakan celana jins belel dan kaus oblong, tapi hari ini dia mengenakan kemeja putih di atas kaus oblong hitamnya meski tak di kancingkan dan berantakan. Sepatu buts coklat menabah kesan ugal-ugalan pria ini.


"Kenalin Non ini Mas Kiki Kepala Mandor di sini Non!" kata pak security.


Kami pun berjabat tangan, dan mata kami saling berpandangan ada siratan ke gundahan di matanya saat ini. Apa karena gadis muda tadi...


"Vanesa Prasetyo!" kataku, menyebut namaku.


"Riski Awaludin!" katanya juga, dia tak tersenyum padaku.


Baguslah, kau harus menyerah karena kita tak ada di suhu yang sama.


Kiki berjalan di depanku dan membolak-balikkan kertas denah bangunan dan seketsa dari arsitek. Dia berbalik ke arahku dan memandangku seakan ingin menanyakan sesuatu tapi dia urungkan.


Kami sampai di pusat air terjun dan aku bisa melihat proses-proses pembangunan yang sesuai dengan keinginanku.

__ADS_1


__ADS_2