
part:12
*Happy reading*
...****************...
...****************...
...****************...
Larissa mengernyitkan dahinya bingung saat melihat tingkah aneh Jarel saat dia bangun dan pria itu terlihat sangat lesu seperti tak ada semangat hidup.
Ada apa dengannya, apakah pria itu sakit tetapi saat Larissa akan menghampirinya Jarel langsung pergi seakan-akan sedang menghindarinya dan itu membuat Larissa jengkel.
Larissa pergi ke dapur untuk membantu maminya yang sedang masak.
"Mi aku bantu masak"ucap Larissa berdiri di samping maminya yang membuat daiva terkejut akan keberadaan tiba-tiba anak bungsunya.
"Emangnya kamu bisa masak?"tanya daiva.
"Ya biasalah mi, aku udah belajar masak setiap hari di rumah suami aku dan ya aku bisa masak"ucap Larissa yang membuat daiva mengacungkan jari jempolnya.
"Bagus, mami bangga sama kamu"ucap daiva menatap lembut anaknya dan Larissa tersenyum mendengar ucapan daiva.
"Tapi untuk sekarang kamu gak boleh bantu mami, mendingan kamu ke meja makan tunggu sana sekalian panggil suami, papi, kakak, Abang dan cucu-cucu mami"ucap daiva.
Larissa menurut dan langsung pergi ke lantai dua dan dia lebih dulu membangunkan Fabiola.
Larissa langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan saat masuk matanya melotot kaget melihat Fabiola yang tidur di tengah-tengah antara edrick dan Edgar dan terlihat Fabiola memeluk edrick dan satu kakinya lagi dia taruh di kaki Edgar, wah Fabiola Menang banyak ini.
Larissa mengambil bantal yang terjatuh di lantai kemudian melempar bantal tersebut tepat mengenai wajah Fabiola yang sangat nyenyak tidur, ya gimana gak nyenyak coba orang tidurnya dengan dua cowok, mana tampan lagi.
"Buset apaan tuh yang nimpa wajah paripurna gue"ucap Fabiola langsung terduduk di kasur dengan mata yang buka tutup.
"Bangun kak. Sarapan, di suruh sama mami, bangunin juga dua anak gue soalnya gue mau bangunin yang lain dulu"ucap Larissa berlalu pergi dan Fabiola langsung membangunkan dua ponakannya yang ganteng.
"Masyaallah tidur aja Lo berdua ganteng banget, pen gue perkosa eh salah pen gue halalin"gumam Fabiola.
Sementara Larissa sudah membangunkan Papinya dan sekarang Caesar, tetapi dia tak tau dimana kamar Caesar dan mencarinya di lantai dua, Larissa melihat ada kamar paling pojok dan pintunya berwarna hitam beda dari pintu yang lain berwarna gold, apakah itu kamarnya Caesar.
Larissa langsung mengetok pintunya dan tak ada sahutan dari dalam atau pintu yang akan di buka, Larissa langsung saja masuk kedalam walaupun itu disebut tidak sopan ya mau gimana lagi soalnya kan di sama buat bangunin mereka sarapan.
Saat masuk ke kamar, Larissa memejamkan matanya untuk menikmati harum kamar dari Caesar yang sangat menenangkan.
Larissa membuka matanya dan melihat Caesar yang tidur dengan posisi tengkurap.
"Caesar bangun Lo"ucap Larissa menepuk pundak Caesar agar pria itu bangun tetapi tidak ada tanda-tanda akan bangun, lafiza sekali lagi menepuk pundak Caesar tetapi hasilnya sama.
__ADS_1
"Nih orang tidur kayak simulasi jadi jenazah" gumam Larissa.
Baru saja Larissa akan menggeplak punggung Caesar dengan kuat agar sang empu terbangun tapi tiba-tiba Caesar membalikkan badannya Dengan mata yang mulai terbuka secara perlahan.
"Kenapa Lo masuk kamar gue tanpa seizin gue?"tanya Caesar dengan datar yang membuat Larissa merapatkan bibirnya karna yang di keluarkan Caesar berhasil membuat nya tak bisa membuka mulut.
"Gue tanya sekali lagi kenapa Lo masuk ke kamar gue tanpa seizin gue?"tanya Caesar menatap tajam Larissa.
"KALO DI TANYA ITU JAWAB! LO PUNYA MULUT KAN BUAT JAWAB PERTANYAAN GUE? LO GAK BISU KAN!"bentak Caesar yang membuat Larissa terkejut dan mengepal kan tangannya.
"Gue cuma mau bangunin Lo doang buat sarapan di suruh sama mami, gue udah ketok pintu tapi Lo gak bangun-bangun makanya gue masuk, seharusnya Lo gak perlu berlebihan kayak gini sampe bentak-bentak gue, Lo gak punya hak buat bentak gue soalnya Lo bukan siapa-siapa gue"ucap Larissa berlalu pergi dari kamar Caesar yang terdiam mendengar ucapan lafiza.
"Seharusnya gue seneng dengar ucapan terakhirnya karna itu yang mau gue denger dari dulu tetapi kenapa rasanya sakit ya"lirih Caesar kemudian pergi ke kamar mandi.
Sesudah keluar dari kamar Caesar, Larissa menepuk keras dadanya yang terasa sakit mendengar bentakan Caesar tadi.
"Anj kenapa rasanya sesakit itu"lirih Larissa, dia yakin kalo itu perasaan pemilik tubuh bukan dirinya.
Larissa beralih ke dalam kamar nya untuk menyuruh Jarel ke bawah karna pria itu sudah bangun.
Terlihat Jarel sedang memangku laptopnya dengan wajah datar yang menghiasi wajah tampannya.
"Mas"panggil Larissa pelan dan langsung menutup laptopnya dan berdiri menghampiri lafiza.
Saat akan menggapai pintu Larissa tiba-tiba mendapatkan pelukan yang erat dari Jarel kemudian pria itu membalikkan badan istrinya agar membalas pelukannya tetapi Larissa sama sekali gak membalasnya.
"Aku gak mau pergi"lirih Jarel sambil mengecup ubun-ubun Larissa.
"Emangnya kamu mau pergi ke Mana?"tanya Larissa heran.
"Aku di ke jepang sama papa buat ngurusin perusahaan yang sedikit bermasalah"ucap Jarel.
"Ya kamu pergi lah ke sana"ucap Larissa yang membuat Jarel berdecak kesal karna ucapan istrinya.
"Masalahnya aku di sana mungkin sebulan atau gak lebih, aku gak mau ninggalin kamu sendirian di sini"rengek Jarel, dia mana bisa tahan gak ada istrinya di sampingnya, apa dia harus membawa Larissa juga ikut tetapi Jarel Langsung menggelengkan kepalanya karna dia tak mau istrinya kelelahan di sana hanya untuk menemaninya berkerja dan tidak ada orang yang Larissa kenal di sana.
"Kamu kok kayak anak kecil gini mas"ucap Larissa dan Jarel tak peduli dengan ucapan istrinya dan langsung saja dia menggendong istrinya ala koala ke meja makan sambil terus mengecup pipi istrinya lembut.
__ADS_1
Sesampainya di meja makan ternyata mereka semua udah di sana kemudian Jarel mendudukkan Larissa di kursi sebelahnya.
"Romantis kali lah kalian berdua, ntar gue juga gitu lah sama dua ponakan gue"ucap Fabiola menatap edrick dan Edgar yang hanya diam saja.
"Kasian di kacangin sama anak gue"ucap Larissa terkekeh dan semua mulai sarapan dengan tenang.
Setelah sarapan, chayton pergi ke kantor di temani sang istri karna dia sangat tak bisa jauh dari istrinya dan si kembar pergi ke sekolahnya.
Tiba-tiba Jarel mendapatkan telpon dari asistennya dan setelah selesai menelpon wajah Jarel terlihat sangat kesal kemudian
menghampiri istrinya yang berada di kamar.
"Sayang aku harus pergi sekarang. tapi aku juga gak mau pergi ninggalin kamu"rengek Jarel yang membuat Larissa mengehela nafasnya pelan.
"Kamu harus pergi, ntar kalo udah pulang aku aku janji bakalan habisin waktu aku buat kamu, bila perlu kita pergi liburan berdua saja supaya gak ada yang ganggu"ucap Larissa agar nanti Jarel gak kepikiran terus tentang dirinya saat pergi karena Larissa tau kalo Jarel Sudah level bucin ke dirinya tetapi dia tak boleh sombong atau kege'eran oke, harus tetap slayyy.
Jarel tersenyum senang mendengar itu kemudian memeluk istrinya erat dan setelah beberapa menit berpelukan Larissa melepas pelukannya dan mengecup pipi suaminya.
"Semangat kerjanya di sana, jangan nakal sama awas aja kalo kamu Deket sama cewek lain di sana aku bakalan pergi jauh sampe kamu gak bisa nemuin aku"uran Larissa bercanda tetapi Jarel menanggapinya serius dan memeluk Larissa lagi.
"Mana mungkin aku Deket sama wanita lain sementara aku aja udah ada istri yang sangat aku cintai"ucap Jarel mengecup beberapa kali kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
Larissa menganggukkan kepalanya, dia percaya kepada Jarel yang tak akan berbuat macam-macam karna Jarel bukan tipe orang yang suka selingkuh.
"Apa aku harus ikut ngantar kamu ke bandara?"tanya Larissa dan Jarel menggelengkan kepalanya.
"Gak usah mendingan kamu di rumah aja, Nanti kamu lelah, lagian justin sebenar lagi sampai sini"ucap Jarel dan Larissa menganggukkan kepalanya.
"Oh iya mas aku boleh gak nginep di sini sama anak-anak sampe beberapa hari kedepan? Soalnya kalo di rumah kamu aku kesepian "ucap lafiza.
"Rumah aku rumah kamu juga, apapun aku semuanya milik kamu juga sayang"ucap Jarel.
"Iya. Boleh kok asalkan kamu senang dan nyaman"lanjut Jarel menatap lembut istrinya dan tak lama kemudian terdengar suara bell yang berbunyi dan itu adalah Justin.
Jarel memeluk istrinya sebentar dan mengecup kening nya.
"Kamu jaga diri baik-baik di sana ya mas"ucap Larissa dan Jarel mengangguk sambil mencium. kening Larissa sekali lagi, Larissa tak di perbolehkan Jarel untuk ikut ke luar karna takut Larissa terpesona melihat Justin, mengingat pertemuan keduanya saat di kantornya saat itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Voment!
See youu