
Setelah menginap dua hari di rumah mertuanya dan telah dapat kesepakatan jika dirinya dan Hanif harus berpisah.
Naya mencium tangan kedua mertuanya saat akan meninggalkan kediaman orangtua Hanif.
"Jika Umi boleh egois, pasti Umi akan meminta kamu tetap menjadi istri Hanif. Namun, sebagai sesama wanita Umi mengerti bagaimana perasaan kamu saat ini. Pasti sangat menyakitkan saat mengetahui pengkhianatan suami kita. Umi sayang kamu,Nak," ucap Umi memeluk Naya.
Air mata wanita paruh baya itu jatuh membasahi kedua pipinya. Umi memeluk erat menantu yang sangat disayanginya itu. Setelah cukup lama memeluk barulah Umi melepaskan.
Hanif memandangi semua itu dengan mata merah menahan tangis. Dari kemarin Umi menasihatinya terus. Tampak sekali jika wanita itu sangat kecewa dengan tindakan Hanif.
Naya mencium tangan mertua laki-lakinya. Pria itu memegang kepala Naya dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Abi, karena telah gagal menjadikan Hanif pria sejati. Walaupun pernikahan suami itu tidak membutuhkan izin dari seorang istri seharusnya sebagai seorang pria sejati, dia harus jujur. Jika berani berbuat, harus bertanggung jawab." Abi menjeda ucapannya.
Naya melepaskan pegangan tangan Abi. Pria itu walau sudah tua tapi dirinya sangat tegas. Naya mendengar saat Abi Hanif itu marah dan menasihat Hanif hingga larut malam.
Saat itu Naya telah pamit untuk beristirahat. Naya tahu jika Abi membutuhkan waktu buat bicara empat mata sebagai sesama pria.
"Naya, walau kamu nanti telah resmi berpisah dengan Hanif, Abi harap kamu jangan berubah. Kamu tetap anak bagi kami. Mainkan ke sini sesekali."
"Tentu Abi. Aku tidak akan melupakan Abi dan Umi."
"Jika Umi kangen, apakah Umi masih boleh mengunjungi kamu,Nak?" tanya Umi.
"Tentu saja boleh Umi. Aku juga pasti begitu. Akan mengunjungi Umi jika kangen."
Hanif menyalami kedua orang tuanya. Umi hanya diam tanpa bicara. Mungkin masih kecewa dengan apa yang Hanif lakukan.
"Ini semua adalah konsekuensi atas semua yang kamu lakukan. Kamu harus bertanggung jawab. Jika Naya emang menginginkan kalian berpisah, jangan kamu persulit. Berani berbuat harus berani terima risikonya. Abi sebenarnya sangat kecewa denganmu. Namun, nasi telah menjadi bubur. Kamu harus menerima suka tidak suka," ucap Abi.
...----------------...
Saat ini Naya dan Hanif telah pamit dari rumah kediamannya orang tua Hanif. Dalam perjalanan tampak kecanggungan di antara keduanya. Hanif akhirnya memutuskan memulai percakapan.
"Naya, sekali lagi Mas mohon kamu pikirkan lagi keputusan yang kamu ambil," ucap Hanif.
__ADS_1
"Mas, aku mengambil keputusan itu juga setelah berpikir matang."
"Apa kamu tidak mau memberikan Mas kesempatan. Mas akan berlaku adil. Atau Mas akan menceraikan Citra, mungkin itu yang kamu inginkan."
"Jangan mudah mengatakan cerai, Mas. Bisa saja nanti Mas juga akan menceraikan aku saat ada seorang wanita yang Mas inginkan."
"Bukan begitu maksud Mas Naya. Kamu tahukan jika hanya kamu yang Mas sayangi."
"Jika memang Mas menyayangi aku, tidak mungkin melakukan kebohongan denganku. Yang paling membuat aku kecewa dengan Mas adalah kebohongan yang Mas lakukan. Kenapa Mas tidak jujur dari awal?"
"Mas hanya menunggu waktu yang tepat."
"Saat Mas melakukan pernikahan dengan Citra, kedua orang tuaku belum meninggal. Bukankah itu berarti dari awal Mas emang tidak berniat jujur."
"Sudah Mas katakan jika menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semua itu."
"Sudahlah Mas, mungkin emang kita ditakdirkan berjodoh hanya sampai di sini. Aku tidak bisa untuk hidup denganmu lagi karena hatiku sudah terlanjur kecewa. Jika aku memaksa, aku takut semua akan menjadi bumerang juga bagi diriku."
Hanif hanya bisa menarik napas saat Naya mengatakan semua ini. Hanif tidak pernah menduga akan menjadi begini pernikahannya dengan Naya.
Naya dan Hanif sampai di kediaman jam sebelas malam. Naya langsung masuk ke kamar dan mengambil pakaiannya. Naya membawanya masuk ke kamar tamu.
Tanpa menyapa Hanif, Naya masuk ke kamar tamu dan menguncinya. Naya telah memutuskan tekad akan meninggalkan rumah ini segera. Surat gugatan cerai telah dia layangkan kemarin di kampung karena pernikahannya dilakukan di daerah itu.
Naya duduk di kursi yang berada dekat jendela kamarnya. Memandangi bintang yang sinarnya tampak redup seperti mengerti perasaannya saat ini.
Naya tidak mau membohongi hati kecilnya, jika sebenarnya Naya juga sangat sedih akan perpisahan ini.
Hanif merupakan pria idaman Naya. Sosok pria tampan, perhatian dan lembut. Terutama mengerti agama. Namun, semua berubah sejak Hanif terjun ke dunia gemerlap sebagai seorang aktor.
Cukup lama Naya merenung, setelah itu istrinya Hanif yang sebentar lagi akan menjadi mantannya itu masuk ke kamar mandi. Naya mandi dan setelah itu melakukan solat malam sebelum membaringkan tubuhnya.
Pagi harinya Naya bangun, wanita itu masih menyempatkan diri membuat sarapan. Setelah sarapan siap dihidangkan, Naya masuk ke kamar.
Naya mengambil tas berisi pakaiannya. Dia akan pindah ke kost dulu saat dia kuliah sambil mencari pekerjaan.
__ADS_1
Hanif yang telah rapi melihat dua tas berisi pakaian. Hanif memandangi itu dengan raut wajah sedih.
Naya telah mengatakan kemarin, jika dia akan pergi dari kediaman mereka. Hanif telah mengatakan untuk Naya tetap di sini. Biar dia yang pindah. Kontrakan ini telah dibayar hingga dua tahun mendatang, namun wanita itu tidak mau.
Naya keluar dari kamar dan tersenyum melihat Hanif. Naya menghampiri pria yang saat ini masih berstatus suaminya itu hingga Hanif menjatuhkan talak.
"Kamu masih akan tetap pergi?" tanya Hanif.
"Iya, Mas. Pada saatnya aku juga harus pergi, jika bisa sekarang kenapa harus aku tunda."
"Apa kamu masih tidak mau menerima tawaran dariku untuk tinggal di rumah ini."
"Rumah ini terlalu besar aku tempati seorang diri. Aku pasti akan merasakan kesepian nantinya."
"Jika saja waktu dapat terulang kembali, aku ingin tetap bersamamu seperti dulu."
"Jangan menyesali semua yang terjadi. Itu telah menjadi suratan takdir. Mungkin, Tuhan mempertemukan kita hanya sebatas untuk saling mengenal sesaat bukan untuk saling memiliki selamanya. Yang pergi akan tetap pergi, walaupun kita telah menjaganya dengan begitu kuat. Yang datang akan datang, walaupun kita tidak menginginkan kedatangannya."
"Semoga kamu nanti bertemu dengan pria yang jauh lebih baik dariku."
"Semoga Mas juga bahagia dengan pernikahan baru ini."
Naya pamit dengan menyalami tangan suaminya itu. Dadanya terasa sesak menahan tangis.
...****************...
Bersambung
Mampir juga ya ke novel teman mama dibawah ini.
Blurb: SEBERKAS ASA CINTA
Widya yang pernah terluka karena Harsa, memilih untuk menutup hatinya. Hingga Nathan yang selalu berada di sampingnya menawarkan sebuah cinta. Mampukah cinta dari Nathan mewujudkan bahagia yang Widya impikan, atau justru Nathan memberikan luka yang semakin dalam? Sedangkan di sisi lain, ada Harsa yang mencintai Widya dalam diam. Adakah kesempatan baginya mendapatkan hati Widya kembali?
__ADS_1