
jika di rumah sakit yang saat ini suasananya sedang melow lain lagi di kediaman Paijo, para bodyguard yang menjaga tuan mudanya harus menghadapi tingkah tuti yang ingin menerobos masuk rumah Mbah Lanang demi bertemu dengan pujaan hatinya.
pantang menyerang demi mendapat perhatian dari Paijo.
" Jo....aku di depan Jo, keluar dong! mereka semua ngalangin aku buat ketemu kamu, Jo...!" teriaknya tak putus asa meskipun sudah mendapatkan tatapan tajam dari orang-orang yang menjaga Paijo di luar rumah.
bukan Tuti namanya kalo punya malu, bahkan orang tuanya saat ini tengah menutupi wajahnya sendiri dengan telapak tangannya karena ulah sang anak.
sementara didalam rumah Paijo yang merasa terusik tidurnya mulai mengerjapkan kedua matanya.
dahinya mengernyit saat telinganya samar-samar mendengar suaranya teriakan dari luar rumah.
pemuda tampan itu merenggangkan otot-ototnya yang kaku setelah bangun dari tidurnya, entah sudah berapa lama dia tertidur di dalam kamar karena saat ini hari sudah semakin Sore.
dengan langkah gontai dia keluar dari kamarnya menuju suara berisik yang sudah menganggu tidurnya.
" bapak awas kenapa sih...!!? saya cuma mau ketemu pacar saya, kasihan pacar saya di dalam sendirian, dan lagian perlu bapak-bapak tahu yah...saya itu bukan cuma pacarnya Paijo saja tapi saya itu calon istrinya Paijo, majikan kalian!!! kalian paham gak sih!!!." teriaknya lagi di depan para pria yang sedang menghadangnya agar tak sampai masuk kedalam rumah.
" Tut...sudah ayok pulang, percuma kamu teriak- teriak gitu, mungkin Paijonya gak ada di dalam...lagian kamu gak malu apa di lihat banyak orang, tuh..." bujuk ibunya seraya menunjuk kearah para tetangganya yang mulai memperhatikan keributan yang di lakukan oleh Tuti.
Tuti kesal dengan ibunya, bukannya membantunya mendapatkan Paijo, ibunya malah mengacaukan rencananya.
gara-gara pertengkaran ibunya dengan bunda Ningrum, Tuti akan semakin susah saja untuk mendapatkan perhatian dari paijo.
bibirnya langsung mengerucut." pokoknya kalo aku gak bisa sama-sama paijo semua gara-gara ibu, aku benci lah sama ibu." bentaknya seraya menghentakkan kaki meninggalkan ibunya yang masih terpaku di tempat.
jolekha sampai mengusap dadanya sendiri dengan kelakuan anaknya yang sudah keterlaluan menurutnya.
" astaghfirullah..." jolekha sampai beristighfar dengan menggelengkan kepalanya pelan.
melihat anaknya semakin menjauh jolekha segera mengejarnya, dia takut anaknya melakukan yang tidak-tidak lagi yang akan membuatnya semakin malu nantinya.
di sekitar sana para tetangga yang melihat kelakuan ibu dan anak itu, mulai mencibir semua kelakuan Tuti.
" ya ampun...aku mah emoh duwe mantu koyo si Tuti, Ra ndue sopan santun mbe wong tuo." cibir salah satu dari mereka.
( ya ampun...aku mah gak mau punya menantu kaya tuti, gak punya sopan santun sama orang tua).
" Iya.... benar banget, sama ibunya sendiri aja berani bentak-bentak apalagi sama mertuanya. hih... amit-amit.... amit-amit..." timpal satunya lagi.
" lagian siapa sih yang mau besanan sama si jolekha yang mulutnya ember begitu, segala macam berita di jadikan bahan ghibahan, padahal belum tentu bener enggaknya." timpal yang lainnya lagi yang langsung di benarkan yang lain.
mereka terus membicarakan kejelekan jolekha dan anaknya seraya meninggalkan tempat itu.
tontonan sudah habis, mereka membubarkan diri untuk kembali kerumah masing-masing, apalagi hari sudah semakin sore.
sementara paijo yang baru keluar dari dalam mengernyitkan dahinya saat melihat tak ada siapapun lagi selain orang-orang suruhan ayahnya yang sengaja untuk menjaganya.
__ADS_1
padahal dia tadi mendengar jelas ada suara keributan dari luar rumahnya.
Paijo langsung menghampiri orang-orang yang menjaganya dan membuat orang-orang itu langsung membungkuk hormat kepadanya.
" tadi bukannya ada suara ribut-ribut di luar, ada apa? " tanya Paijo kepada mereka.
para bodyguard itu saling melirik. mereka ragu untuk mengatakannya pada anak dari tuannya.
Paijo yang melihat itu langsung berdehem." ada apa sebenarnya?" tanya paijo lagi kepada mereka.
" maaf tuan muda, karena sudah menganggu waktu istirahat anda. tadi hanya ada insiden kecil, tetangga anda memaksa masuk ke dalam rumah padahal saya sudah mengatakan kalau anda sedang istirahat." salah satu dari mereka menjelaskan kepada Paijo tanpa mendongakkan kepalanya.
mereka takut kalau Paijo sampai melaporkan kejadian tadi kepada bosnya, sudah dapat dipastikan mereka akan mendapatkan hukuman dari bosnya nanti karena sudah membuat tuan mudanya terganggu.
" owh...saya kira apa. yasudah kalian lebih baik istirahat dulu. sebentar lagi maghrib." ucap paijo yang membuat hati mereka senang seketika.
bukan karena tawaran dari Paijo, namun karena dari nada bicaranya tak ada tanda-tanda kemarahan dari tuan mudanya.
"huft....aman kita kali ini, lain kali kita langsung usir saja lah perempuan itu kalau datang kesini lagi." ucap salah satu dari mereka setelah paijo kembali masuk ke dalam rumah.
" iya lah, belum tentu kan lain kali kita akan lolos dari kemarahan tuan muda." balas salah satunya lagi.
" hemmm...bener tuh. udah sekarang kita masuk kedalam, jgn sampai tuan muda malah marah karena tidak menuruti perintahnya."
mereka pun masuk kedalam rumah Paijo dengan perasaan lega.
di rumah sakit.
menceritakan kejadian masa lalu sebenarnya membuka lama bagi Mbah lanang dan ningrum.
kejadian 18 tahun silam mengubah semua tatanan hidup keluarga Mbah lanang.
Mbah lanang masih mengingatnya dengan jelas ketika anaknya pulang dari luar negeri dengan membawakan sejuta kesedihan.
Mereka bahkan harus berpindah tempat tinggal demi membuat ningrum nyaman dengan kehamilannya karena tidak memungkin untuk Ningrum melahirkan di tempat kelahirannya, sebab orang-orang pasti akan mencemooh Ningrum, bagaimanapun Ningrum saat itu hamil tanpa adanya suami.
pulang dalam keadaan hamil tentu menjadi bahan gunjingan untuk masyarakat sekitarnya.
Mbah lanang dan Mbah wedok tak ingin anaknya menjadi stres.
Ningrum yang melihat mata Mbah lanang sudah berkaca-kaca langsung memeluk tubuh pria tua itu.
dia bisa merasakan kesedihan yang mendalam yang dirasakan Mbah lanang sebagai orang tua.
" maafkan Ningrum pak...sudah membuat bapak dan ibu sudah selama ini." ucap ningrum kepada bapaknya yang saat ini sudah meneteskan air mata.
dia merasa sangat bersalah terhadap bapak dan ibunya selama ini, hingga ibunya meninggal Ningrum belum bisa membuat kedua orang tuanya bahagia.
__ADS_1
perasaan bersalah itu terus dirasakan Ningrum sampai sekarang, padahal Mbah wedok sudah mengikhlaskan semuanya sebelum kematiannya.
sejak kelahiran Paijo, bayi laki-laki yang sangat tampan membawa kebahagiaan sendiri pada keluarganya. Mbah wedok dan mbah lanang sangat senang mendapatkan cucu setampan Paijo.
" saya akan bertanggung jawab untuk semua yang pernah saya lakukan kepada ningrum." ucap Kim Yoo Joon tiba-tiba membuat anak dan bapak itu melepaskan pelukannya.
ningrum menatap tajam kearah Kim Yoo Joon, sedangkan Mbah lanang yang tak tahu apa yang sudah Kim Yoo Joon katakan hanya menatapnya datar.
entah apa yang Mbah lanang pikirkan saat ini.
" apa yang tuan katakan? apa saya terlihat seperti minta pertanggung jawaban dari anda?" ucap Ningrum dengan tatapan sengit kerah Kim Yoo Joon.
hati Ningrum belum lah siap mendengarkan itu, bagaimana bisa mantan majikannya berkata seperti itu begitu entengnya tidak menghiraukan perasaannya seperti apa.
apa begitu mudahnya bagi seorang pengusaha seperti mantan majikannya itu untuk mempermainkan hati seseorang ?
apa orang-orang seperti Kim Yoo Joon selalu bertindak sesuka hatinya?
" saya yakin dengan perkataan saya, bila perlu saya akan menikahi kamu sekarang juga." ucapnya tegas menatap kearah Ningrum.
tatapan mereka terkunci hingga seperkian detik terputus dengan Ningrum yang menghembuskan nafas kasar.
kepalanya menggeleng tak percaya, bagaimana bisa mantan majikannya menikahinya.
rasanya mustahil.
dirinya bagaikan bumi dan langit.
bahkan saat menjadi pelayan di mansionnya saja Ningrum tak percaya saat itu, dia yang hanya gadis kampung bekerja di sebuah rumah yang menurutnya bagaikan istana.
" sebaiknya tuan pulang saja, sepertinya anda kelelahan. pak Hwang... bawa tuan Kim pulang, dia harus istirahat." teriak ningrum memanggil asisten Kim Yoo Joon.
Kim Yoo Joon langsung memberikan kode lewat gerakan matanya saat Hwang akan mengucapkan sesuatu.
" saya akan kembali lagi besok pagi dan pastikan kamu harus segara sembuh agar kita bisa segera menikah." ucapnya ringan seolah tak ingin dibantah membuat Ningrum melotot tak percaya.
semetara Kim Yoo Joon yang mendapatkan pelototan dari ningrum hanya mengulum senyum tanpa sadar.
membuat Hwang dan Ningrum terkejut tak percaya saat melihat tuannya tersenyum meskipun senyumnya sangat kaku.
apa itu? apa tuan Kim baru saja tersenyum? karena apa? apa aku melakukan sesuatu yang membuatnya lucu?." ningrum terus berbicara dalam hatinya menatap heran kearah mantan majikannya itu.
ternyata tuan Kim benar-benar sudah jatuh cinta pada mantan pelayannya, ucap Hwang dalam hatinya.
nih penampakan aboeji Kim Yoo Joon.
__ADS_1
maaf ya gaeess kalau kalian gak suka dengan visual dari Kim Yoo Joon pilihan othor, karena gambar hanya pemanis saja.
kalian bisa berimajinasi dengan visual lain yang pas menurut kalian.