
suasana kamar rawat Ningrum menjadi hening setelah sandi keluar dari sana. kedua pria yang berbeda generasi itu saling memindai, mata mereka saling mengunci satu sama lainnya, sedangkan Ningrum saat ini terlihat membuang mukanya kearah lain karena tak menduga hal ini akan terjadi.
jika joon saat ini terlihat sangat bahagia meskipun wajahnya masih saja datar, tapi tidak untuk Ningrum. hatinya tidak siap untuk menerima kejutan sebesar ini. dia terlihat memejamkan matanya berharap ini hanya mimpi buruk baginya. namun kenyataannya ini benar-benar nyata. dia tak bisa memungkiri itu karena orang yang paling tidak ingin ia temui lagi telah berdiri disampingnya.
" apa tidak ada yang bisa bunda katakan padaku selain diam? aku hanya butuh kejelasan bun." katanya memaksa lagi pada bundanya karena dia tak tau harus bagaimana lagi agar Bundanya mau membuka suaranya.
pemuda itu sangat frustasi saat ini, saat dua orang disana tak ada yang memberinya penjelasan.
Joon yang melihat anaknya seperti itu hanya kasihan, ingin sekali dia memeluknya. namun ada rasanya takut jika Paijo menolak kehadirannya. matanya terus memindai kearah sang anak yang saat ini terlihat sangat kacau, wajahnya sudah sangat memerah menahan kesal kepada wanita yang sudah melahirkannya yang terus bungkam sejak tadi.
" Ningrum...katakan saja padanya yang sebenarnya, saya kasihan melihat dia seperti itu." ucap Joon dengan bahasanya yang langsung di beri tatapan tajam oleh Ningrum. ingin rasanya dia memukul pria yang ada disampingnya saat ini juga, ini semua tidak akan terjadi jika saja pria itu tidak pernah muncul tiba-tiba seperti ini
belum ningrum membuka suaranya, pintu kamar rawatnya terbuka dan muncul seorang dokter berwajah tampan yang siang tadi sudah memeriksanya masuk bersama seorang pria yang seperti tak asing untuknya.
Dokter tampan itu tersenyum menatap semua orang yang ada disana secara bergantian, namun ekor matanya melirik dua pria yang memiliki wajah sama persis namun dalam dua versi yang berbeda.
" selamat siang nyonya Ningrum...apa ada yang masih di keluhkan lagi?." dokter yang bernama Gunawan itu bertanya sebelum dia memeriksa Ningrum.
" maaf dokter...tadi saya hanya sedikit pusing lagi, tapi--dia sepertinya salah paham. dia mengira saya kesakitan karena hal yang serius" Jawabnya kapada sang dokter membuat dokter itu menoleh Joon yang satnini tengah memandang serius kearah mereka.
__ADS_1
" oh, itu bukan hal yang terlalu serius tuan... pusingnya memang tidak bisa langsung namun akan berkurang seiring berjalannya waktu. tapi nyonya harus rajin meminum obatnya dan harus istirahat yang cukup." terangnya, namun membuat Joon semakin terlihat bingung dengan bahasa yang dokter itu gunakan.
" can you speak english? so I can understand."katanya yang membuat dokter itu tertawa kecil.
"oh...forgive me sir. I don't know if you can't speak Indonesian, again I'm sorry." joon mengangguk datar meski sang dokter berusaha untuk seramah mungkin.
disaat dokter sedang memberikan penjelasan pada Joon, diam-diam Paijo terus saja memperhatikan percakapan pria itu dengan dokter. bola matanya terus memindai kearah joon saat pria itu bertanya banyak hal tentang kondisi sang bunda. Paijo yang mengerti bahasa Inggris terlihat bingung dengan sikap pria itu yang begitu mencemaskan kondisi sang bunda, jika memang mereka tak memiliki hubungan, untuk apa dia begitu menghawatirkan tentang kondisi bundanya? Paijo terus menerka sendiri dalam hatinya.
jika disini dia tak mendapat jawaban apapun, mungkin dengan mbah lanangnya dia akan mendapatkan jawaban. tanpa pamit kepada orangtuanya Paijo langsung keluar dari ruangan itu ketika mereka masih terlibat percakapan dengan dokter. bunda yang melihat putranya keluar tanpa berkata apapun seketika panik, dan berteriak memanggil nama anaknya namun Paijo terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan dari bundanya.
Joon langsung menahan Ningrum saat melihat wanita itu hendak turun dari atas ranjang untuk mengejar anaknya, dia menangis saat Paijo tak sedikitpun menoleh kearahnya dan terus pergi tanpa menghiraukan teriakan dari sang bunda.
" hah.... terimakasih dokter untuk bantuannya dan untuk kekacauan ini kami benar-benar meminta maaf. setelah ini tolong pindahkan Ningrum ke ruang VVIP, karena saya tidak mau jika sampai kejadian seperti ini terulang kembali, kami tidak enak jika sampai mengganggu Pasien lain yang mendengarnya." dokter itu terlihat mengangguk dan tak lama kemudian pergi dari ruang rawat Ningrum karena sudah tidak diperlukan lagi disana.
setelah dokter pergi, Joon Langsung memanggil asistennya untuk mengetahui keberadaan anaknya sekarang, karena orang-orangnya langsung mengikuti Paijo saat pemuda itu pergi dari sana.
" dimana dia sekarang Hwang?." tanyanya datar seraya duduk di samping Ningrum, matanya terus saja menatap kearah wanita itu. dia tidak menyangka kedatangannya sekarang malah memperburuk kondisi Ningrum, dan di tambah membuat ningrum dan anaknya bersitegang. sedikit sedih karena kedatangannya seperti nya tak diharapkan oleh mereka.
" menurut mereka tuan muda pulang kerumahnya tuan, namun dia terlihat sangat marah" terangnya membuat Joon menghembuskan nafas lega. setidaknya anaknya itu tidak pergi ke tempat lain yang akan membuat hati Ningrum semakin sakit .
__ADS_1
sedangkan di rumah, Paijo baru saja sampai langsung memarkirkan sepeda motornya dengan asal di depan rumah, dengan perasan kesal dia masuk kedalam rumah yangbtamoak sepi tanpa mengucapkan salam. dia mencari keberadaan Mbah Lanang kesetiap sudut rumah namun tak ada, kemudian dia langsung menuju kamar Mbah lanangnya yang belum sempat ia periksa, dia mengetuk pintu kamarnya sedikit kencang.
tok...tok... tok...
" Mbah...Mbah....nih Jo Mbah...aku masuk ya?." tak ada sahutan dari dalam, dia kembali mengetuk pintu kamar Mbahnya lagi namun nihil tak ada sahutan juga dari dalam sana. hingga dia memaksa masuk kedalam kamar mabhnya meski belum mendapatkan ijin dari pemilik kamar , tak perduli lagi jika dia dianggap cucu gak punya sopan santun karena saat ini hatinya sedang diliputi keegoisan saja.
saat pintu kamar Mbah lanangnya di buka, Paijo langsung masuk kedalam. dia memindai kamar Mbahnya ,namun nihil Mbah nya juga tak terlihat di dalam kamarnya.
melihat keadaan kamar kosong, membuat paijo seketika langsung berteriak kesal.
" hahhhhh.... brengsek" teriaknya kesal
tangannya mengepal dan meninju bebas ke udara seolah menyalurkan rasa kecewa dan kesalnya saat ini, dan akhir dia ambruk di lantai kamar Mbahnya, duduk menangis sendirian, meratapi kebodohannya Hari ini.
Mbah lanang yang baru datang, melihat motor cucu begundalnya di rumah langsung bergegas masuk. dia terlihat khawatir jika cucunya pulang dan meninggalkan Ningrum sendirian di rumah sakit. meskipun disana banyak perawat namun Mbah lanang tidak tenang jika Ningrum di tinggal sendirian. dengan langkah tergesa-gesa pria tua itu masuk ke dalam rumahnya.
" Jo...Jo..." pria tua itu memanggil cucunya saat di ruang tengah namun tak ada sahutan.
" Jo...Jo..." panggilnya lagi. namun tak ada sahutan lagi dari paijo membuat Mbah lanang bergegas mencari ke kamar cucunya, belum sampai di kamar sang cucu, dia melirik pintu kamarnya yang terlihat terbuka, padahal dia ingat betul sebelum pergi pintu kamarnya sudah ia tutup rapat. pria tua langsung bergegas menuju kamarnya karena takut sesuatu terjadi di dalam kamarnya. saat berada diambang pintu, pria tua itu kaget melihat cucunya sedang duduk menangis dengan kondisi yang sudah kacau.
__ADS_1
" astaghfirullah...! ya Allah Jo..."