Paijo ( Pewaris Yang Tersembunyi)

Paijo ( Pewaris Yang Tersembunyi)
penjelasan mbah lanang


__ADS_3

" astaghfirullah....!! ya Allah Jo..." kagetnya, pria tua itu langsung mendekati cucunya yang saat ini terlihat sangat memperhatikan.


mendengar suara pekikan dari Mbah lanangnya membuat Paijo langsung mendongakkan wajahnya.


" ada apa ? kenapa kamu disini? bukannya kamu yang menyuruh Mbah untuk pulang dan sekarang kamu malah ikutan pulang. terus bunda kamu sama siapa disana?." pria tua itu langsung memberikan banyak pertanyaan kepada cucunya, namun Paijo hanya memberikan wajah datarnya.


Mbah lanang yang melihat cucunya hanya diam menjadi bingung dengan dahi yang mengernyit, pria itu bangkit dari sana dan langsung menyambar ponselnya untuk menghubungi seseorang. namun... belum sempat menghubunginya Paijo sudah membuka suaranya.


" siapa pria asing itu Mbah..." tanyanya dengan nada pelan. mbah lanang mengernyit dahinya dan langsung membalikan badan menghadap kearah cucunya.


" pria asing siapa yang kamu maksud Jo?" tanyanya, pria tua itu bingung siapa yang di maksud cucunya.


" entah....aku juga gak tahu Mbah. aku melihat dia memeluk bunda". ucap nya lagi dengan senyum getir membuat pria tua itu menghela nafas kasarnya.


" kenapa kamu tidak tanya langsung dengan bunda kamu, Jo...?" Paijo langsung menggelengkan kepalanya pelan.


" bunda gak aku Jawab pada aku tanya, dia malah nyuruh aku pergi pas aku tanya lagi....apa Mbah tau sesuatu yang gak aku tahu selama ini? atau---." selidiknya pada Mbah lanang.


" atau apa hah....? Yya...kamu benar, Mbah memang tahu sesuatu yang belum kamu ketahui, namun itu bukan wewenang Mbah untuk memberitahukan semua itu sama kmu, itu hak bunda kamu untuk ngasih tau sendiri sama kamu." cetus Mbah lanang membuat Paijo bungkam. dia langsung mendesah lirih.


" memangnya siapa yang kamu liat? lalu kenapa bisa dia meluk bunda kamu?" tanya Mbah lagi. Paijo hanya menjawabnya dengan mengendikkan bahunya saja, dia juga tak tau siapa orang itu, dari cara berpakaiannya saja terlihat bukan orang sembarangan.


pikiran Paijo mulai berkelana kemana-mana, dia jadi menduga-duga hal buruk tentang bundanya dan orang asing itu. apa benar yang orang-orang bilang tentang bundanya dulu benar? rasanya tidak mungkin jika bunda adalah seorang simpanan pria kaya seperti yang mereka kira. lalu-- bagaimana bisa dirinya bisa hadir di rahim bunda? apa benar bunda menjadi selingkuhan orang itu? lalu----


" seperti apa orangnya? apa di tampan? jika tampan Mbah akan minta pertanggungjawabannya karena sudah berani memeluk anak mbah tanpa ijin." Paijo berdecak saat mbahnya malah bergurau.


" ayo bangun! jangan terlalu lama duduk di lantai, bisa masuk angin kamu." Mbah lanang melangkah keluar kamar di ikuti Paijo di belakangnya.


saat ini mereka sudah duduk di ruang tengah. Mbah lanang melihat cucunya yang sudah mulai terlihat tenang langsung menghempaskan nafas lega.


" kamu gak balik ke rumah sakit lagi Jo?" tanya pak tua itu kepada cucu tampannya.


" entah lah....aku bingung Mbah!." usai mengucap itu paijo menarik nafasnya dan menghembuskan dengan kasar

__ADS_1


" kamu tau ?" Mbah Lanang kembali berucap dan paijo diam mendengarkan saja.


" dulu sekali saat bundamu berumur 19 tahun.... punya impian yang sangat mulia." Mbah bercerita.


"impian seorang anak perempuan yang ingin mengangkat derajat orang tuanya dari kemiskinan..." Mbah menarik nafasnya sebelum kembali melanjutkan.


"seorang gadis yang masih sangat muda harus rela pergi jauh dari keluarganya hanya demi ingin membuat bangga kedua orangtuanya." Paijo masih diam menyimak cerita pria tua itu.


" tapi.... sayang, jalan takdinya tak semulus yang di harapkan, dia kembali kepada kami---" Mbah Lanang tercekat saat akan meneruskannya. dia kemudian menghembuskan nafasnya untuk menetralkan rasa sesak yang mulai menyerang didadanya.


"bundamu wanita baik-baik Jo, dia bukan wanita yang orang-orang kira selama ini. bundamu anak mbah Lanang dan wedok yang sangat berbakat kepada kami. kami saja bangga memiliki anak seperti bundamu, apa kamu meragukan bundamu sendiri sekarang? dan lebih percaya omongan orang ketimbang ucapan bundamu? bundamu mungkin masih diam karena dia tau, belum saatnya kamu mengetahui sesuatu." " lanjutnya lagi. Paijo terdiam, kepalanya tertunduk usai Mbah Lanang mengucapkan itu.


" Mbah tidak akan memaksa kamu Jo...kamu sudah dewasa. naluri kamu pasti tahu mana yang baik untuk kamu. Mbah hanya mint satu, bersabarlah...sampai bundamu siap untuk mengatakan semua sama kamu." ucapnya lagi sebelum akhirnya pria tua itu bangkit dari sana.


kini tinggal Paijo yang ada di ruangan itu, dia terduduk lesu. entah kenapa dia sedikit menyesal dengan perbuatannya yang tanpa ia sadari sudah melukai hati bundanya.


Mbah lanang keluar dari dalam kamarnya dengan memakai jaket dan sudah bersiap untuk pergi. Paijo yang melihat itu langsung mengernyitkan dahinya.


" Mbah mau pergi?" pria baya itu menoleh kearah cucunya dan dia menganggukkan kepalanya.


" biar ak----"


" gak papa... kamu tenangin diri sama hati kamu dulu di rumah. Mbah masih kuat hanya sekedar menjaga bunda kmu di rumah sakit.


" ucapnya lagi saat memotong ucapan cucunya.


Paijo yang tak bisa melawan mbah Lanang saat ini hanya bisa mengangguk saja. dia membiarkan pria baya itu pergi begitu saja. mungkin benar apa yang dikatakan Mbah lanangnya, saat ini dia perlu menenangkan hatinya.


dan...untuk orang asing itu. Paijo masih sangat penasaran dengan orang itu. wajahnya benar-benar mengganggu ketenangan batinnya.


kenapa wajah ya sangat mirip dengan ku? apa dia----?


gak, gak mungkin. kata bunda ayahku sudah lama pergi sejak aku masih di dalam perut bunda.

__ADS_1


tapi kenapa wajahnya sangat mirip dengan ku? apa dia saudara dari ayahku? tapi--- kenapa dia sampai memeluk bunda?


Paijo terus bertanya-tanya di dalam pikirannya sendiri. rasanya seperti ingin pecah kepalanya saat ini.


" ya Gusti... Sirah ku mumet tenan." ucapnya seraya meremat rambutnya sendiri.


( ya Allah...kepala ku sakit sekali)


Paijo beranjak dari sana dan masuk kamarnya sendiri. di langsung merebahkan tubuhnya dan langsung memejamkan matanya untuk tidur sejenak berharap akan sembuh setelah bangun nanti.


di luar rumah Paijo, para tetangga mulai bertanya-tanya tentang pria-pria berjas yang selalu standby di depan rumah Paijo. sejak kejadian Ningrum yang pingsan di warung, sekarang orang-orang itu yg tidak sembunyi-sembunyi lagi dalam menjaga keluarga itu. apalagi Sekarang bos besar yang menyewa jasa mereka sudah memberikan perintah langsung kepada mereka untuk selalu menjaga keluarga Paijo kemana pun mereka pergi.


" tuh liat...makin banyak aja yang jagain rumah mereka, padahal kan cuma Paijo saja yang ada di dalam, mbak ."


" he'em...mbak. aduh kok aku jadi takut yah? kalau mba Ningrum beneran laporin mbak jolekha ke polisi, kita-kita ikut keseret gak yah?" Mereka mulai ketakutan, meskipun mereka hanya mendengarkan saja namun mereka juga tak melerai saat Ningrum dan jolekha beradu mulut. bahkan saat jolekha mengeluarkan tuduhan yang tidak pantas kepada Ningrum.


" lebih baik kita jenguk mbak Ningrum saja, kita minta maaf Langsung sama dia, daripada nanti keburu ada polisi yang datang buat nangkep kita..." semua yang disana mengangguk setuju usulan salah satu dari mereka.


" yasudah, kita tanya langsung saja sama Paijo dimana mbak Ningrum di rawat. terus kita langsung jenguk mbak Ningrumnya. lebih cepat lebih baik mbak-mbak. dari pada keduluan sama polisi datang kesini ya kan?."


beramai-ramai mereka langsung mendatangi rumah Paijo, namun saat akan masuk mereka harus berhadapan dengan para pria-pria ber-jas itu lebih dulu.


melihat kedatangan para ibu-ibu membuat kening mereka mengernyit namun masih menampakan wajah datar khas bodyguard.


" emmm.... permisi mas-mas, kami mau bertemu dengan Paijo. ada sesuatu yang perlu kami tanyakan sama dia ." tanya salah satu dari mereka kepada pria itu.


" maaf....tuan muda Jo sedang tidak bisa di ganggu. dia sedang beristirahat. jika ingin bertemu, ibu-ibu bisa kembali lagi nanti setelah di bangun." mereka semua melongo saat orang itu memanggil Paijo dengan sebutan tuan muda. padahal yang mereka tau Paijo hanya seorang anak petani dan setiap harinya dia harus membantu bundanya mengantarkan hasil kebun dan sawahnya kepada para tengkulak di pasar.


" hah, tapi... kita cuma mau tau tempat mbak Ningrum rawat saja, kita rencananya mau jenguk mbak Ningrumnya." ucapnya lagi mencoba bernego dengan orang-orang itu.


" maaf... sebaiknya ibu-ibu pergi dan kembali lagi nanti setelah tuan muda bangun. saya tidak ingin kalian membuat kegaduhan disini dan membuat tuan muda kami terganggu tidur siangnya." balasnya membuat ibu-ibu itu mendengus sebal kearah mereka.


" huh, dasar...cuma mau tanya saja apa salahnya. lagian biasanya kita juga sering minta bantuan sama Paijo, anak itu sama sekali gak terganggu biarpun sedang istirahat." gerutunya membuat mereka mau tak mau bubar dari sana.

__ADS_1


mereka meninggalkan rumah paijo dengan perasaan kesal. di jalan mereka semua terus menggerutu hingga mereka berpapasan dengan ibu jolekha yang sedang berjalan dengan anaknya si Tuti.


__ADS_2