
Dengan kedua tangannya Kiki mengangkat pingulku dengan mudah, dia memgangkat tubuhku tanpa melepaskan ciumannya di bibirku.
Aku kini terlentang di depannya, dia melepas kaus oblongnya dan aku bisa melihat betapa indah otot-otot di tubuh kekarnya. Dia buru-buru menunduk ke arahku tapi ku tahan dengan kedua lenganku.
Wajahnya tampak kaget, tapi aku segera bangun dan merangkul lehernya. Kini berat tubuhku tertumpu pada lututku yang sudah di atas kasur.
Aku mencium bibir Kiki, kecupan-kecupan lembutku membangkitkan gairahnya lagi. Aku bisa merasakan kedua tangannya yang berusaha menanggalkan handuk yang masih melilit di tubuhku.
Dia melempar handuk itu ke sembarang arah, ciumannya kini menjalar ke leherku dan kedua tanganya sudah menyusup ke area-area sensitifku.
Desahan kenikmatan sudah tak bisa ku tahan lagi, tubuhku bergetar mengikuti setiap sentuhan yang dia lakukan terhadap tubuhku.
Aku meremas rambut ikalnya setiap tubuhku di kuasai kenikmatan yang tak bisa ku toleransi. Dia benar-benar membuatku melayang malam itu.
Aku yakin aku mengeluarkan banyak kata mesum yang tak ku mengerti ketika aku sadar, tubuhku merasa cocok dengan setiap sentuhan Kiki.
Dia seakan tak mau melepas tubuh polosku, tapi dia harus membuka celananya.
Aku bisa melihat mata penuh nafsunya saat dia menatapku sambil membuka pakaian bagian bawah di tubuhnya.
"Kau yakin?" tanyanya, aku tentu saja hanya tersenyum untuk menagapi pertanyaannya.
Tapi pandanganku segera tersita oleh bentuk senjata rahasia yang sudah siap bertempur, sempurna. Pria ini punya bentuk tubuh yang sempurna, sempurna sesuai keinginanku.
Perlahan Kiki mendekati tubuh telanjangku yang terduduk di atas kasur. Dia kembali mencium bibirku, dia ingin membangkitkan birahi kita kembali.
Tapi aku ingin malam ini dia menyerangku, aku ingin tau kemampuan yang dia punya.
Jadi aku akan pasrah dengan semua yang akan dia lakukan padaku malam ini, aku tak akan menyerang atau mengusulkan gerakan apa pun.
Ronde pertama kami malam ini hanya melakukan dua gaya yang sangat normal, seperti semua orang yang melakukan hubungan s.e.k.s.u.a.l pada umumnya.
Kami mandi bersama setelah melakukan itu, dan bayangan akan hubungan badan ketika mandi dengan pria ini sudah memenuhi setiap ronga di otakku.
Tapi aku menahan diri untuk mengatakan, aku ingin tau seberapa kreatif lelaki ini untuk bisa memuaskanku.
Tapi entah kenapa aku puas meski hanya melakukan dua gerakan di ronde pertama tadi, durasi memang penting tapi Kiki bukan pria dengan kekuatan durasi yang sangat panjang.
Durasi di ronde pertamannya adalah 15 menit, kemungkinan besar akan bertambah di setiap rondenya.
Di meja makan kami telah mengenakan pakaian santai, aku hanya mengenakan gaun tidur dan piyama tipis. Sementara Kiki mengenakan kaus tanpa lengan dan celana olahraga pendek yang longar.
"Kau harus banyak makan, tubuhmu kurus sekali!" kata Kiki, dia menyuapkan potongan ayam ke dalam mulutku.
Aku pun membuka mulutku untuk menerima suapannya.
__ADS_1
"Apa kau tak suka melakukannya dengan wanita yang kurus?" tanyaku.
"Kau tak lihat aku sangat bersemangat sekali tadi, aku tak bisa menahannya!" kata Kiki.
Permainannya tidak kasar, tapi malah cenderung lembut menurutku. Tapi aku puas sekali dengan irama persetubuhan itu, aku baru sadar kalau aku suka irama yang semacam itu.
Lembut tapi indah, cepat tapi tak kasar, irama yang membuatku mencampai puncak empat kali dalam durasi 15 menit itu. Mengagumkan.
"Aku takut kau kesakitan!" kata Kiki, dia kembali menyuapiku.
"Aku suka caramu,!" kataku dengan senyuman malu-malu.
"Kau masih kuat?" tanyanya.
Aku memandang matanya, dan entah kenapa aku tak bisa menolak. Aku hanya menganguk pelan akan pertanyaannya.
Setelah makan dia langsung mencuci bekas piring kotor kami, sedangkan aku pura-pura menonton TV tapi mataku tertuju ke arah Kiki yang berdiri di depan wastafel.
Gerakan tangannya, ekspresi wajahnya, bentuk betisnya, pahanya, bokongnya. Dia sangat indah meski di lihat dari belakang seperti ini, kenapa sekarang otakku seperti laki-laki yang mudah terangsang.
"Apa yang kau tonton?" tanya Kiki.
Aku segera memalingkan wajahku ke arah TV, tapi aku tak mengerti apa yang di putar di layar televisi itu.
"Sinetron!" jawabku.
"Ngak tau!" kataku sambil tertawa kecil.
"Kau tak pernah menonton TV lokal?" tanyanya.
"Aku jarang menonton TV!" jawabku.
Ternyata Kiki sudah selesai mencuci piring di dapur dan duduk di sebelahku, tapi dia meraih kedua kakiku ke pangkuannya. Aku sedikit kaget, tapi dia terlihat biasa saja.
"Kenapa?" tanya Kiki, dia ternyata sadar aku merasa kaget.
"Aku suka semua bagian tubuhmu, aku ingin menyentuhnya selalu!" katanya.
Perkataannya tentu saja membuatku tertawa.
"Apa kau tak suka tubuhku?" tanyanya.
Aku sempat tersipu, tapi aku berusaha untuk tak menunjukkan ketertarikkanku.
"Bagaimana yaaaaa....estttttt....emmmmm!" jawabku.
__ADS_1
"Kau suka lelaki yang seperti apa?" tanyanya.
"Emmmmm!"
Aku suka kamu, aku suka semua tentangmu, apa pun kamu dan siapa pun kamu Kiki.
"Memang jika aku suka lelaki berkulit putih dan berwajah bule kau mau apa?" tanyaku, aku memandang ekspresi di wajahnya dengan seksama.
"Aku akan membuatmu menyukaiku, hanya menyukaiku!" kata Kiki, dia mengecup bibirku sekilas.
Apakah sudah di mulai.
Aku menarik nafasku untuk mempersiapkan diriku untuk ronde ke dua kami.
Mata kami saling berpandangan dan gairahku langsung bergejolak karena elusan lembut jemarinya di ujung kakiku.
"Geli!" kataku.
Dia tersenyum saat aku mengatakan itu, dia semakin nakal dengan mengelus lebih ke atas lagi. Betisku.
"Aku bilang geli!" kataku.
Tapi bukannya berhenti jemarinya semakin lincah menari di area itu.
Aku menahan agar mulutku tak memgeluarkan desahan dan membuat Kiki mengila sebelum aku puas dengan sentuhan lembut jemari tangannya.
Jemarinya semakin naik dan menyingkap gaun di pahaku.
"Akhhhhhhh, geli!" gumamku lirih.
Aku bisa melihat wajahnya sudah mulai di penuhi nafsu, dia mendekatkan wajahnya padaku dan mulai mengecup bibirku dengan lembut.
Jemarinya tak mau berhenti meraba setiap jengkal kakiku, membuatku tak bisa mengontrol desahan pelan di mulutku di sela aktifitas ciuman kami.
Aku naik ke atas pangkuannya tanpa melepas ciuman kami, perlahan kedua tangan Kiki melepas piyama yang ku kenakan di atas gaun tidurku.
Kini leherku menjadi pusat rangsangannya, dia menciumi area itu sampai ke telingaku dan membuatku menjerit pelan.
Kedua telapak tangannya sudah meremas-remas dadaku yang tanpa bra dan kenikmatan surgawi sudah menguasai tubuhku saat ini.
Aku melayang dengan sentuhan sederhana ini, Aku terbang ke angkasa karena gejolak lembut yang membuat tubuhku mengelinjar keenakan.
Aku bisa merasakan senjatanya sudah siap menancap di sarangnya, aku sudah bisa membayangkan kenikmatan seperti apa yang akan aku dapatkan nanti dengan sesuatu yang keras itu.
Aku gila...
__ADS_1
Tepatnya aku tergila-gila pada permainan S.E.Xnya.