
sudah setengah jam berlalu Paijo keluar dari ruang rawat bundanya untuk mencari makan, dan kembali dengan membawa beberapa kantong keresek di tangannya.
dia menaruh semua makanan yang di beli ke meja yang ada di ruangan itu, lalu mendekati bunda dengan satu cup jus alpukat di tangannya, di berikannya pada wanita yang tengah duduk bersandar di atas nakas.
" aku belikan ini untuk bunda, gulanya hanya sedikit tidak akan membuat perut bunda mual." ucapnya pada wanita itu, bunda menerimanya dan segera menyeruputnya dari sedotan.
benar kata anaknya, jika ini tak membuatnya mual dibandingkan dia yang harus memakan makanan rumah sakit. meski lidahnya masih terasa pahit, namun dia mampu menghabiskan setengah cup jus alpukat, dan mampu membuat perutnya sedikit kenyang.
" Bun...apa mereka akan tetap disana 24 jam." Paijo bertanya pada Bundanya.
dia heran kepada mereka, apa tidak ada perkerjan lain selain menjadi penjaga seperti itu? dia juga penasaran siapa bos mereka yang sudah menyuruhnya untuk menjaga keluarga Paijo.
bunda menggeleng, dia tidak tau harus menjawab apa saat ini, dia masih kepikiran tentang ucapan bapaknya. jika semua memang benar itu ulah ayah kandung Paijo. apa yang harus Ningrum katakan pada anaknya nanti? hah.... rasanya lelah jika harus berbohong dengan anaknya terus. tapi untuk berkata jujur dia masih takut jika Paijo belum bisa menerima kenyataan ini.
" kamu sudah makan Jo?" tanya bunda mengalihkan pikiran anaknya. Paijo mengangguk saja, kemudian melirik ke arah Mbah lanang yang sedang memakan nasi bungkus yang ia beli tadi.
" Mbah... jika Mbah sudah makan, sebaiknya Mbah pulang. biar aku saja yang jaga bunda di sini. Mbah sudah tua, takutnya malah ikutan sakit kalo jaga bunda juga, aku gak bisa kalau harus jagain dua orang sakit sekaligus."
Mbah yang di panggil namanya langsung menoleh, namun langsung mendengus mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan cucunya. rupanya cucunya itu pandai membalikan kata-katanya.
ibu yang mendengar sang anak mulai memantik emosi bapaknya hanya menghela nafas panjang. memang anaknya dan bapaknya tidak lah pernah akur dalam waktu yang lama, entah siapa yang akan memulai duluan, pasti dalam sehari mereka akan beradu mulut.
" Iyo...Iyo...terserah awakmu Jo." Paijo terkikik geli saat Mbahnya kalah telak dengan kata-katanya, dia berhasil membalikkan keadaan kali ini.
bukan Maksud dia ingin menjadi cucu kurang ajar atau durhaka, namun dia memang benar tak ingin melihat orang-orang yang dia sayang jatuh sakit seperti Bundanya sekarang.
" bunda mau makan sesuatu lagi? tadi aku juga beli beberapa cemilan. sapa tau bunda pengin makan yang lain selain makanan rumah sakit." bunda menggeleng.
dia menyerahkan cup jus alpukat kepada Paijo, kerena perutnya sudah lumayan kenyang. rasa kantuknya kembali mendera, mungkin efek obat yang diberikan oleh dokter padanya supaya Ningrum lebih banyak istirahat lagi.
Paijo membenarkan selimut yang di pakai bundanya hingga sebatas dada ningrum setelah Bundanya sudah benar-benar terlelap. sementara mbah Lanang akan bersiap pulang setelah menghabiskan basi bungkusnya.
" Mbah pulang ya? kalau ada apa-apa kamu langsung telpon Mbah saja." Paijo mengangguk setelah Mbah mengatakan itu.
" iya Mbah, hati-hati di rumah! bila perlu ajak seseorang menginap di rumah supaya Mbah tidak sendirian." katanya menjawab Mbah Lanang.
__ADS_1
" hemmm...ya sudah Mbah pulang."
pria tua itu pun keluar dari kamar rawat anaknya, beberapa penjaga yang melihat pak tua itu keluar langsung membungkuk hormat, membuat bapak yang baru saj membuka pintu menjengit kaget. pasalnya dia tak tau kalau mereka begitu dekat dari pintu yang ia buka.
" mengagetkan saja!." gerutu bapak.
" maaf tuan." sesalnya.
" tuan akan kemana? biar saya antar." lanjutnya lagi bertanya pada bapak.
melihat pria tua itu keluar, beberapa penjaga langsung sigap mengawal kemanapun keluarga Paijo akan pergi, termasuk saat Paijo keluar membeli makan tadi. bukan hanya risih bapak juga heran kenapa mereka mau-maunya saja di suruh melakukan pekerjaan seperti ini. menjaga dan membututi orang kemanapun.
" saya mau pulang! kalian mau ikut? jika mau kalian malam ini bisa menginap di rumah saya. pasti kalian kelelahan menjaga kami seharian?." orang-orang itu saling melirik bermain kode-kodean seolah tau apa yang mereka pikirkan masing-masing. kemudian salah satunya dari mereka mengangguk membuat mbah Lanang geleng-geleng kepala.
" dasar mereka ini! bisa banget main kode-kodean. apa jangan-jangan mereka dari FBI yah?." ucapnya Mbah dalam hatinya.
kemudian berlalu dari sana dan keluar rumah sakit, dia akan pulang ke rumah. Paijo benar, dia sudah tua tak baik menginap di rumah sakit. baru sebentar disini saja badannya terasa pegal semua, jika seminggu disini mungkin dia akan menjadi salah satu pasien disini juga.
sementara seorang pria baru saja tiba di bandara yang ada di daerah Jawa. langkahnya begitu cepat. meskipun terlihat datar dan dingin, dalam hatinya Kim Yoo Joon tengah mengkhawatirkan seseorang yang sedang terlelap di salah satu rumah sakit. dia baru saja mendapatkan kabar setelah melakukan meeting zoom dengan teamnya yang ada di London, karena ada sedikit masalah yang harus meminta pendapat langsung padanya. dia jadi mengundurkan keberangkatan yang seharusnya sejak pagi menjadi siang.
" cepat!! saya ingin secepatnya sampai di rumah sakit itu, dan apa kamu memastikan pada orang-orang mu kalau nyonya mu sudah mendapatkan perawatan yang terbaik?." tanyanya dingin dan penuh intimidasi.
Surya menoleh tuannya dari kaca saja, pria itu langsung mengangguk saat tuannya bertanya padanya.
" sudah tuan, hanya saja...." Joon langsung menatap tajam kearah Surya dari kaca spion depan, meraka saling betatap lewat sana.
" hanya apa ? cepat katakan jangan bertele-tele, karena saya tidak suka itu." katanya tegas.
" hanya sja mereka membawanya kekamar yang biasa, bukan kamar VVIP tuan." jawabnya hati-hati karena takut dengan apa mm yang akan di lakukan dengan tuannya.
benar dugaan Surya. Rahang Joon terlihat mengetat, tandanya dia marah mendengar semua ucapannya.
" kenapa kau memberikan kamar yang seperti itu? kau tau bukan---"
"maaf tuan sebaiknya anda dengarkan dulu semuanya dari Surya, mungkin dia punya alasannya." potong Hwang cepat karena tuannya akan sulit di kendalikan jok sudah marah.
__ADS_1
Joon langsung menarik nafas dan membuangnya kasar lewat mulut.
" lanjutkan, apa yang perlu kamu sampaikan pada tuan Kim, Surya ?." Surya mengangguk cepat dan melirik kearah kaca spion saat tuannya sudah mulai tenang.
" orang-orang saya sengaja memberikan kamar yang biasa karena tidak ingin mereka terlalu banyak bertanya yang macam-macam pada orang-orang saya tuan.
Surya menceritakan semuanya dari awal kejadian kenapa Ningrum sampai pingsan hingga tentang percakapan antara ningrum dan bapaknya yang sudah mencurigai kehadiran tuannya.
terlihat jelas di wajah Joon ada rasa marah, sedih dan kecewa yang kini dia rasakan. rahangnya mengetat saat mendengar orang-orang kampung itu mencemooh ibu dari anaknya secara beramai-ramai, sedangkan ningrum seorang diri tak ada yang membelanya atau melerainya.
" Hwang...kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan sekarang." pria kaku itu mengangguk.
dia paham keinginan dari tuannya saat ini, tuannya ingin memberikan pelajaran untuk orang-orang yang sudah berbuat tidak menyenangkan kepada ibu dari anaknya.
setelah beberapa satu jam perjalanan dari bandara, mobil mewahbitu berhenti tepat didepan rumah sakit.
banyak orang-orang sana yang mengira kedatangan artis korea kerena melihat wajah Joon yang sangat tampan.
bukan fisik Joon saja yang mencolok diantara yang lainnya, namun apa yang Joon pakai semua terlihat lebih wah dari yang lain membuat rumah sakit sedikit heboh karena kedatangannya, apalagi dengan adanya pria-pria berjas yang mengelilinginya.
hingga pihak keamanan rumah sakit langsung mengambil tindakan agar tak terjadi yang tidak di inginkan. beberapa orang terlihat mengabadikan Joon saat oria itu sedang berjalan menuju ruang rawat Ningrum.
bisik-bisik mulai terdengar di telinga mereka , Joon dan Hwang yang tidak tau bahasa mereka hanya biasa saja, sedangkan Surya dan orang-orangnya berjalan mengikuti tuannya setaya mengulum senyum dan geleng-geleng kepala saja.
" ya ampun itu artis Korea yah? kok bisa sih masuk sini sih?.
" wah ada anggota BTS di rumah sakit waras, gak nyesel aku sakit hari ini kalo bisa liat dia"
" ya ampun itu orang apa malaikat Ridwan sih...bagus tenan."
" ya Allah... sungguh indah ciptaan Mu."
berbagai decak kagum dari mereka lontarkan. bahkan ada yang langsung di live ke sosmed juga. perawat pun tak kalah ketinggalan mengabadikan pemandangan langka di rumah sakit itu.
jarang-jarangkan orang-orang seperti joon dan Hwang bisa ada di rumah sakit tempat mereka bekerja.
__ADS_1
baru saja dokter, perawat dan pegawai rumah sakit itu heboh karena orang-orang berjas yang menjaga kamar Ningrum, sekarang mereka dihebohkan lagi dengan kedatangan Joon dan Hwang juga orang-orang berjas hitam yang seperti sedang mengamankannya membuat mereka semakin penasaran. hingga berita itu terdengar sampai ke telinga direktur rumah sakit.