
Mereka pun dibawa ke balai desa setempat dan disana sudah ada atasan PT uang memiliki mes PT tersebut,, Fira hanya duduk diam sambil menunggu Mely datang untuk mewakilinya,,
tak berselang lama kedua orang tua Riyan datang dengan kemarahan mereka kepada Riyan, Riyan pun berjongkok sambil memegang kaki ibunya dan menangis meminta maaf,
"Bu maafkan Riyan, Riyan tidak melakukan apapun buk dengan dia" lirih Riyan sambil menangis.
"ibu tu sakit²an Riyan gak kasian kah liat ibu? kok bisa buat kayak gitu Riyan malu maluin ibu sama bapak ajaa" ucap ibunda Riyan sambil memegang dadanya yang sesak.
"Riyan lihat lah teman² mu itu senang² mereka main diluar sana tapi gak macem² kamu gak malu sama mereka? bapak aja malu Lo Riyan" lirih bapak Riyan
"iya pak Riyan minta maaf, Riyan janji gak akan ulangi ini lagi" Riyan menatap kedua orang tuanya sambil menangis,,
singkat cerita mereka pun dibebaskan setelah berjanji tidak akan mengulangi nya lagi...
****
Di kediaman William
"sudahlah acha jangan menangis terus, yakin lah masalah ini akan selesai ca" bujuk William kepada asya, "tapi ini menyangkut ayah kak, ayah pasti marah besar setelah tau itu kak dan pastinya aku yang kena sasaran nya" lirih asya dengan tatapan sendu kepada saudara kesayangan nya itu, William hanya senyum lalu memeluk asya lalu tanpa disadari asya pun tertidur dalam dekapan William.
keesokan harinya
"mbak, aku takut ayah marah mbak" lirih Fira sambil terus menangis, "mbak pun ikut takut Del bingung mbak gimana jelasin nya nanti malam pada ayah mu, tapi mbak bakal bantu sebisa mbak" balas Mely sambil memeluk tubuh Fira yang berbalut kulit palsu untuk menyembunyikan identitas asli asya
__ADS_1
tak terasa malam pun tiba dan pak Herman pun pulang dengan wajah yang memerah,,,
"yah, maafin aku" lirih Fira sambil memegang tangan ayahnya dan menangis,
"ayah ini kurang apa dalam mendidik mu Dela, ayah susah² cari uang untuk biaya sekolah mu malah kamu kayak gini ke ayah, ayah malu nak dipandang banyak orang" ucap pak Herman
"ayah akan datang ke rumah orang itu kamu dirumah aja" ujar pak Herman geram
di kediaman William
"Acha cepat mandi itu air nya udah kak iam siapin" ucap William
"iya sebentar lagi kak"
"aku takut jika saat aku pulang ayah masih marah padaku apa aku sanggup? selama ini ayah tidak pernah marah padaku tapi sekarang berbeda masalah nya" gumam asya sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong hingga tanpa disadari asya pun tertidur di kamar mandi itu,,,
William yang menyadari adik nya tidak kunjung keluar dari kamar nya pun segera memeriksa nya bersama ibu tiri yang selama ini mengasuhnya, "kira² Fira kenapa ya Bu kenapa dia belum menyusul ke meja makan juga," lirih William dengan wajah panik, "ibu pun kurang tau Will" seru ibunya,
setibanya di kamar Fira William segera memanggil asya tapi tidak ada jawaban dari adik kecilnya itu "Fir, kak Fira kamu dimana?" panggil William tapi sudah lama William disitu tidak ada jawaban dari asya, "apa dia tertidur di kamar mandi ya Bu" ucap William dengan panik, "coba ibu lihat dulu ya Will"
"Firaaaa, bangun nak kamu tidak apa kan" ujar ibu itu setengah berteriak karna khawatir hingga mengejutkan asya yang sedang tertidur, "astaga Bu maaf Fira ketiduran" ucap asya sambil mengusap-usap matanya,, "ya sudah ayo segera siap² ibu tunggu di ruang makan, itu Will sudah khawatir dari tadi nungguin" ujar ibu Weni sambil tersenyum hangat "baik Bu"
setelah selesai makan
__ADS_1
"kamu kenapa Cha?'
"tidak apa kak, Acha hanya takut jika hubungan Acha dengan ayah akan semakin menjauh akibat ulah kak Fira" ucap asya dengan tatapan sendu,,
"percayalah semua akan baik-baik saja Cha" ujar William menenangkan asya, asya pun hanya tersenyum hambar sambil mengangguk,,
seminggu kemudian
"kak iam gak terasa ya kita sudah dua Minggu bersama rasanya baru kemarin Acha kemari sekarang sudah pisah lagi" ucap asya sambil menatap William dengan tatapan sendu
"iya Cha rasanya kak iam gak ingin kamu pergi jauh dari kakak" balas William sambil memeluk tubuh asya,,
tak berselang lama mereka pun sampai di bandara Padang yang disana Fira sudah menunggu mereka,,
"kakakk" teriak asya sambil berlari kecil ke arah Fira
"hei kenapa berlari, nanti jatuh kamu" ujar Fira sambil terkekeh kecil,,
"kak apa ayah sudah tidak marah lagi?" tanya asya penuh selidiki
"sudah tidak karna kakak sudah berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi"
"ahh syukurlah akhirnya aku bisa tenang, aku akan rindu kalian" ujar asya sambil menangis menatap kedua saudara kembarnya itu,
__ADS_1
"kami juga akan merindukan mu Acha" ujar William, "sudah jangan menangis lagi nanti kamu jadi keriputan" goda William sambil tertawa kecil, mereka pun tertawa bersama sambil berpelukan,,