Paijo ( Pewaris Yang Tersembunyi)

Paijo ( Pewaris Yang Tersembunyi)
Paijo Kurniawan


__ADS_3

" mas Paijo sini mas! aku udah gak tahan nih..." Paijo bergidik ngeri melihat penampakan istri yang sudah ia nikahi beberapa menit yang lalu. dia masih belum percaya kalau dirinya bisa menikah dengan makhluk yang ada di kamarnya saat ini.


" emoh aku, kamu jauh-jauh sana jangan deket-deket sama aku. aku ngeri lihat kamu kaya gitu, bunda ......!!! tolong anakmu ini mau di perkosa sama Tuti!!!" teriaknya meraung memanggil sang bunda.


namun bukannya menjauh Tuti malah semakin mendekatinya berusaha untuk mencium Paijo. hingga membuat paijo semakin beringsut mundur dan mentok di kepala ranjang. melihat Tuti semakin mendekat dengan bibir yang di monyongkan bak pantat mo--nyet dia langsung bangkit dari ranjang untuk kabur dari kamar, namun nahas kakinya tersangkut selimut yang ia pakai untuk menutupi tubuhnya dari serangan bias Tuti.


brukkkkk


awwsssshhhh...


" sakit banget ya gusti pangeran...." ringisnya saat dirinya terjun bebas dari atas ranjang dengan pantat mencium lantai yang masih dingin karena cuaca mendung, di edarkan pandangannya keseluruhan penjuru kamar seraya memastikan sesuatu yang baru saja ia alami.


" huft.... Alhamdulillah ternyata cuma mimpi, tapi mimpi aja kaya nyata gitu kok, gimana kalo sampai kejadian aku benaran nikah sama si Tuti. iso mati enom awakku iki." gidiknya ngeri saat membayangkannya.


dengan tertatih Paijo berusaha bangkit dari lantai, rasanya pinggang paijo mau patah saat ini. pagi-pagi dirinya harus kena sial karena memimpikan si Tuti Nastiti. mungkin karena terlalu takut dengan si Tuti Nastiti yang terus-menerus mengejarnya tanpa henti.


dari jaman mereka SMP hingga mereka masuk SMA Tuti masih konsisten mengejar cintanya Paijo. namun bukannya terkesan dengan perjuangan si Tuti, dia malah ngeri melihat nya, bagaimana tidak ngeri? dia sudah mengklaim kalau Paijo itu suami masa depannya kepada gadis-gadis yang juga menyukai Paijo, sedangkan orang tua si Tuti sudah mengklaim kalau bunda Sahara adalah calon besan masa depannya. sungguh ibu dan anak itu membuat hidup paijo tak tenang setiap harinya. rasanya untuk bernafas sejenak saja tak bisa, semua udara di sekitar Paijo sudah terkena polusi virus si Tuti.


tok...tok...tok...


"Jo...! kamu baik-baik saja lek? kenapa kamu teriak-teriak begitu? jangan bikin bunda khawatir lek..." Paijo yang mendengar suara bundanya dari luar kamar langsung menghampirinya.

__ADS_1


ceklekkkk


bunda langsung melihat ke arah anaknya saat pintu terbuka.


" awakmu gak popo toh lek? tadi bunda denger kamu teriak di dalam kamar." tanyanya pada Paijo membuat Paijo menyengir seketika pada bundanya, dia tidak mungkin mengatakan kalau dia hampir saja di perkosa sama Tuti di alam mimpi kan?.


"gak popo bun, cuma mimpi di kejar demit." kilahnya pada bunda, sang hanya menghela nafasnya mendengar jawaban dari putranya.


" Makanya sebelum tidur kamu baca doa dulu biar gak mimpi dikejar demit." Paijo menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gata saat di peringatkan sang bunda. ingin rasanya dia menjawab pada sang bunda, Bun ini demitnya gak mempan sama bacaan doa apapun, demit nya lebih menakutkan dari pada raja jin, namun hanya bisa ia ucapkan dalam hatinya saja.


" yasudah kamu langsung mandi, udah jam setengah 5 juga waktu nya untuk sholat , bunda tunggu di depan yah? biar sayur-sayuranya bunda sama Mbah lanang yang ngangkutin ke atas mobil bak." Paijo mengangguk kemudian masuk kedalam kamarnya, bunda benar mungkin lebih baik dirinya membersihkan diri dan sholat segera untuk menghilangkan aura negatif dari Tuti yang menempel pada dirinya.


sebagai orang tua tunggal, Ningrum wajib mencari nafkah untuk anaknya sebagai pengganti tugas seorang ayah yang di bantu oleh bapaknya sendiri dengan mengelola hasil kebun dan sawahnya yang lumayan lebar.


di usianya yang menginjak 17 tahun tidak pernah sekalipun dia melihat wajah ayahnya sendiri, bahkan hanya sekedar foto saja tak pernah tau. setiap kali menanyakan tentang sang ayah, bunda selalu saja mengatakan kalau dirinya sudah tidak mempunyai ayah sejak masih dalam kandungan, entah ayahnya sudah meninggal atau sudah bercerai bunda tak memberitahukannya secara jelas, dan wajah sang bunda menjadi sedih setiap kali dia menanyakan tentang itu. sejak saat itu Paijo tidak pernah menanyakannya lagi.


dengan memiliki wajah yang sangat jauh dari orang Jawa pada umumnya, membuat Paijo terlihat berbeda sendiri di antara teman-teman dan keluarganya. wajah Paijo itu lebih seperti artis-artis di drama Korea yang sedang booming di kalangan gadis remaja di kampungnya. membuat dirinya menjadi idola di kampung halamannya.


terkadang Paijo bingung, dari mana dia mendapatkan wajah tampan yang sering membuat teman-teman lelakinya iri. tak ada mirip-miripnya dengan sang bunda apa lagi Mbah lanangnya. hanya bola mata dan senyumannya saja yang mirip dengan bunda. mungkin dia mirip dengan ayahnya pikir Paijo.


usai melaksanakan kewajibannya pada sang pencipta Paijo keluar kamar menuju dapur, tenggorokannya terasa kering sejak bangun tidur. dituangkannya air teh hangat yang ada di teko ke dalam gelas kosong.

__ADS_1


ceguk...ceguk...ceguk...


" ah....anget banget nih tenggorokan sama perut." ucapnya setelah berhasil meminum teh anget dengan mengelus-elus perut dan tenggorokannya.


" sudah selesai Jo?" tanya seseorang dari arah belakang.


" eh...wes Bun, aku langsung ke pasar dulu yah? Wedi ora ke oyak yen keliwat awan bun" jawabnya saat menoleh ke arah bunda yang sudah ada di belakangnya. bunda mengangguk saja sebagai jawaban.


sebelum menjalani aktivitas sebagai pelajar di SMA Negeri Karang Mulya, setiap pagi Paijo menjalani kewajibannya sebagai anak yang berbakti kepada bundanya mengantarkan hasil kebun dan sawah kepada para tengkulak-tengkulak yang ada di pasar.


" wih bocah bagus wes tekan ngene " sapa seseorang saat melihat Paijo menurunkan barang dagangannya. Paijo hanya tersenyum kepada orang itu, sudah biasa baginya mendapat panggilan seperti itu.


" nggih pak lek, keburu siang takut sekolahnya telat " orang itu mengangguk, kemudian membantu Paijo menurunkan karung-karung yang berisi hasil kebunnya.


" wes kabeh cah bagus?." Paijo langsung mengangguk.


" wes kabeh pak lek". jawabnya seraya membersihkan mobil pick up nya yang masih ada sisa-sisa hasil kebun yang tertinggal di atasnya.


orang itu kemudian mengeluarkan banyak lembar uang untuk diberikan kepada Paijo sebagai pembayaran penjualan hasil kebunnya. setelah menerima uangnya, Paijo langsung bergegas untuk pulang setelah pamit kepada orang itu. dia harus segera pulang untuk bersiap pergi ke sekolah pukul 7 .15 nanti.


demi masa depan yang sudah menantinya, dia harus berjuang lebih keras lagi dalam hal akademiknya di sekolah, meskipun dia siswa yang cerdas tak membuat nya bermalas diri, dia ingin suatu saat bisa membuat bundanya bangga dengan hasil kerja kerasnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2