
saat ini Kim Yoo Joon sudah tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta bersama Hwang asisten pribadinya, mereka langsung di jemput oleh orang yang Joon sewa selama di Indonesia.
rasanya semua yang ia lihat begitu asing, karena Joon baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di Indonesia. meskipun dia juga memiliki banyak kerja sama dari beberapa pengusaha asal Indonesia, dia tak pernah datang kesini secara langsung. melainkan sekertaris kantornya lah mengurus semuanya, atau bahkan mereka sendiri yang datang mengunjungi Kantor pusat Joon di Korea.
kesibukan Joon bukan hanya mengurus perusahaan pertelevisian miliknya saja, melainkan dirinya juga memiliki bisnis lain di bidang kesehatan, perhotelan, dan fashion dan. bisa kalian banyangkan sendiri kekayaan dari Joon, dan seberapa kayanya Paijo kelak jika dia tahu bahwa dirinya bukanlah anak petani saja melainkan anak dari pengusaha besar asal Korea.
" selamat datang tuan Kim?" Joon hanya mengangguk sekilas lalu langsung masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh surya.
brakkkk
pria itu kemudian masuk kedalam mobil setelah tuannya dan asistennya sudah duduk nyaman didalam mobil.
Surya, orang suruhan dari Hwang yang di pilihnya untuk membantu mereka selama di Indonesia. dia juga yang selama ini mencari informasi tentang Paijo dan Bundanya.
saat ini Surya akan mengantarkan mereka ke sebuah penthouse mewah di daerah Jakarta yang sudah joon beli untuk tempat tinggal mereka selama di Indonesia. dia tidak mau mengambil resiko apapun jika harus tinggal di hotel, karena kemungkinan besar bibinya mengirimkan seseorang untuk memata-matai setiap kegiatannya saat ini. dia sangat yakin, sejak pertemuan yang terakhir kali dengan bibinya, wanita serakah itu sudah mulai mencurigai tentang perubahan sikap Joon terhadap dirinya.
mobil yang Surya kendarai mulai melaju membelah jalan raya yang terlihat begitu sepi karena saat ini masih dini hari, Joon sengaja menjadwalkan penerbangannya agar mereka sampai di Indonesia saat hari masih gelap, dia tidak mau sampai kedatangannya di ketahui oleh orang-orang yang mengenalinya saat tiba di Indonesia nanti.
hampir satu jam lamanya surya melajukan Rolls-Royce milik tuannya membelah jalanan yang masih gelap, hingga mobil itu berhenti di sebuah sebuah bangunan mewah yang menjulang tinggi, dan hanya pengusaha besar saja yang mampu memiliki salah satu unit disana, dan salah satunya adalah kim Yoo Joon. dia membeli unit teratas dari apartemen tersebut. sebuah penthouse mewah yang berada paling atas apartemen mewah tersebut.
sebuah penthouse dengan segala fasilitas kemewahannya menjadi tempat bermalam Joon sementara, sebelum dirinya melanjutkan perjalanan kembali ke tempat yang akan dia tuju.
usai mengantarkan tuannya, Surya berpamitan dan akan kembali lagi esok hari saat tuannya menghubungi kembali.
Surya memang tak pernah mau bekerja yang membuat dirinya terikat langsung pada pihak tertentu, dia hanya akan mengambil pekerjaan jika ada yang membutuhkan tenaga ahlinya saja. dia ahli dalam bidang mengorek informasi seseorang meskipun dari masa lalu. dulu dia adalah seorang Intel yang bekerja di sebuah instansi pemerintah, namun karena suatu kejadian mengharuskan dirinya keluar dari instansi tersebut.
...****************...
di kampung rawa mulya seperti biasa, setiap pagi seorang pemuda tampan selalu melakukan kewajibannya membantu sang bunda mengantarkan hasil kebunnya kepada para tengkulak di pasar, usai dari pasar Paijo langsung bersiap untuk bersekolah.
bundanya yang hari ini kurang enak badan, membuat pria tampan itu memasak untuk sarapannya sendiri dan Mbah lanangnya.
Paijo tak pernah mengeluh melakukan itu semua walaupun ia harus mengerjakan itu setiap paginya, baginya melihat bundanya selalu sehat dan tersenyum adalah kebahagiaan tersendiri untuk Paijo.
usai sarapan dia berpamitan pada bunda dan mbah lanangnya untuk segera berangkat ke sekolahnya karena hari sudah semakin siang.
__ADS_1
kabar tentang Paijo yang mendapatkan beasiswa ke Inggris sudah tersebar di penjuru sekolahnya, membuat fansnya Paijo semakin kagum saja dengan pesonanya.
di dalam kelas, sahabatnya sandi sudah duduk di bersandar di bangkunya dengan tangan yang terlipat di dada. matanya terus menyorot tajam kearah pintu, hingga tak lama orang yang di tunggunya sejak tadi muncul di luar sana.
semua yang ada di dalam kelas langsung bersorak ke arah Paijo saat pemuda itu batu memasuki kelas, dia begitu terkejut dengan reaksi teman-temannya saat tahu tentang berita ini.
baru saja kemarin dia mendapatkan pengumuman resmi dari kepala sekolahnya, dan dia tak menyangka jika mereka akan tau secepat ini. bukan Paijo tak senang dirinya di elu-elukan, namun dia merasa risih jika semakin menjadi sorotan di sekolahnya, terlebih Siti pastinya akan semakin mengejar-ngejarnya.
brughhhh
Paijo melemparkan tasnya ke atas meja dan duduk di sebelah sandi. kemudian dia menoleh kearah temannya yang terlihat aneh hari ini, biasanya dia yang paling heboh jika mendengar berita tentang dirinya. terlebih ini adalah berita yang cukup besar. namun sepertinya sahabat itu sangat tidak tertarik dengan berita kali ini.
" ngopo toh? loro?." tanya Paijo saat melihat temannya terlihat lesu hari ini.
sandi hanya diam saja, namun dia melirik sekilas ke rah Paijo saat temannya itu bertanya. pemuda itu hanya menggeleng saja.
" lah terus Nang opo? putus mbe Santi?." sandi menggeleng lagi. Paijo langsung menyatukan alisnya saat temannya ini terus saja menggeleng ketika ditanya.
" ngopo sih? emmm.... pasti rung sarapan toh?" tebak Paijo lagi namun temannya tetap saja memberikan jawaban nya dengan gelengan.
Paijo mulai kesal sendiri dengan jawaban sahabatnya, yang kemudian mengacuhkan sikap sandi hari ini yang menurut nya sangat aneh.
sedangkan di rumah Paijo, bunda baru saja keluar dari kamarnya setelah dirinya beristirahat sejak pagi, karena perutnya mulai terasa lapar. saat ini keadaan rumah sudah terlihat sepi, karena bapaknya sudah pasti pergi ke Kebun dan anaknya yang sudah berangkat ke sekolah.
Ningrum langsung pergi ke dapur berniat membuat sesuatu untuk mengganjal perutnya yang lapar. sebuah senyuman langsung muncul dari bibirnya, saat melihat ada sepiring nasi goreng di atas meja makan dan segelas teh yang sudah dingin. mungkin Paijo sengaja menyiapkannya untuk dirinya saat terbangun nanti, pikir Ningrum. seketika hatinya terenyuh akan sikap anaknya yang sangat bertanggung jawab pada keluarganya di usianya yang masih remaja, dan ningrum juga bangga dan bersyukur bisa mempunyai putra seperti Paijo, yang sangat mengerti keadaan bundanya.
usai melahap nasi goreng buatan anaknya, dia berniat memasak makan siang untuk mereka, namun di dalam kulkas tak ada apapun yang bisa ia masak karena semua bahan sudah habis. Ningrum pun memutuskan untuk ke warung lebih dulu untuk membeli bahan untuk masakannya nanti.
sudah se siang ini namun warung sayur masih saja terlihat ramai, banyak ibu-ibu berkumpul di warung Bu saroh, entah hanya berbasa-basi memilih-milih sayuran agar bisa bergosip atau memang benar belanja sambil bergosip. obrolan yang awalnya terdengar sangat kencang, namun menjadi bisik-bisik saat kedatangan Ningrum di warung Bu saroh.
" eh mbak rum...belanja mbak?" Ningrum tersenyum saat membalas sapaan dari ibu-ibu yang sedang berbelanja juga disana.
namun tanpa Ningrum duga, ternyata disana juga ada Bu Susi. Ningrum tetap bersikap ramah padanya walaupun setelah kejadian kemarin. sepertinya wanita itu masih marah dengannya. ningrum mengendikkan saja bahunya cuek, saat bu Susi mengabaikan sapaannya.
dia mulai memilih-milih sayuran yang akan ia masak nanti, menghiraukan tatapan-tatapan dari mereka yang sedang menatapnya dengan aneh.
__ADS_1
Ningrum tak memperdulikan itu semua, tak ada niatan untuknya ikut bergunjing. karena niatnya hanya untuk belanja sayuran yang akan ia masak.
Setelah barang belanjaannya selesai di hitung, dia berpamitan kepada yang lain, walaupun hanya sekedar berbasa-basi saja, karena dia tak mau di anggap sombong oleh orang lain. belum juga jauh melangkah dia malah mendengar selentingan kata-kata kotor yang sangat menyakitkan hatinya yang tidak tau untuk siapa. namun saat Bu Susi yang angkat bicara, ningrum langsung berbalik lagi kearah mereka.
" cih dasar pelacur gak tau malu!, sok suci banget jadi orang." desis Bu Susi menghasut ibu-ibu yang lain.
" he'em bu, mungkin dia sengaja kabur ke kampung kita, karena ketahuan jadi simpanan orang kaya di kampungnya yang dulu." timpal yang lainnya.
" bener banget tuh, mungkin dulu Bu Ningrum di labrak istri sahnya kali ya, makanya kabur kesini."
" iya bener tuh, berarti si Paijo anak haram yah bu? hih...aku mah emoh duwe mantu dari keluarga ora jelas ngono."
telinganya semakin mendengar dengan jelas, saat semua orang melontarkan tuduhan-tuduhan keji kepada nya. dadanya seketika terasa panas, kepalanya kembali berdenyut, malah semakin hebat dari yang tadi pagi.
" iya, aku juga nyesel setelah tau Paijo anak haram, kalau memang bukan anak haram harusnya kan ada keluarga dari pihak ayahnya yang datang mengunjunginya biarpun suaminya sudah meninggal, iya kan?". kata Susi lagi yang semakin tak di filter ucapannya, mereka semua mengangguk termakan hasutan dari Susi.
" ehemmm...." semua langsung terkejut saat melihat Ningrum ada di belakang mereka, namun dengan cueknya bu Susi menghiraukan tatapan tajam dari Ningrum, karena merasa semua perkataan adalah benar.
" maaf bu-ibu, apa selama ini kalian memandang saya dan keluarga saya sangat hina seperti itu? saya bukanlah simpanan dari pria manapun!!! dan anak saya bukanlah anak haram, kalian paham!!! dia masih punya ayah!!! dan jika ayahnya ataupun keluarga dari ayahnya tak pernah datang mengunjungi Paijo disini, itu bukanlah urusan kalian. itu adalah urusan keluarga kami." ucap ningrum dengan wajah memerah karena menahan tangis.
" kalian bisa saja saya laporkan atas tuduhan pencemaran nama baik jika saya mau, karena sudah menuduh saya dengan keji seperti ini" lanjutnya lagi membuat semua orang yang disana terdiam dan mulai takut saat ningrum membawa-bawa polisi.
" dan ingat bu-ibu, kalian yang ada disini masih memiliki anak perempuan, semoga saja tuduhan keji kalian terhadap saya tidak akan berbalik menyerang pada anak-anak kalian nanti." tunjuk rum kearah mereka.
" hei.....Ningrum, wanita gila!!! kurang ajar kamu yah! berani menyumpahi anak-anak kami seperti itu? kamu pikir kamu siapa? saya tidak takut dengan ancaman kamu, bila perlu kamu yang akan saya laporkan ke pihak kelurahan karena sudah mengotori kampung sini, jadi simpanan orang kaya saja kamu sudah belagu!" teriak Susi tak kalah, dia kembali menghasut yang lain karena gertakan Ningrum mulai membuat mereka yang disana ketakutan.
Susi tak akan membiarkan usahanya untuk menghancurkan nama baik ningrum sia-sia. dia ingin membalas penghinaan yang sudah ia terima atas penolakannya kemarin, dengan cara menghasut ibu-ibu yang lain untuk membenci Ningrum dan keluarganya.
Ningrum tersenyum miring, dadanya rasanya semakin panas, kepalanya semakin berdenyut saat Susi mulai angkat bicara.
" owh,,,saya paham sekarang. ternyata ini yang di maksud ancaman Bu Susi kemarin setelah lamaran anda di tolak oleh bapak saya?." semua orang yang disana menatap ke arah Susi, wanita sedikit gelapan saat di tatap seperti itu oleh mereka.
" apa maksudmu? jangan fitnah yah kamu? dengar ya bu-ibu! jangan dengarkan ucapan wanita gila ini, memang benar niat saya ingin menjodohkan anak saya dengan si Paijo, namun saya mengurungkan niat saya saat tahu kalo Paijo itu anak harap dari ayah yang tidak jelas asal-usulnya." sarkasnya dengan sedikit salah tingkah, namun dia berusaha mempertahankan egonya.
" diam......!!! saya benar-benar tidak terima dengan tuduhan yang Bu Susi ucapkan pada saya dan anak saya!!! saya akan laporkan semua ini pada polisi atas kasus pencemaran nama baik." ucap ningrum lagi dengan nada yang masih tinggi membuat kepalanya semakin berdenyut hebat, dan tak lama Ningrum ambruk jatuh di atas tanah.
__ADS_1
orang-orang yang disana mulai ketakutan saat melihat ningrum pingsan. Bu saroh sebagai pemilik warung yang tak mau terkena masalah langsung menolong Ningrum, namun belum sempat dia menolong Ningrum, beberapa pria berjas datang menghampirinya. terlihat jelas wajah panik dari pria-pria itu, dan langsung membawa Ningrum masuk kedalam sebuah mobil mewah, entah kemana orang-orang itu akan membawa Ningrum pergi mereka tak tahu.
orang-orang disana terlihat kebingungan dan takut saat melihat beberapa pria berjas mendekat dan langsung membawa pergi Ningrum dengan mobil mewah, yang tak pernah mereka lihat di kampungnya.