
Ningrum mulai mengerjakan matanya setelah beberapa jam lamanya dia tertidur karena pengaruh dari obat tidur yang sudah Dokter suntikan padanya. matanya menyipit saat kepalanya kembali berdenyut meski tak sehebat tadi pagi, dengan perlahan dia mulai mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruang itu yang terasa asing baginya.
ini dimana?
itu lah yang ingin dia tanyakan pada seseorang saat ini, namun nihil tak ada siapapun disini untuk dia tanyai.
saat ingin menggerakan tubuhnya, dia merasakan ada sesuatu yang menancap di tangannya membuat ningrum langsung meringis, wanita itu terkejut saat melihat kearah tangannya yang ternyata sudah dipasangi selang infus. tentu sekarang dia sudah tahu saat ini dirinya tengah berada dimana.
tapi pertanyaannya siapa yang membawa dia ketempat ini? apakah orang-orang yang ada di warung? rasanya Ningrum begitu penasaran, namun rasa penasaran itu harus simpan sampai ada orang yang masuk kedalam ruangannya.
rasanya ingin sekali dia bangun dari ranjang dan Keluar dari ruangan ini, tapi tubuh masih sulit untuk ia ajak kompromi, benar-benar lemas seperti tak bertenaga.
hingga tak lama pintu terbuka dari luar, muncul Paijo sepaket dengan wajah paniknya, di susul bapak di belakangnya.
" bunda?"
"Ningrum?" ucap mereka bersamaan berlari mendekati ranjangnya.
saat Ningrum sudah di tangani oleh dokter, orang-orang yang tadi membawa Ningrum langsung menghubungi bosnya untuk mengabari yang sebenarnya. awalnya mereka kaget saat melihat Ningrum bertengkar dengan salah satu ibu-ibu di warung. namun saat ingin membela, mereka tak berani mendekat. bosnya hanya memerintahkan mereka untuk menjaganya dari jarak jauh agar tidak ada orang yang curiga pada mereka, hingga saat ningrum pingsan mereka baru bergegas menolong Ningrum dan langsung membawanya ke klinik kesehatan terdekat untuk di berikan pertolongan pertama.
" kenapa kamu bisa masuk sini nduk?." tanya bapak merasa kasihan melihat anak semata wayangnya harus terbaring lemah dan tangannya terpasang selang infus.
" dan kenapa bapak bisa di jemput sama orang-orang berjas? ada apa yang sebenarnya terjadi." alis Ningrum menyatu, dia tidak paham dengan ucapan bapaknya, dia juga tak tahu menahu dengan orang-orang berjas itu
Paijo pun mengangguk dia juga ingin menanyakan hal yang sama juga dengan bundanya, karena dia juga di jemput oleh orang-orang berjas hitam yang membuat gempar sekolahan.
__ADS_1
" maksud bapak apa? rum benar-benar tidak tahu semua itu? siapa orang itu pak? apa mereka masih disini " cecar Ningrum bapak langsung mengangguk.
" benar Bun , aku juga di jemput orang-orang yang sama seperti yang jemput Mbah lanang di sekolah, aku tanya katanya mereka di suruh tuannya untuk jaga kita. kira-kira siap tuan mereka ya bun? kenapa di suruh jagain kita." katanya Paijo juga menceritakan hal yang sama pada bundanya.
bunda menggeleng lemah dengan otak yang terus menebak-nebak siapa sekiranya orang-orang itu? dan kenapa mereka di suruh menjaga keluarganya.
" bisa panggilkan mereka Jo? bunda ingin bicara dengan mereka." tanpa bicara Paijo mengangguk dan langsung keluar untuk memanggil mereka dan masuk kembali kedalam ruangan bundanya dengan salah satu dari mereka .
bunda meneliti dari atas sampai bawah orang yang sedang ada dihadapannya saat ini, dia benar-benar tak mengenal wajah ini.
" kamu yang menolong saya dan membawa saya kesini?." tanya tum to the point padanya.
" benar nyonya." jawabnya singkat, Ningrum menaikan satu alisnya saat dia memanggil dengan sebutan seperti itu.
" terimakasih karena sudah mau menolong saya, dan maaf boleh saya bertanya lagi?." pria mengangguk.
" siapa orang yang sudah menyuruh kalian menjaga kami? dan apa motifnya ? saya rasa saya tidak pernah punya sangkut paut dengan orang-orang seperti kalian selama ini " rum bertanya lagi pada orang itu.
" maaf nyonya saya hanya di tugaskan untuk menjaga nyonya dan keluarga nyonya saja, selebihnya kami tidak lah tahu." dahi Ningrum mengernyit saat tak puas dengan jawaban yang diberikan orang itu padanya.
" jadi maksudmu, kamu di perintahkan bos kalian dan bos kalian mendapatkan perintah lagi dari seseorang begitu?." pria itu mengangguk.
" kurang lebih seperti itu nyonya." ningrum terlihat menarik nafasnya kemudian membuangnya dari mulut.
" yasudah kamu boleh pergi, dan lebih baik kalian pulang, tak usah menjaga kami lagi. Karena kami selama ini hidup tanpa penjagaan dari siapa kecuali Allah yang selalu bersama kami " terangnya, pria itu pamit undur diri namun masih tetap berjaga di depan pintu kamar rawat Ningrum.
__ADS_1
Paijo dan bapak mendekati ranjang Ningrum dan duduk di pinggir ranjang Ningrum.
" bagaimana Bun? " tanya Paijo dijawab gelengan kepala oleh Ningrum.
" seperti yang kalian dengar barusan, bunda juga tak tahu siapa yang sudah menyuruh mereka." jawabnya pada mereka.
bapak terlihat sedang berfikir, saat Paijo tengah memijat kaki Bundanya.
" Jo, bukannya kamu belum makan sejak pulang dari sekolah? lebih baik kamu segera makan, jangan sampai kamu ikutan sakit juga. Mbah gak sanggup jika harus menjaga dua orang sakit sekaligus." katanya pada sang cucu.
" yang di katakan Mbah lanang benar Jo, mending kamu makan dulu di kantin, bawakan juga makanan untuk Mbah lanang juga." bunda ikut menimpali perkataan bapaknya.
" yasudah aku keluar dulu cari makan, ibu ada sesuatu yang mau dimakan juga? biar aku bawakan sekalian." ningrum menggeleng, mulutnya terasa pahit dan tidak enak untuk makan.
" emmm yasudah kalo gitu aku keluar dulu." bunda dan mbah lanang mengangguk.
setelah Paijo keluar, bapak dan anak itu saling menatap. bapak mulai membuka suaranya lebih dahulu.
" rum...apa orang - orang itu suruhan dari bapak kandungnya Paijo ya?." tanya bapak membuat anaknya terkejut.
dia juga sempat berfikir ke arah sama, namun pikiran itu langsung Ningrum tepis, rasanya mustahil jika bekas majikanmu itu mengetahui keberadaannya sekarang, apalagi sekarang ada Paijo yang majikannya itu tak tahu jika perbuatanya dulu menghasilkan Paijo di dunia ini.
" rum gak yakin pak! untuk apa dia mencari Ningrum, dan lagipula saat rum hamil anaknya dulu dia juga tidak tau, kalo pun tau benar kata bibinya, dia tidak akan mau mengakui Paijo sebagai anaknya, karena malu anaknya yang lahir dari wanita rendahan seperti aku, dan kita bagai langit dan bumi pak, jauh sekali perbedaanya." terangnya dengan wajah sendu.
jika ingat dulu saat bibi dari tuannya mengancamnya akan membunuh bayi yang ia Kandung rasanya begitu menyakitkan, maka dari itu Ningrum memutuskan keluar dari pekerjaannya dan kembali ke tanah air meskipun nanti orangtuanya akan kecewa padanya. dia tidak akan pernah menyakiti darah dagingnya sendiri meski harus tumbuh di waktu yang salah.
__ADS_1
tapi jika memang orang-orang itu benar suruhan mantap majikannya, rasanya rum belum siap untuk bertemu lagi dengannya setelah malam kelam itu, dan dia takut jika dia datang hanya untuk mengambil Paijo saja. hati rum tiba-tiba sangat gelisah memikirkan jika itu sampai terjadi.