Never Have

Never Have
3 Ronde


__ADS_3

Kiki meraih rambutku dan mengumpulkannya di belakang kepalaku.


"Kenapa?" tanyaku.


"Kau lebih cantik saat kau mengikat rambut panjangmu!" kata Kiki.


Aku hanya tersenyum dan menurut dengan sarannya untuk mengikat rambutku.


Aku melepas kaus oblongnya secara perlahan setelah dia selesai mengikat rambut panjangku, kedua telapak tanganku bisa merasakan betapa kuatnya otot-otot di dada dan perut serta lengannya.


Elusan lembut telapak tangannya di area sensitif di bawah pusarku yang masih terbungkus kain tipis membuatku bergetar, dan desahan kenikmatan kembali menguasaiku.


Malam itu aku sudah mencapai puncak sekali, sebelum senjata rahasia Kiki menghujam lorong kenikmatanku.


Entah berapa gaya dan berapa jam kami melakukan ronde kedua dan ketiga malam itu. Aku hanya ingat tubuhku sudah sangat lemas, tapi saat Kiki menghujamkan lagi senjata rahasianya ke dalam lorong kenikmatanaku tubuhku kembali menegang.


Aku benar-benar terpuaskan malam itu, Kiki bukan pemain kelas teri. Dari kekuatan dan kehebatannya dalam mengatur posisi bercinta kami dia pasti sudah sering melakukannya.


Mungkin Ida juga sudah sering melewati malam panjang yang sangat indah seperti ini dengan Kiki. Kenyataan itu membuatku sedikit kecewa, tapi aku masih bisa tidur pulas di sisa malam panjang itu karena aku sangat kelelahan.


Pagi itu aku terbangun dengan tubuh polos tanpa pakaian sehelai pun, untung selimut tebal masih setia menutupi tubuhku.


Kiki sudah tak ada di sampingku tapi aku bisa mendengar suara dentingan perkakas dapur yang sedang di gunakan. Dia bangun duluan dan memasak sarapan untuk kami.


Dia mempunyai setamina yang luar biasa...ternyata.


Aku meraih gaun tidur bersih di dalam almari, karena gaun ku semalam pasti masih berserakan di lantai ruang TV.


Aku melangkahkan kakiku ke luar kamar, senyuman indahnya sudah menyambutku.


Ruangan di depanku sudah bersih dari jejak percintaan panas kami semalam. Kapan Kiki bangun dan membersihkan semua ini.


"Kau tak ingin langsung mandi?" tanya Kiki.


Aku hanya tersenyum dan memperhatikan semua hal di sekitarku. Apa aku hanya mimpi, kenapa tak ada jejak yang tertingal selain di tubuhku.


"Apa kau menunggu aku memandikanmu?" tanya Kiki, aku pun segera menyerbunya dengan pandangan marah.


Ternyata aku tak mimpi, dia juga merasakan apa yang ku rasakan.


"Jangan nakal, mungkin Bibi akan datang ke sini!" kataku.


"Bibimu tak pernah kesini semenjak kau pindah!" jelas Kiki.

__ADS_1


Dia berjalan ke arahku yang masih berdiri tegak di depan kamarku, tanpa rasa jijik tubuh hangatnya memelukku dan bibirnya mencium keningku.


"Mandilah, kau sangat bau!" kata Kiki dengan senyum di bibirnya.


Aku kembali terkulai tak berdaya dengan rayuannya yang biasa. Aku pun melepaskan diri dari pelukannya, aku pura-pura marah karena dia mengatakan bahwa tubuhku bau.


"Baumu yang seperti ini membuatku bernafsu kembali!" bisiknya, saat aku sudah berhasil melepas pelukannya.


Secara refleks tangan ku memukul bahu kekarnya, aku tau itu sakit tapi dia masih tersenyum manis ke arahku.


"Sebaiknya aku mandi sekarang!" akhirnya aku kalah dan menyerah dengan permintaannya.


Fikiranku melayang memikirkan apa yang kami lakukan semalaman saat aku mandi. Aku benar-benar sudah mengila, aku sangat menyukai permainan s.e.xnya.


Di meja makan kami kembali makan bersama, dia memasak nasi goreng yang sama seperti yang dia masak dulu.


"Kau yakin ingin sarapan nasi goreng ini sepanjang hidupmu?" tanya Kiki padaku.


"Tidak!" kataku.


Wajahnya seketika berubah masam, kenapa dia kecewa dengan jawaban yang ku berikan.


"Jika kau terlalu lelah, aku bisa makan roti tawar dari kulkas dengan sedikit selai coklat untuk sarapan!" kataku.


Dia ini kenapa, apa kami sedang saling jatuh cinta. Kenapa kami bisa saling jatuh cinta. Hubungan terlarang ini, aku tau hubungan ini tak akan pernah berhasil.


Aku akan siap saat kehilangan dia, kehilangan patner s.e.x yang hebat dan sangat mengerti bagaimana cara membuatku puas.


"Apa Ida gadis yang sangat pencemburu?" tanyaku.


Kiki terdiam, dia berhenti mengunyah nasi goreng di mulutnya.


"Dia....sepertinya tidak!" kata Kiki.


Kenapa lelaki ini menjawab dengan kata-kata itu, apa dia tak begitu mengenal tunangannya.


"Kau pernah tidur dengannya?" tanyaku.


Bukan jawaban yang ku terima, tapi Kiki malah tersedak saat aku selesai mengutarakan pertanyaanku.


Aku menyodorkan gelas air putihnya dan dia meminumnya dengan hati-hati. Mataku masih mengawasi seperti apa raut yang akan dia tampakkan.


Dia berfikir sejenak dan terdiam, fikirannya seperti menerawang sesuatu atau mengarang sesuatu.

__ADS_1


"Ku rasa kita tak perlu membicarakan hal itu, kita bisa memulainya dengan hati-hati!" katanya.


"Aku suka begini!" kataku. "Apa yang ingin kau mulai dengan ku?" tanyaku.


Aku tak berniat memiliki Kiki dari awal, dan aku tak bisa melepaskannya sekarang. Aku tak bingung tapi aku tak ingin hal ini berakhir hanya karena dia akhirnya menikah dengan Ida.


Berapa lama aku menginginkan hubungan ini berjalan, selamanya. Aku gila.


Tolong biarkan aku gila untuk sejenak, aku ingin menikmati kisah romansa terlarang ini dengan nyaman.


"Maksutmu?" tanyanya, lelaki di depanku dia pasti sangat bingung.


Dia pasti sangat tak mengerti hubungan seperti apa yang ku inginkan dengannya. Lelaki yang mungkin hanya bergaul dengan orang-orang di kota plosok ini, bagaimana akan tau dunia bebas yang selama ini aku nikmati di Amerika.


Teman s.e.x, mungkin itu akan terdengar terlalu kasar di telinganya.


"Aku tak ingin merusak hubungan mu dengan Ida, aku tak ingin di cap buruk!" jelasku.


Hanya kata-kata itu yang bisa ku katakan dan bisa di terima telinga Kiki dengan batas kewajaran di otaknya.


Dia menghela nafas panjang, pandangannya kepadaku menjadi menyedihkan.


"Kita akan merahasiakan ini kan?" tanyaku, dan hal itu membuat dia semakin frustasi.


"Ayolah, kita bisa melakukannya tanpa harus punya ikatan!" bujukku.


Matanya memandangku dengan berkaca-kaca, mungkin dia merasa aku korban di sini. Tapi sebenarnya aku adalah pelaku di khasus ini.


Aku tau, aku sadar.


"Maafkan aku, aku pasti akan mencari cara!" katanya.


Aku hanya bisa menganguk menangapi itikat baiknya. Tapi kau benar-benar tak ingin dia melakukan apa pun lagi. Cukup seperti ini.


Aku suka hubungan semacam ini, aku tak ingin terikat apa pun lagi. Apa lagi tali pertunangan atau pernikahan, aku takut.


Benar aku takut, harus menjadi korban suatu saat.


Karena itu aku selalu menempatkan diriku sebagai pelaku.


Berhasil atau tidak hubunganku dengan Kiki, aku tak peduli.


Aku hanya ingin kesenangan ini bertahan cukup lama, agar saat aku kehilangannya aku tak terlalu menderita.

__ADS_1


__ADS_2