Never Have

Never Have
Pertama


__ADS_3

Aku menghindarinya, aku berusaha, tapi perkerjaanku memaksaku datang padanya. Selama seminggu ini aku memikirkan banyak adegan yang bisa saja terjadi hari ini. Semakin aku memikirkannya aku semakin gila.


Aku benar-benar sudah gila.


Langkahku menyusuri jalanan berkerikil dari parkiran menuju area pembangunan panorama paviliun air terjun, aku terus melangkah dengan memantapkan hatiku. Tidak akan terjadi apa pun selama aku tak memancing Kiki, lelaki itu, dia tak akan meliar.


"Kau di sini!"


Suara itu membuatku membeku, dia berdiri di depan pintu masuk yang terbuat dari seng seperti area pembangunan pada umumnya.


Aku hanya menganguk, dan tersenyum tipis. Raut wajahnya sangat berbeda hari ini, wajahnya tak ramah lagi saat menatapku tapi terasa penuh amarah. Aku tiba-tiba takut, padahal aku tak melakukan kesalahan. Aku bertindak benar, karena keputusanku untuk menjauhinya 100% adalah benar.


Aku terus melangkah maju ke arahnya dan melewatinya, aku tau dia memandangiku dengan penuh kemarahan.


"Sampai kapan kau akan menjauhiku?" tanyanya tanpa memandangku.


Aku memutar tubuhku agar aku bisa melihat pungungnya yang tegap.


"Menjauhimu?" tanyaku, aku tak mungkin bilang tentang rencanaku yang akan menjauhinya untuk selamanya.


Dia berjalan cepat ke luar area pembangunan dan meningalkanku begitu saja, apa aku kesiangan. Jika tak harus mengambil gambar hasil kerjanya aku tak ingin datang ke sini.


Aku datang jam 1 siang ini, aku mampir ke tempat bibi dulu sebentar untuk makan siang karena bibi terus memaksaku untuk mampir.


Air terjun ini adalah tempat faforitku, aku menhabiskan hariku sore itu untuk memotret apa pun di sana. Aku bahkan mengambil gambar pafiliun kosong, pafiliun yang pernah menyaksikan ke gilaan ku pada Kiki.


Aku bisa melihat cahaya tajam kemerahan dari arah barat, suasana senja hari ini sangat melankolis. Sejenak aku memandangi diriku yang tengah sendiri.


"Non Nesa, masih mau di sini?" tanya satpam yang biasa berjaga di pos.


"Iya pak, sebentar lagi!" jawabku.


Aku tau pria gagah itu harus kembali ke rumah untuk bertemu keluarganya, tapi aku masih ingin di sini di suasana tenang ini. Aku tak pernah di tempat ini sampai malam hari, dan aku ingin di sini untuk melihat pemandangan malam di sini.


Aku masuk ke dalam pafiliun dan melihat pemandangan dari jendela, pemandangan di sini tak akan sangat bagus nantinya. Aku memotret area itu beberapa kali, wajahku pasti tersenyum karena keindahan pemandangan yang ku temukan.


Aku tersentak di tengah senyumku, sepasang tangan kekar merangkul perutku. Tubuh hangat yang tegap memelukku dari belakang, bau keringat pria yang khas, dan bau rokoknya kuat di nafasnya.

__ADS_1


"Kiki!" desahku pelan.


Aku meronta, ini gila, aku harus melepaskannya.


"Sudah satu minggu aku tak mengisi daya, aku sangat lemah !. Tolong, biarkan ini sebentar saja!" kata Kiki, dia memepererat pelukannya setiap aku meronta.


Akhirnya aku diam, aku tak mau mati karena kehabisan oksigen.


Setengah jam kami di posisi ini, kaki ku kram, dan kepalaku hampir pusing.


"Kakiku kram!" kataku lirih.


Kiki melepasku dan membalik tubuhku ke arahnya. Aku meringkuk menjauhkan wajahku darinya, aku berlagak sok polos.


"Jika aku membatalkan pertunanganku, apa kau mau dekat dengan ku?" tanyanya.


"Jangan!" sahutku tanpa berfikir.


"Kenapa?" tanyanya dia bingung, mata tajamnya memandang intens ke arah mataku.


"Kau bisa di...!" kataku.


Aku memandang matanya, dia begitu yakin, sangat yakin dan aku ragu tapi aku tak kuasa untuk menolak. Ekspresi wajahnya yang tegas itu mengugurkan benteng yang sedikit demi sedikit telah ku bagun selama seminggu ini.


"Aku akan membatalkan pertunanganku dengan Ida setelah dia lulus SMA, aku tak mau mengangu kosentrasi belajarnya sekarang dia akan menjalani ujian nasional!" kata Kiki.


Dan anehnya aku menganguk, aku tak tau aku mengiyakan idenya untuk membatalkan pertunangannya, atau mengerti dengan perkataannya.


Tubuhnya maju ke depan dan membuatku melangkah mundur, aku terkunci di sana. Kedua lengan tangannya sudah mencengkeram daun jendela dan tubuhnya yang sangat dekat denganku.


Aku benar-benar tak bisa kabur darinya, atau aku tak ingin kabur darinya.


Perlahan wajahnya mendekat ke arah wajahku, kerja otakku seakan mati. Aku menahan nafasku, saat bibir kami bertemu.


Aku merasakan dengan seksama kecupan demi kecupan yang dia berikan, kedua tanganku masih memengengam erat kameraku.


"Apa kau yakin padaku?" tanyanya, disela kecupan lembutnya yang belum sempat ku balas.

__ADS_1


Aku membuka mataku dan ku pandang matanya yang seakan telah di penuhi harapan. Tak jelas harapan apa yang dia inginkan, kepuasan s.e.x atau yang lain. Aku tak bisa menangkap apa pun secara pasti saat ini.


"Kau lapar?" tanyanya, aku sekali lagi hanya menganguk bodoh untuk menjawab pertannyaannya.


Ini bukan kali pertamaku di sentuh lelaki, beberapa lelaki telah mencium bibirku berkali-kali. Tetapi rasa manis yang mengiurkan dari bibir Kiki membuatku seperti binatang peliharaan yang siap melayani tuannya.


Aku mandi di kamar mandi rumah ibuku, dia mengajakku dengan iming-iming makan malam. Aku tau dia tak hanya akan memberiku makanan yang enak, aku tau dia ingin krpuasan s.e.x juga dariku.


Tapi aku juga menginginkan hal itu, entah kenapa.


Aku merasa berdosa, ini pertama kalinya aku mengharapkan cumbuan dari lelaki yang jelas ku tau adalah milik wanita lain. Meski aku buas dan terkesan tak pandang bulu, tapi aku akan menghindari pria-pria yang mempunyai kekasih.


Bagiku berhubungan s.e.x dengan pria milik orang lain adalah hal yang jahat dan menjijikan bagiku. Tapi kenapa aku seakan sangat bernafsu dan menginginkan hubungan hina ini.


Tok-tok-tok.


"Nessa kau baik-baik saja!" tanya Kiki dari luar kamar mandi, mungkin aku terlalu lama berada di dalam sini.


"Yaaaa aku baik-baik saja!" kataku.


Saat aku keluar dari kamar mandi, dia sudah siap dengan masakan yang sudah dia hidangkan di meja makan.


Senyumnya membuatku terdiam, aku langsung kikuk setelah di depannya. Dia berdiri dari kursinya dan menghampiriku di depan pintu kamar mandi.


Tubuh telanjangku yang hanya terlilit sehelai handuk putih.


"Malam ini kau semakin cantik!" katanya.


Lagi-lagi aku mencari raut kebohongan di wajahnya dan aku tak menemukan apa pun di sana. Pujiannya membuat ku sedikit merinding dan aku menundukkan lagi wajahku.


"Cepatlah ganti baju, kita makan dulu!" katanya, dengan desahan yang mengoda.


"Kau masak apa?" tanyaku, suaraku yang tertahan membuat nada bicaraku juga terdengar seperti mendesah.


Dia menarik tanganku menuju kamarku dan menutup pintu kamar itu secara kasar.


Mata kami saling berpandangan sejenak, lagi-lagi dia mengunci pergerakan ku dengan menekan lembut tubuhku ke arah dinding.

__ADS_1


Kecupan lembutnya mulai menyusuri setiap inci bibirku, lidahnya mulai menari-nari di dalam mulutku dan membuatku mengikuti irama yang dia mainkan.


Lembut tapi penuh penghayatan, seperti suara musik orkesta yang mengalun indah tangannya mulai menyusuri setiap jengkal tubuhku dari balik handuk putih yang hanya menutupi bagian atas tubuhku.


__ADS_2