
Tiba di rumah Paijo langsung memarkirkan mobil pick up nya disamping rumahnya, setelah mobil terparkir rapi dia kemudian keluar dari mobil untuk segera masuk ke dalam rumah.
"assalamualaikum Bun....Bunda hara......?" teriaknya.
tak ada sahutan dari bunda, Paijo pun mencari bunda di dapur namun saat berada di dapur tetap tak menemukan wanita kesayangannya.
Paijo terus mencari ke setiap sudut rumah, akan tetapi tak mendapati bundanya dimanapun. lalu dia memutuskan masuk ke dalam kamarnya sendiri, setelah melihat jam yang menggantung cantik di atas dinding ruang makan sudah menunjukan pukul 06.00.
sebelum masuk kamar mandi dia meletakkan semua barang-barang yang sejak tadi ia bawa kepasar seperti tas dan kunci mobil pick up ke atas nakas samping ranjangnya.
kucuran air dingin dari gayung mulai membasahi tubuhnya, rasanya begitu segar. rasa lelah sepulang dari pasar hilang seketika saat air mulai mengalir ke kulitnya.
usai bersih-bersih Paijo langsung bersiap dengan seragam SMA nya karena waktu sudah semakin siang.
tak ketinggalan pula sapuan Pomade pada rambutnya dan semprotan minyak wangi yang ia beli dari mart-mart menambah kegantengan dari seorang Paijo.
" ya ampun Jo...Jo ..ben dino awakmu makin nambah ganteng aja? ck...ck...ck..." sanjungnya sendiri dengan pede di depan cermin seraya mengacak rambutnya agar tak terlalu rapi.
usai bersiap dengan seragamnya tak lupa dia langsung menyambar tas gendong yang menemaninya hampir 3 tahun lamanya.
tas pemberian Mbah wedok saat beliau masih hidup, saat Paijo berulang tahun yang ke 14 tahun.
tujuannya saat ini adalah ke arah dapur, sejak tadi perutnya sudah berdemo meminta makan pada pemiliknya.
__ADS_1
saat tiba di meja makan, ternyata sudah ada Bundanya yang sedang menata makanan ke atas meja makan.
"Bun ?." wanita yang masih saja terlihat cantik di usianya yang menginjak 35 menengok ke arah belakang dimana putra tampaknya sedang berdiri.
" kamu sudah rapi?." elang langsung mengangguk seraya menggeser kursi di dekat bundanya yang tengah berdiri.
Paijo duduk disana. menuang air teh yang masih hangat ke dalam gelas kosong yang sudah Bundanya sediakan dimeja.
" tadi aku cari-cari gak ad Bun? kemana?". tanyanya setelah berhasil membasahi tenggorokannya dengan teh hangat.
" kapan?" Bunda berfikir sejenak dengan mata melirik ke atas." owh...mungkin bunda sedang ke warung Jo, Mbah minta kopi tapi kopinya habis, makanya bunda beli dulu di warung." jelasnya seraya mengambil piring untuk diisi nasi beserta teman-temannya.
" lah terus orangnya mana?." belum juga menjawab seseorang datang dari arah depan dengan menggerutu siapa lagi kalo bukan mbah lanang, yang tiap hari kerjaannya jengkel saja.
" ada apa sih pak? Iki isih sesuk, ojo nesu-nesu." tanyanya namun Mbah lanang tak menjawab, dia malah duduk didepan Paijo seraya menyeruput kopi yang sudah ada dimeja makan.
" hah... memang nikmat sekali pagi-pagi minum kopi pahit begini." ucapnya setelah berhasil mengahabiskan setengah kopinya.
Mbah lanang kemudian menoleh ke arah Paijo. meliriknya dengan tajam, membuat lelaki yang kegantengannya yang tidak bisa di ragukan lagi menyatukan alisnya.
"ada apa sih Mbah? kok aku seperti jadi terdakwa yah kalo di lihatin Mbah lanang kaya gitu?." tanyanya, pria tua itu menghembuskan nafas kasarnya.
" kamu sebenarnya sudah ngapain aja sama anak jolekha sih Jo? sampe setiap hari mereka membahas pernikahan kalian sama simbah?." mata Paijo membola sempurna, dia jadi teringat dengan mimpinya tadi pagi. seketi nafsu makannya menjadi hilang.
__ADS_1
Paijo menggeleng kepalanya cepat, dia juga heran dengan Tuti dan orangtuanya yang begitu gencar ingin mendapatkannya. banyak juga yang menginginkan Paijo menjadi pacar dan menantu mereka namun tak se-ekstrim Tuti dan orangtuanya.
" lalu kenapa mereka seperti ingin meminta pertanggungjawaban pada kita? setiap kali ketemu yang ditanyain, kapan mau nglamar Tuti pakde? saya tunggu loh niat baik dari keluarga Paijo, mereka berdua juga kan sebentar lagi lulus, gak papa kalo lamaran dulu lah, buat tanda jadi." ucap Mbah Lanang saat menirukan gaya bicara Bu jolekha.
" bapak rasane isin rum, ditanya begitu setiap ketemu di jalan, serasa si Paijo sudah berbuat yang enggak-enggak sama anaknya." dengus bapak, Paijo dan ningrum hanya menjadi pendengar saja selama pria tua itu mengomel tiada henti.
mbah Lanang memicingkan matanya kearah Paijo, membuat pria tampan itu menjadi gugup saat mendapatkan tatap laser dari Mbah lanangnya.
" sepertinya mukamu perlu operasi di bikin jelek sedikit Jo, supaya gak ada lagi seperti si Tuti-tuti dan keluarganya lagi yang ngejar-ngejar kamu sampe kaya orang sinting begitu." gerutunya lagi.
Paijo langsung meraba wajahnya sendiri setelah mendengar kata operasi. apa yang salah dengan dengan wajahnya? kenapa harus wajahnya yang disalahkan? bukan inginnya juga terlahir dengan wajah seperti ini.
dia memang berbeda sendiri dari segi wajah dibandingkan dengan pemuda tampan lain di kampungnya,. kegantengan Paijo yang berbeda dengan pemuda tampan pada umumnya membuat dirinya begitu mencolok di tengah masyarakat desa karang Mulya, tak jarang remaja di sana menjulukinya dutanya K-Pop desa karang Mulya.
" memangnya aku gak ada jelek-jeleknya ya Bun dari segi manapun? kok mbah lanang ngomong gitu sih sama aku? nyuruh aku operasi segala?." bunda meringis mendapatkan pertanyaan semacam itu dari anak semata wayangnya.
biasanya pertanyaan semacam itu untuk menyombongkan diri sendiri, entah kenapa saat Paijo yang bertanya kok rasanya ada rasa pilu ya? dia seperti tidak suka memiliki wajah tampan tapi menyulitkan hidupnya.
"sudah-sudah jangan dengarkan omongan Mbah lanang yang ini. lanjutkan lagi sarapannya terus berangkat sekolah, udah siang juga nanti kamu bisa telat." pak tua itu menatap sini kearah ibu dan anak itu, kemudian mendengus kesal ke rah mereka.
usai sarapan Paijo langsung berpamitan pada bund dan Mbah lanangnya. meski tadi sempat bersitegang dengannya, namu Paijo masih tetap menghormati pria tua itu sebagai kakeknya. masalah perdebatan sangatlah wajar bagi Paijo dan Mbah lanangnya. hampir setiap hari mereka mendebatkan sesuatu yang kadang tak masuk di akal.
seperti contohnya saat Mbah lanang sedang memandikan burung-burungnya setiap hari, Paijo heran dengan kebiasaan Mbahnya yang satu itu, hingga dia bertanya pada Mbahnya. kenapa burung-burungnya harus dimandikan setiap hari? Mbahnya menjawab biar burungnya mengoceh terus.
__ADS_1
Paijo yang memiliki otak cerdas tak terima dengan jawaban tak masuk akal dari mbahnya, menurut buku yang dia baca suara burung itu berasal dari kotak suara burung yang bernama syrinx yang membuat suara keluar dari berbagai trakea burung dan menghasilkan suara ketika burung itu berkicau, bukan karena sering dimandikan menjadikan burung itu terus berkicau.
hal-hal semacam itu kerap terjadi di dalam rumah Paijo. bunda lah yang sering menjadi penengah di antara mereka.