
Lagi-lagi pandangan kami bertemu, saling menatap ke kornea masing-masing untuk mencari jawaban. Nihil aku tak mendapatkan apa pun, tepatnya aku tak mau menerka-nerka.
"Kenapa kau tak mau menjadi adikku?" tanyaku. Aku tak ingin menayakan pertanyaan itu, karena aku akan tau apa jawabannya. Tapi rasa penasaranku mengalahkan segalanya.
"Aku ingin menjadi temanmu!" kata Kiki, aku mengeryitkan dahiku karena tak percaya apa yang baru saja ku dengar.
"Ok" aku tak bisa bilang kata lain selain itu.
Dia tak tersenyum,
"Kemana semua senyum yang kau perlihatkan waktu kita pertama bertemu?" tanyaku. Dia hanya terus memandangku membuatku salah tingkah.
"Kau mau minum kopi hangat?" tanyaku, Dia hanya menganguk untuk menganti kata Iya.
Langkah kakinya mengikutiku ke dalam ruang tengah rumahku, melewati ruang tv yang di satukan dengan dapur dan ruang makan, dia duduk di meja makan tanpa ku suruh dan dia terus memperhatikanku yang sibuk menyalakan mesin kopi.
"Apa kau lapar?" tanyaku, aku tak pernah seperhatian ini pada lelaki mana pun kecuali pada Asahi.
Dia hanya mengeleng, aku melihat senyum tipisnya saat aku mengajaknya bicara. Tentu saja aku membalas senyumannya.
Setelah aku selesai dengan urusan meracik kopi di mesin yang akan otomatis beres beberapa menit kemudian. Aku segera beranjak mendekatinya dan duduk di kursi makan di sebalahnya.
Dia memakai kaus oblong hitam dan celana jins pendek yang ku belikan kemarin, terlihat sangat pas di tubuh tegapnya. Aku tersenyum dan secara otomatis aku memujinya.
"Kau bertambah tampan malam ini!" kataku dengan senyuman, ku rasa kebiasaan itu tak mudah ku lupakan mulutku yang suka memuji Asahi.
"Trimakasih!" katanya dengan senyuman yang tak bisa dia sembunyikan.
Suasana jadi cangung, kenapa aku tiba-tiba mengingat Asahi saat bersama Kiki. Aku mememandang lekat-lekat wajah tersipunya, tak ada yang sama antara Kiki dan Asahi. Bahkan bentuk pori-pori kulit mereka sangat berbeda.
"Apa yang sedang kau fikirkan?" tanya Kiki,
"Tidak, aku hanya ingat lagi....tentang orang yang mirip dengan mu!"
"Apa itu pacarmu?" tanyanya, dia terlihat ingin tau akan hal itu.
"Dia tak mirip denganmu!" aku menyerah, "Hanya seseorang yang pernah lewat sekilas di hadapanku!" jelasku, aku masih belum mau menceritakan bagaimana sosok Asahi di mataku pada siapa pun.
"Aku bisa mendengar apa pun, jika kau mau cerita!" katanya, wajahnya berubah teduh dan menenagkan.
"Di antara kita, sepertinya kau yang paling punya masalah yang serius!" kataku,
"Iya masalahku sangat serius sekarang!" katanya,
__ADS_1
Kami masih duduk berhadapan, dan pandangannya tertuju pada kedua pahaku yang hanya tertutup separuh serta dadaku yang tanpa bra hanya tertutup kain satin yang tipis.
Jiwa pengodaku kembali muncul dan mengalahkan rasa maluku, aku tau Kiki mengatakan itu untuk menyuruhku berganti baju dengan perkataan yang halus.
Tapi aku akan mengambil resiko untuk mengukur seberapa tebal pertahannan yang dia punya.
"Aku nyaman dengan bajuku!" kataku.
"Apa tidak dingin?" tanya Kiki, yang mengalihkan pandangannya pada tubuhku dan memandang ke arah kaca yang tembus ke halaman belakangku.
"Tidak!" kataku.
"Apa kau tak menutup jendela itu dengan kain hordeng?" tanya Kiki.
"Aku tak pernah menutupnya!" jawabku.
Aku berjalan ke mesin pembuat kopiku karena aku merasa airnya pasti sudah panas.
Aku mencoba bergerak seseksi mungkin aku mau kiki menyerangku duluan, aku ingin tau bagaimana di serang binatang yang Jinak seperti Kiki.
Aku menyadari Kiki mulai tak nyaman dengan posisi duduknya, dia terus saja merubah posisi duduknya padahal kita baru setengah jam mengobrol.
"Apa kau suka film?" tanyaku, aku mencoba mengabaikan tingkah lucunya.
"Kau bisa tidur di sini, ada satu kamar kosong di ruangan depan!" kataku, aku benar-benar tak tega melihat dia meringkuk di ranjang kecilnya di rumah gubuk itu.
Dia tampak berfikir, dan menatapku sejenak.
"Aku tak akan mendobrak pintu kamarmu meski kau tak menguncinya!" kataku.
"Kurasa lain kali saja, aku tak tau apa yang bisa ku lakukan padamu jika aku menginap di sini malam ini!" kata Kiki.
"Menang apa?" tanyaku sambil tertawa.
Aku menyentuh tato di lengannya dengan ujung jemariku.
"Tato apa ini?" tanyaku, sambil ku perhatikan gambar abstrak itu.
"Itu belum jadi, tapi aku sudah kesakitan dan ku suruh berhenti!" jawaban Kiki membuat kami tertawa.
Aku tertawa terbahak-bahak karena baru kali ini aku mendengar alasan yang begitu ironis.
"Kau lucu Kiki!" kataku di sela tawaku.
__ADS_1
"Aku tau,!" dia hanya tersenyum melihatku menertawakannya.
"Maaf tapi itu sangat lucu bagiku!" pungkasku, aku mencoba berhenti tertawa tapi aku masih saja tak bisa.
Dan tanpa sadar aku meraih pahanya dan meremasnya dengan pelan, aku bisa melihat Kiki menahan nafasnya sejenak.
Aku bisa merasakan senjata rahasiannya sudah tegang dari tadi, tapi dia tak berani untuk mengejakku bersetubuh.
"Aku harus ke kamar mandi!" kataku, karena melihat reaksinya yang tegar sekali, malah aku yang merasa tak kuat untuk tak memperkosanya.
Aku membuang semua cairan di kandung kemihku dan desahan kelegaan dari mulutku mengema di kamar mandi yang sempit itu.
Jika Kiki berhasil goyah apa kami bisa melakukannya di kamar mandi ini tanpa terbentur sesuatu. Fikiranku benar-benar sudah tidak waras.
Aku keluar dan ternyata Kiki sudah di balik pintu kaca dia keluar ke halaman belakang, dia terlihat menghisap rokok di sana. Aku bisa melihat kegelisahan sedang mengurungnya.
Siapa yang bisa menolak tubuh indahku, tapi hewan jinak memang tak pernah menyerang atau mengigit. Aku merasa senang saat membuat gairahnya naik turun meski aku sendiri juga kesulitan untuk mengelola gairahku sendiri.
Dia berbalik dan melambai padaku, dia ingin aku ke sana.
"Ada apa?" tanyaku.
"Di dalam lumayan panas, di sini sejuk!" katanya, Kiki membuang puntung rokoknya dan menginjaknya supaya apinya tak menyebar.
"Kau akan tidur di sini?" tanyaku dengan penuh harapan.
"Apa pernyataan cintaku kau angap sebagai sebuah lelucon Nesa!" tanyanya, dia berjalan mendekatiku yang masih berdiri di ambang pintu.
"Sedikit!" kataku aku tersenyum mengingat betapa bodohnya wajah yang dia perlihatkan padaku saat mengucapkan kata-kata itu.
"Aku sudah bertunangan dan aku jatuh cinta dengan gadis lain, aku tak bisa tidur karena memikirkannya Nesa!" Kiki akhirnya mengucapkan kegundahan di hatinya, meski aku sudah tau tentunya.
"Lalu, apa yang kau inginkan?" tanyaku.
Dia memegang kepalanya dengan kedua tangannya dia benar-benar sangat frustasi.
"Kau tak ingin kehilangan aku atau pun Ida!" kataku, dia menoleh ke arahku dan menatap mataku dengan tatapan iba.
"Kau tak ingin hubungan pertunanganmu tergangu, dan bisa dekat denganku!" tebakku, dan dia menunduk tanda membenarkan tebakanku.
"Karena itu, mari kita berteman saja, jangan mengodaku dan membuat ku hilang kendali!" katanya, wajahnya sudah memerah dan matanya berkaca-kaca.
"Mari kita tidur bersama!" kataku.
__ADS_1