
Aku berhasil membuka pintu kamarku, tapi suara riuh dari beberapa orang telah memenuhi rumahku. Saat aku perlahan keluar dari kamarku, dengan sangat bingung kenapa suasana jadi sangat kacau sekali.
Beberapa cahaya senter menyorot ke arahku, seketika telapak tangan ku menutup mataku. Karena cahaya terang itu menusuk mataku.
"Alhamdulilah Nesa, kamu tak papa....!" Bibiku memelukku dengan suara tangis terisak.
"Ada apa Bik!" tanyaku bingung.
"Dari tadi Kiki memangilmu dari luar, tapi tak ada jawaban darimu. Jadi dia menghubungi Bibi!" kata Bibi masih dengan isakannya.
Lampu di nyalakan dan ada suami Bibi serta Kiki mereka berdiri tak jauh dariku, ke dua lelaki beda usia itu sama-sama memasang wajah khawatir mereka.
"Kamu belom makan dari pagi?" tanya Bibi, mungkin wajahku sangat pucat makanya dia tanya itu.
"Perutku masih sakit Bik!" jawabku, aku meminum air putih yang di ambilkan oleh Bibiku. Aku duduk di salah satu kursi di meja makan.
Sementara Kiki dan Suami bibiku yang tak ku ketahui namanya duduk di sofa ruang TV.
"Makanlah!" suruh Bibiku, dia membawakan sepiring nasi dengan lauk yang di tumpuk-tumpuk di atasnya.
Itu pemandangan yang aneh bagiku, nasi yang di tindih sayuran dan lauk. Membuatku mual.
"Bibi membawakan beberapa obat nyeri, makan beberapa suap saja agar kau bisa minum obat!" nasehat Bibiku.
Aku menuruti perintahnya tanpa protes sekarang, iming-iming obat nyeri itu sangat mengiurkan.
Aku membutuhkannya, sekarang.
Setelah aku berhasil mendapat obat itu, Bibiku tampak sedikit bingung.
"Pulanglah Bibi, aku tak masalah sendirian!" kataku, aku tau Bibiku cemas dengan anak-anaknya di rumah.
"Bagaimana jika Kiki tingal di sini, semalam?" tanya Bibiku, tapi tak ada yang protes.
Tunggu, kenapa tak ada yang protes.
"Aku tak masalah Bik!" sahut Kiki.
"Aku baik-baik saja Bibi, besok aku pasti sudah membaik!" protesku.
"Ayolah Nesa, dia tak akan melakukan apa pun padamu di saat kau mestruasi. Dan Kiki pria yang baik, dia tak akan menyentuhmu!" bisik Bibi di telingaku.
Tentu aku aku tak bisa menolak, aku ingin Bibiku cepat pergi karena aku takut anaknya yang masih kecil akan menangis mencarinya.
"Kau bisa pulang sekarang!" kataku pada Kiki, karena aku sudah memastikan Bibiku pulang menaiki motor dengan suaminya.
"Aku akan di sini malam ini!" kata Kiki dengan sikap yang keras kepala.
"Aku baik-baik saja!" kataku, aku berjalan melewatinya dan akan menuju kamar untuk tidur lagi.
"Jangan kunci kamarmu!" pintanya.
"Iya!" jawabku.
__ADS_1
Aku masuk dan seperti perintahnya aku tak mengunci pintu kamarku.
Aku segera meringkuk di bawah selimut, aku tak peduli lagi hal lainnya. Rasa sakit ini benar-benar seperti akan membunuhku.
.
"Sayang bagaimana kalau kita tingal di Jepang?" tanya Asahi, dia berbisik di telingaku sembari memeluk tubuhku di atas kasur yang empuk.
"Singapura, atau Amerika lebih bagus sayang!" aku bukannya tak mau di Jepang, aku hanya benci berada di kota yang tak ku fahami bahasa dan budayanya.
"Rumahku dekat dengan perternakan kau pasti suka!" kata Asahi, aku mengingat lagi tentang hal itu. Bau kotoran yang menyengat dan suasana pedesaan Jepang yang sangat berbeda dengan di Indosesia.
"Aku tidak mau!" tegasku.
Asahi diam tanpa berkata lagi, dia masih memelukku saat itu meski aku tau dia dalam kondisi marah.
Dia melepaskan tubuhku karena poselnya berbunyi, itu dari keluarganya. Siapa lagi, dia menjawab dengan bahasa Jepang yang sangat sopan.
Hatiku kala itu memanas, aku tak suka Asahi yang selalu mengungkit tingal di Jepang, aku benar-benar tak mau berada di sana. Entah aku seperti tak akan bisa menyesuaikan diriku di sana.
.
Antara sadar dan tak sadar aku merasa sesuatu yang dingin menyentuh keningku dan suara yang ku kenal itu menyebut namaku.
Aku bahkan tak bisa membuka mataku meski aku ingin. Aku benar-benar kedinginan dan pusing serta lemas, aku merasa mulutku kering dan tak dapat bersuara.
Akhirnya aku menyerah untuk bangun dan aku terus tidur tak peduli apa yang terjadi di sekitarku lagi.
.
Kiki duduk di lantai dengan kepalanya yang bersandar di pingiran tempat tidurku telapak tangannya mengengam tanganku, dan dia sedang tertidur pulas.
Aku melihat wajahnya dari tempatku duduk, sekarang aku di kondisi yang normat. Tak di puncak okulasi ku lagi, dan aku bisa melihat dia seperti lelaki kebanyakan.
"Kau sudah bangun?" tanyanya, dia segera berdiri dan memeriksa keningku dengan menempelkan telapak tangan kasarnya di dahiku.
"Demammu sudah turun!" katanya, dia meraih handuk basah di sisi batalku dan baskom air dari lantai.
"Trimakasih!" kataku.
"Tidak papa, ini sudah tugasku!" katanya.
Sejak kapan merawatku yang sedang sakit adalah tugasnya.
Aku segera ke kamar mandi untuk menganti pembalutku.
Kiki sudah di dapur dengan celemek pink bermotif bunga, dia memasak.
"Apa kau bisa masak?" tanyaku.
"Hanya beberapa menu sederhana, kau harus makan!" katanya, dia kembali mengarahkan fokusnya ke masakannya.
Karena tubuhku lengket aku langsung mandi saja, dan aku lupa aku tak membawa handuk saat ke dalam kamar mandi. Apa yang akan ku lakukan.
__ADS_1
Aku mematikan sower dan mulai berteriak.
"Kiki...!" teriakku
"Ada apa?" tanyanya, dia sigap sekali.
"Bisa kau ambilkan handuk baru di lemari kamarku!" perintahku.
"Baiklah!" kata Kiki.
Tak perlu menunggu waktu lama, dia mengetuk pintu kamar mandi.
"Maaf!" kataku.
"Kau cantik saat rambutmu basah!" pujinya.
"Trimakasih!" jawabku, dia memberikanku handuk baru dan aku pun menutup pintu kamar mandi.
"Dia akan menjadi suami yang sempurna untuk Ida!" desahku, dan kenyataan itu membuatku benci.
Kiki menata makanan yang sudah matang di meja makan saat aku keluar dari kamar mandi.
"Cepatlah ganti pakaian, kita makan bersama!" katanya.
Aku hanya menganguk, dan tak mungkin aku bisa menahan senyum saat dia tersenyum padaku.
Dia memasak nasi goreng yang menurutku sangat enak, sesuai seleraku.
"Aku bisa makan ini seumur hidupku untuk sarapan!" kataku, aku memujinya.
Tapi dia malah terlihat seperti orang yang tersingung.
"Maksutku ini enak, enak sekali!" kataku,
"Bibimu bilang kau susah makan, dan sangat pilih-pilih makanan. Apa kau berbohong saat bilang ini enak?" tanyanya.
"Ini seleraku, Bibi selalu memasak dengan banyak garam dan MSG!" kataku.
Aku makan dengan sangat lahap. Aku sangat kelaparan, selama aku di sini aku tak pernah makan selayaknya manusia pada umumnya. Aku hanya makan nasi beberapa sendok tanpa cemilan dan banyak minum kopi, serta soda.
Kiki pulang setelah mencuci piring dan meningalkanku untuk berkerja, entah kenapa aku merasa aku istrinya sekarang.
"Jika ada apa-apa cepat hubungi aku!" perintahnya, saat dia mengenakan sepatu butsnya di pintu depan dan aku berdiri santai di daun pintu.
"Baiklah!" aku tak ingin berdebat dengan suami haluku,
"Apa aku harus pulang dan memasak untuk makan siang?" tanya Kiki.
"Tidak perlu aku bisa memasak apa pun, sebisaku!" kataku, yang tak percaya pada diriku sendiri.
"Jika kau gagal, telvon aku!" katanya dengan senyuman mengejek.
"Aku tak akan gagal hari ini!" ku sambut senyuman mengejeknya dengan sikap percaya diriku.
__ADS_1
Dia terdiam sejenak dan memeperhatikan wajahku tanpa menyentuhku.
"Jangan sakit lagi, aku tak tega melihat kau sesakitan begitu!" kata Kiki, dia lalu melangkahkan kakinya ke halaman dengan langkah mundur seakan dia tak mau melepasku dari pandangannya.