
Dia terdiam, raut wajahnya yang bingung membuatku semakin bergairah. Dia mengulum bibirnya dan mengigitnya sendiri. Dia memutar tubunya untuk mengalihkan pandangannya dari ku.
"Kau tidak mau?" tanyaku, ku usahakan nada pertannyaanku terdengar selembut mungkin.
"Aku sudah dewasa Nesa, aku bukan bocah 9 tahun yang kau temui di tengah sungai dengan tubuh telanjang sedang asik bermain air!" jelasnya.
"Aku juga bukan gadis 11 tahun yang akan mendorongmu masuk ke air, meski waktu itu aku malu telanjang di depanmu. Tapi sekarang aku berani telanjang di depanmu!" kataku, perkataanku berhasil membuat matanya kembali melihat ke arahku.
"Bagaimana jika aku tak bisa menahannya,!" katanya, raut wajahnya kini tersirat ketakutan yang amat dalam.
"Kalau begitu keluarkan semuanya!" kataku.
Aku bergerak perlahan ke arahnya, telingaku bisa mendengar debaran jantungnya yang semakin cepat.
Ku dekatkan tubuhku yang hanya di tutupi sehelai kain satin tipis ini mendekat ke tubuh kekarnya. Aku mengawasi matanya siapa tau dia ada penolakan. Sotot mata penuh harapan itu kembali ku lihat di matanya, dia tak menolak dia tetap diam.
Aku memberanikan diri memeluk tubuh indahnya, aku mempererat pelukanku serasa ingin ku rengkuh semua rasa hangat yang di hasilkan metabolisme tubuh Kiki.
Dia masih diam tak bergerak tapi aku mendengar dia mendesah pelan di sela nafas memburunya.
Baru aku mendapatkan perlawanan darinya.
Tangan kekarnya merangkul pingangku dan mengelus lembut pungungku, pelukannya yang erat dan penuh irama seakan tak mau dia lepaskan.
Tapi aku sudah di ujung nafsu ku, aku sudah tak peduli lagi tentang serangan binatang buas atau jinak. Aku membuat gesture untuk meminta melepas pelukan panas ini.
Wajah kami sudah berhadapan dan mata kami saling memandang untuk saling meyakinkan.
Aku meyakinkan dia untuk memuaskan harsat dewasa ini denganku, sedangkan dia meyakinkanku untuk berhenti dari aktifitas ku yang sangat kentara merayunya.
Kedua tangan kecilku sudah meraih wajahnya dan kakiku berjinjit untuk meraih bibirnya dengan bibirku, belom sampai bibir kami bersentuhan Kedua tangan kekar Kiki mencengkeram pingulku dan dia menghentikan pergerakannku.
"Aku mohon Nesa, aku bisa tak terkendali!" katanya lirih.
"Tidak papa, aku suka sesuatu yang liar!" bisikku.
Aku melihat dia memejamkan matanya dan menarik tubuhnya dari pelukanku, dia berdiri tegak lagi dan matanya kini berkaca-kaca.
"Maaf, aku tak bisa!" katanya lirih.
Dia berjalan melewatiku dan masuk ke dalam rumah. Dia meninggalkan ku di dalam penolakan.
__ADS_1
Aku terdiam sejenak di sana, aku mulai gila dan tak percaya apa yang Kiki lakukan terhadapku. Dia menolakku.
Dia menolak ku, padahal dia bilang mencintaiku. Dia yang gila atau aku.
Akhirnya aku berjalan mondar-mandir di ruang TV sembari menurunkan birahiku. Aku tak tau harus bagaimana lagi, aku tak suka keadaan ini.
Baru pertama kali dalam sejarah percintaanku, aku di tolak. Dan di tolak oleh bocah kampung yang udik.
Ini sangat melukai harga diriku.
.
.
.
.
Pagi hari aku terbangun karena teriakan omelan bibiku.
"Nesa kau di dalam?" tanya Bibiku, yang mengedor pintuku dengan sangat kasar.
"Iya aku di dalam!" kataku. Akhirnya ketukan keras itu berhenti juga.
Aku melihat ponsel ku dan menatap tangal yang tertera di sana. Aku mendapat mestruasi.
Aku tertarik pada Kiki karena tubuhku berada di puncak okulasi dan sekarang tubuhku sangat lemas, tapi aku harus kekamar mandi untuk membersihkan darah menstruasi yang sudah merembes mebasahi gaun tidurku.
"Bibi punya pembalut?" tanyaku, aku berjalan membungkuk dari pintu kamarku ke kamar mandi yang terletak di luar kamar tidurku.
"Ya ampun Nesa, kau menstruasi?" Bibi malah bertanya, jika aku minta pembalut tentu saja aku menstruasi.
"Bibi akan membelikan di toko kelontong di desa, kau di kamar mandi dulu saja jangan keluar-keluar!" nasehat Bibi dengan berlebihan sekali.
Kenapa juga aku harus keluar di saat aku bahkan tak punya tenaga untuk pembuka mataku.
Aku sekalian mandi karena tubuhku juga sangat lengket, saat aku mandi aku merasa mendengar bunyi langkah seseorang di dalam rumahku.
"Bibi kau sudah sampai?" teriakku, tapi tak ada jawaban. Aku melanjutkan mandiku kembali dan aku kembali merasakan sakit di perutku.
"Akhhhhhhhhh, sakitttt!" erangku.
__ADS_1
Saat sakitnya sudah reda aku kembali melanjutkan mandiku.
Kenapa sakitnya tak seperti biasanya, apa karena nafsu ku yang tak tersalurkan. Rasa sakit yang sangat menyiksaku.
.
Saat aku keluar dari kamar mandi aku melihat Kiki sudah duduk di salah satu kursi di meja makan. Aku cukup tersentak saat melihat dia yang begitu tenang masuk ke dalam rumahku bahkan tanpa mengetuk pintu dahulu.
Aku hanya bisa tertegun karena aku tak siap dengan keadaan semacam ini, aku sedang telanjang dan hanya di balut selembar kimono mandi yang tak tebal. Yang paling parah, aku sedang menstruasi dan aku takut ada darah yang menetes ke lantai.
"Kenapa kau di sini?" tanyaku,
"Bibimu menyuruhku memberikan ini padamu!" katanya, dia mengacungkan sesuatu dalam keresek hitam.
Bibi kau benar-benar....
"Letakkan itu di situ saja, kau bisa pergi!" kataku, aku tak beranjak dari daun pintu kamar mandi.
"Soal tadi malam...!" katanya.
"Bisa bicarakan itu nanti,!" selaku, aku tak bisa menemuinya di saat seperti ini.
Dia diam, tapi terlihat jelas wajahnya penuh dengan raut kekecewaan. Aku tak mungkin menjelaskan apa pun saat ini, dan aku tau keadaan ku sedang tak bisa menemuinya.
"Aku akan pergi!" katanya, dia pun segera berdiri dan berjalan pelan ke arah pintu depan.
Dengan secepat kilat aku meraih kantung kresek hitam di atas meja, tentu saja setelah memastikan Kiki keluar dari rumahku.
Aku membukanya di kamar mandi, ku lihat merek pembalut yang belum pernah ku kenakan tapi sering muncul di iklan televisi.
Aku harus terbiasa, aku tak akan mendapatkan yang lain yang lebih baik dari ini.
Aku berjalan dengan rasa menganjal di area intimku, benar-benar kacau.
Hari ini aku hanya berbaring, aku takut pembalut akan lepas ketika aku berjalan. Rasa sakit di perutku juga semakin luar biasa, apa karena aku semakin tua jadi semakin tak tahan dengan rasa sakit.
Aku tak peduli dengan siang yang berganti malam atau kamarku yang sudah seperti gua hibernasi beruang kutub. Gelap, dingin dan tak ada suara apa pun.
"Nesa, Nesa,Nesssss, Nesaaaaaa!"
Samar-samar aku mendengar seseorang memangil namaku, aku akhirnya membuka mataku dan meraba apa pun yang ada di tempat tidurku.
__ADS_1
"Nesaaaa....Nesaaaaa....Nessss...Nesaaa kau di dalam!" itu teriakan suara lelaki,
Aku ingin menjawab teriakan itu, tapi tengorokan ku sangat kering dan tak ada suara yang bisa keluar dari pita suara ku. Aku hanya bisa bergerak pelan karena perutku akan sangat sakit jika aku bergerak tiba-tiba.