
Tentu saja aku hanya bisa tersenyum melihat apa yang dia lakukan, apa dia melakukan hal yang sama pada Ida seperti yang dia lakukan padaku saat ini..
Ngomong-ngomong Ida itu siapa, apa dia juga orang yang dulu tingal di desaku juga.
Aku tak mau memikirkannya lagi.
Segera ku tutup pintu utama rumahku dan ku langkahkan kakiku memasuki ruang demi ruang yang tak di sekat di dalam rumahku.
Baru beberapa menit sejak Kiki pergi tapi rasa bosan sudah menyerangku. Apa aku sudah bergantung padanya, sesuatu yang belum ku alami sebelumnya bahkan saat aku masih bersama Asahi.
Aku mendengar suara sepeda motor berhenti di halaman rumahku, itu pasti suara sepeda motor bibiku.
Pintu depan yang langsung terbuka di iringi langkah kaki tergesa seperti biasanya.
"Kau sudah sehat Nesa?" tanya bibiku, suara melengkingnya yang sangat menganguku tapi sudah bisa ku terima sekarang.
"Sudah bik!" jawabku.
"Bagaimana Kiki sangat baik kan?" tanya bibi, langkahnya sudah di dapur dan pasti melihat pekerjaan yang di lakukan Kiki pagi ini.
"Memang kenapa kalau dia begitu baik?" tanya Nesa, dia tak mau ketahuan oleh bibinya jika dia tertarik dengan Kiki.
"Bibi, tak perlu khawatir padamu lagi dia bisa membantu bibi untuk menjagamu anak manja!" jelas bibi.
Aku hanya tersenyum mencibir, bagaimana bisa memberikan julukan anak manja padaku. Sementara aku di desa terpencil ini tanpa bantuan ayahku, atau kakakku bahkan momy ku pun tak sekali pu datang ke sini untuk sekedar menjengukku.
Mereka hanya menelponku dan menayakan kabar, uang dan kebutuhan ku yang mungkin bisa mereka kirim. Tapi faktanya aku tak perlu banyak uang untuk bertahan hidup di desa ini, atau barang-barang bermerek yang tak berguna di sini. Tak ada yang akan melihatku dan bertanya tentang bagaimana aku mendapatkan barang bermerek itu jika aku memakainya di sini.
"Keluarga kita dengan keluarga Kiki sangat dekat, hinga kita sudah seperti saudara!" jelas bibi tanpa aku meminta.
Tema pembicaraan bibi membuatku ingin menanyakan tentang Ida tunangan Kiki. Aku memikirkan kata yang tepat agar bibi tak curiga padaku.
"Bibi kenal Ida tunagan Kiki?" tanyaku akhirnya.
Aku tak tahan dengan rasa penasaran yang mengulung di dadaku, meski banyak kata-kata yang berputar di kepalaku. Akhirnya kata itu yang keluar dari mulutku.
"Oh, dia anak kepala desa!" kata bibi.
Si udik berkepang itu anak kepala desa, anak kepala desa kenapa seudik itu.
"Ida gadis yang sederhana, dia bahkan sering membantu para pekerja di kebun. Kiki dan Ida adalah pasangan favorit di desa ini Nesa, mereka berdua muda-mudi yang sama baiknya!" kata bibi.
__ADS_1
Aku hanya diam, ya aku bahkan tak bisa di bandingkan dengan anak udik itu.
Sekarang aku mulai membandingkan diriku dengan wanita lain, apa aku sesuka itu pada Kiki. Kenapa aku menyukai pria yang sudah bertunagan, dari sekian banyak pria di dunia ini kenapa harus Kiki.
"Mereka di jodohkan sejak kecil, dan baru bertunangan seminggu sebelum kau sampai di sini!" bibi kembali menjelaskan lagi.
Jika aku sampai di sini sebelum Kiki bertunangan apa kejadiannya akan berbeda.
Kenapa dengan diriku, aku pasti sudah gila.
"Bibi, ku rasa jika Kiki terus-terusan dekat denganku akan menimbulkan banyak sepekulasi yang salah di antara warga desa nanti!" kataku.
Sebaiknya aku menghindari Kiki selagi aku bisa.
Bibi berjalan ke arahku, dan duduk di dekatku di sofa ruang TV.
"Apa kau begitu tak nyaman dengan kehadiran pria di sampingmu?" tanya bibiku, dia meraih tanganku dan mengengamnya seakan ingin menenagkanku.
"Ayahmu memceritakan semua pada bibi, kau pasti tak suka di dekati pria. Tapi Kiki itu sudah seperti saudara kita Nesa!" kata bibi.
Ayah cerita apa pada bibi, tentang pacarku yang selalu lebih dari 3 atau karangan bebas yang tak masuk akal.
"Bukan begitu bibi, aku hanya...!"
Bibiku benar-benar tak bisa di bantah, dia ini apa.
Aku hanya melempar senyum, dan memasang raut wajah mengerti. Aku ingin dia lega dan menilai bahwa aku bisa menerima semua ini.
.
Bibi akan pergi ketika sudah selesai membersihkan rumahku, dia tak mau menyuruh orang lain untuk bersih-bersih di rumahku. Bibi tau aku tak akan nyaman jika ada orang lain menyentuh barang-barangku.
Aku berdiri di teras halaman belakang, dan aku melamun disana. Apa yang harus ku lakukan, aku seperti aliran sungai yang di tutup. Aku meluap-luap, dan tak bisa tenang.
Aku harus menenagkan diriku, aku harus pergi dari rumah ini.
.
Aku pergi ke sebuah hotel yang ku temui dari mesin pencarian di ponsel pintarku.
Hotel berkonsep jawa klasik dengan nuansa perkampungan jawa yang kental. Mereka menyewakan kamar lengkap dengan dapur yang seperti rumah kecil di luar bagunan hotel utama yang menjulang tinggi di depan pintu masuk, dan aku memutuskan mengambil salah satu kamar terpisah itu.
__ADS_1
Suasana yang dingin dan pemandangan yang asri, yang pasti jauh dari Kiki serta bibiku. Aku akan betah di sini.
Aku check in saat matahari hampir tengelam, dan aku sama sekali tak mengabari bibiku. Saat aku meraih ponselku di saku jasku, aku melihat pangilan bibi sudah terpampang di layarnya yang menyala.
"Hallo!" sapaku.
"Kamu di mana Nesa?" kata bibiku setengah marah.
"Aku ke kota, dan menyewa tempat tingal di sini!" jelasku.
"Kenapa?" tanya bibi, aku mendengar suara isakan.
"Aku tak suka dengan rumah itu !, aku selalu saja ingat ibuku!" aku bohong.
"Kau sudah dapat tempatnya?" tanya bibi, dia pasti bisa menerima jika aku mengatakan alasan itu karena itu aku harus bohong.
"Sudah, aku akan istirahat. Aku baru sampai dan pungungku seakan serasa patah karena menyetir terlalu lama!" kilahku, aku tak mau mendengar suara isakan sedih di balik telepon.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik Nesa!"
"Iya bik!"
Akhirnya bibiku mematikan pangilannya, aku segera melepas jasku dan merebahkan tubuhku di kasur empuk di tengah ruangan ini.
Satu ruangan yang sangat lengkap meski tak luas, benar-benar cocok sekali untuk berbulan madu. Bahkan kamar mandi hanya di sekat dengan kaca dan terlihat jelas dari luar.
Aku memejamkan mataku dan segera alam bawah sadarku menguasaiku.
.
.
.
.
"Dia baik-baik saja!" kata Bibi Karti, membuat Kiki laga.
"Syukurlah!" kata Kiki, meski lega di dadanya masih ada yang menganjal.
"Kiki, kau bisa tidur di rumah ini. Nesa mungkin tak akan tingal di sini lagi!" kata Bik Karti.
__ADS_1
Sebuah gelombang tak kasat mata segera menghantam dada Kiki.