
tetttt...tetttt...tetttt....
bel istirahat telah berbunyi, para murid langsung berhamburan keluar kelas menuju tempat jajan favorit masing-masing, tak terkecuali Paijo dan sandi.
" jo...kamu mau jajan dimana? di kantin apa di gerbang depan?." tanya sandi.
Paijo yang masih membereskan buku-bukunya langsung menoleh kearah sahabatnya,berfikir sejenak sebelum menjawab.
"depan gerbang aja yuk? aku males kalo di kantin suka ada si Tuti and the Genk." jawabnya, sandi langsung mengangguk setuju.
tak apalah di depan gerbang banyak juga jajanan yang bisa mengenyangkan perutnya, sebenarnya dia ingin sekali makan nasi di kantin tapi sepertinya Paijo sedang tidak ingin berurusan dengan si Tuti.
" yasudah...ayok lah, GPL aku dah laper banget !! gara-gara pr dari Bu Astri aku jadi gak sarapan banyak hari ini, padahal tadi si mbok masak tumis kangkung kesukaan aku, sebel banget aku pas tau gurunya malah gak dateng" gerutu Sandi sebal.
" salah mu sendiri, kenapa nyalahin Bu astri?." cibir paijo seraya keluar dari dalam kelas.
mereka berjalan keluar gerbang sekolah, disaat jam istirahat seperti ini banyak penjual jajanan murah yang sangat di sukai kalangan siswa seperti mereka.
" udah jangan cemberut terus, ayok... keburu mamang yang jualan pada pergi ?." katanya lagi saat melihat kearah sandi yang masih memasang wajah kesal.
saat ini perut sandi terasa sangat lapar minta segera di isi. dia yang kalap langsung memesan jajanan yang bisa mengenyangkan dalam porsi jumbo.
satu porsi somay jumbo dan segelas cendol dawet sandi pesan, sedangkan elang yang tak terlalu lapar hanya memesan siomay porsi sedang dan segelas es cendol seperti sandi.
mereka makan di bawah pohon beringin dengan kursi yang disediakan dari penjual siomaynya.
somay yang masih hangat dengan sambal kacang yang berlimpah membuat sandi semakin kalap dan memesan lagi untuk kedua kalinya, membuat Paijo geleng-geleng kepala.
lain disekolah lain juga di rumah, saat ini Mbah lanang dan bunda sedang menghadapi tamu tak di undangnya yang sering membuat kepala mereka migran dengan tingkat kepedeannya.
sebagai tuan rumah yang baik sesuai yang diajarkan Rasulullah, bunda menyuguhkan dua cangkir teh manis hangat beserta camilan.
" silangkan diminum Bu jolekha pak Bandi, maaf yah seadanya." basa-basi Mbah lanang setelah bunda menyuguhkan minuman dan cemilan pada mereka, kemudian ningrum duduk di sebelah bapaknya.
tanpa sungkan lagi mereka meminum dan mencicipi kue basah yang sudah Mbah Lanang persilahkan.
__ADS_1
" emmm,,, maaf sebelumnya, ada urusan apa yah Bu jolekha sama pak Bandi bertamu ke rumah saya jam segini?." tanya bunda hati-hati, karena perasaannya sudah tidak enak sejak kedatangan mereka kerumahnya.
pasangan suami-istri itu tersenyum ke arah Bunda dan Mbah lanang. membuat kening anak dan bapak itu mengernyit.
" hahaha... sepertinya mbak Ningrum sudah tidak sabar ya untuk membahasnya? ya kan pak!." pak Bandi menoleh ke istrinya dan tersenyum membenarkan ucapan sang istri.
sedangkan anak dan bapak itu hanya saling berpandangan, karena perasaan mereka semakin tidak enak.
" emmmm...begini loh mbak Ningrum, sebelumnya saya minta maaf yah jika kedatangan kami kesini mengagetkan kalian, tapi....saya kesini ingin menanyakan langsung kapan kiranya kali akan datang kerumah kami untuk melamar Tuti sebagai istrinya paijo, sebentar lagi kan mereka sudah mau lulus? jika lamaran dulu juga tidak apa-apa kok." katanya dengan penuh percaya diri.
jedarrrrr
kepala Mbah lanang seolah di sambar petir, rasanya tubuhnya langsung panas menjalar hingga ke ubun-ubun. sedangkan ningrum langsung melirik ke arah bapaknya untuk melihat wajah kaget pria tua itu. bunda tau saat ini bapaknya sangat ingin memaki sekali orang yang sedang di hadapannya saat ini
kaget??? sudah pasti sangat kaget, mereka tidak mengira kalau keluarga sinting ini memiliki pikiran sampai kerah sana, padahal dengan jelas mereka tahu kalau Paijo sama sekali tidak memiliki hubungan spesial dengan anaknya yang jauh dari kata cantik menurut standar Paijo.
sedangkan Mbah lanang sudah pasti akan menolak jika berbesanan dengan orang seperti mereka . entah kenapa keluarga Bu jolekha sangat terobsesi dengan Paijo sejak dulu, banyak juga orang yang mengagumi anaknya namun tak segila keluarga ini.
" bagaimana mba rum?" tanyanya lagi memastikan.
Ningrum melirik kearah bapaknya yang sedang menghela nafas untuk meredam emosinya.
" hahahaha...mbak Ningrum ini lucu ya? masa anaknya pacaran sama anak saya sudah lama gak tahu sih? memangnya Paijo selama ini gak pernah cerita gitu?." Ningrum menahan nafasnya yang terasa sesak, rasanya mengahadapi siti jolekha perlu kesabaran yang luas.
" emmmm,, hehehehe sepertinya ada kesalahpahaman disini Bu jolekha."ucap Ningrum lagi.
" maksud mbak Ningrum kesalahpahaman seperti apa yah? kok, saya merasa mba Ningrum tidak setuju anak saya sama Paijo!." ucap pak Bandi mukai angkat bicara dengan sedikit meninggikan suaranya. bapak terlihat mulai tidak bisa menahan amarahnya namun Ningrum masih bisa menahannya lagi.
" emmm...begini Bu jolekha...pak Bandi... bukan maksud saya tak setuju. tapi anak-anak kita kan masih sangat kecil jika harus memiliki hubungan yang lebih serius la-----
" loh...malah lebih bagus kan, jadi menghindarkan mereka dari zina." potong jolekha sebelum Ningrum menyelesaikan ucapannya.
Ningrum dan bapak melotot tak percaya dengan ucapan dari wanita gila itu, bagaimana mau melakukan zina sedangkan Paijo saja jika melihat Tuti saja langsung memilih kabur.
bapak sudah tak bisa menahan lagi amarahnya, sudah cukup kelakuan keluarga itu membuat kepalanya semakin migran.
__ADS_1
brakkkkk
Mbah Lanang melakukan sesuatu yang tidak mereka duga, membuat mereka mau tak mau langsung keluar dari rumah Ningrum dengan wajah yang merah padam.
umpatan-umpatan keluar dari mulut mereka meskipun lirih, namun masih di dengar oleh Ningrum dan bapaknya.
" sabar pak..." ucap Ningrum mengelus punggung bapaknya ketika melihat wajah pria itu terlihat sangat marah.
"hufttt....rasanya bisa gila lama-lama bertetanggaan sama mereka rum." jawabnya seraya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
" mau gimana lagi, emang kenyataan mereka tetangga kita pak!." timpal Ningrum lagi.
" pede sekali mereka dateng-dateng nyuruh nglamar anaknya!!! putuku sing paling ngganteng dadi bojone si Tuti??? emoh bapak rum." sarkasnya.
" hush...gak boleh ngomong gitu pak! gak baik." tegur Ningrum pada bapaknya membuat bapak mencebik.
" memang benar kok, lagian belum tentu ayahnya Paijo setuju kalau tau anaknya menikah sama si Tuti, bapak aja yang orang ndeso saja emoh due mantu kaya si Tuti sing isone mung dandan saben dinone." sarkasnya lagi.
Ningrum menghela nafas kasarnya, yang di bilang bapaknya mengusik pikirannya. apa iya suatu saat nanti ayah biologis Paijo akan mencari mereka sampai sini.
" kayanya sampai kapanpun gak akan pernah tau pak, walaupun Paijo bukan nikah sama Tuti juga." ucap Ningrum dengan lesu, bapak menoleh ke arah sang anak yang sedang sedih.
" apa kamu tidak akan pernah memberitahu keberadaan Paijo dengan mantan majikanmu itu rum? bapak rasa baik Paijo dan ayahnya berhak tau satu sama lain." tanya bapak, Ningrum hanya menggeleng.
"rum juga gak tau mau sampai kapan merahasiakan ini sama Paijo, kalo ayahnya masih hidup. tapi jika rum memberitahu tuan Kim tentang Paijo, rum takut dia tidak menerima Paijo pak, sama seperti keluarganya yang tidak menginginkan Paijo, yang ada nanti Paijo akan semakin sedih jika mengetahui semua ini pak." ningrum menjeda.
" mungkin bagi mereka Paijo hanya sebuah kesalahan kecil yang dilakukan tuan Kim, tapi bagi rum Paijo sebuah kekuatan untuk rum." lanjutnya lagi.
bapak mendesah nafas lesu. dia merasa kasihan dengan nasib yang dia alami sang anak. disaat impiannya harus kandas saat sebuah kejadian menyesakan dimana dia di nodai oleh majikannya sendiri saat bekerja di negeri gingseng, meskipun tak di sengaja malam itu sangat membuat hidup Ningrum hancur, hingga setelah beberapa bulan sejak kejadian itu rum pulang ke Indonesia dalam keadaan perut sudah sedikit membuncit.
bapak dan ibu Ningrum langsung menangisi anak gadisnya saat itu, dan sampai akhirnya bapak membawa mereka berpindah ke kampung keluarga bapak, karena mereka tidak ingin melihat Ningrum tertekan dengan omongan para tetangganya.
jika mengingat saat-saat seperti itu, terkadang bapak menyesal membolehkan anak gadisnya terbang jauh mencari rejeki sampai ke negri sebrang.
namun yang sudah terjadi adalah takdir Allah, manusia tidak akan bisa merubahnya selain menjalaninya dengan iklhas.
__ADS_1
setelah badai itu, mereka dititipkan bayi yang sangat tampan. orang-orang bahkan sudah begitu menyukai Paijo sejak masih bayi. sejak kecil Paijo sudah menarik perhatian banyak tetangganya. kadang mereka suka heran kenapa Ningrum bisa melahirkan bayi setampan Paijo, Mereka juga suka bertanya tentang ayah dari Paijo, namun Ningrum hanya menjawabnya jika suaminya sudah tidak ada sejak Paijo masih dalam kandungan.
hingga sampai sekarang yang orang-orang tau Ningrum adalah janda beranak satu.