PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN

PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN
Bab Dua Puluh Satu. PYTD.


__ADS_3

Naya masuk ke dalam taksi yang tadi dipesannya. Hanif masih berdiri di pintu melihat istrinya. Naya tersenyum dengan Hanif sebelum menutup pintu taksi itu.


"Jalan, Pak," perintah Naya. Semakin lama dia berada di rumah ini, akan semakin sakit yang dirasakan.


Saat taksi baru berjalan tangis Naya pecah. Supir taksi melihat Naya dari spion dengan rasa simpati karena melihat Naya yang terisak.


Akhirnya aku berpisah juga dengan Mas Hanif. Tidak pernah aku menyangka jika pertemuan kami hanya sesaat. Bukannya aku ingin menyesali takdir, namun hatiku selalu bertanya, kenapa aku harus disatukan dengan Mas Hanif jika akhirnya kami harus terpisah. Tuhan, bantu aku untuk melupakan Mas Hanif.


Naya masih terisak. Saat supir mengatakan mereka telah sampai tujuan, Naya tidak mendengarnya. Hingga supir itu membiarkan saja Naya menangis dalam taksinya.


Saat menyadari taksi telah berhenti, Naya menghapus air matanya.


"Kita udah sampai, Pak?" tanya Naya.


"Udah, Neng. Bapak udah ngomong, tapi Neng tidak dengar."


"Maafkan saya Pak."


"Tidak apa, Neng."


Naya melihat argo taksi dan membayar lebih pada supir taksi. Supir itu melihat uang yang Naya berikan.


"Banyak benar ini, Neng. Lebih uangnya Neng."


"Buat Bapak saja. Terima kasih."


Naya mengangkat dua tas miliknya ke depan kamar kost. Beruntung kamar yang pernah Naya tempati dulu, belum ada penghuninya. Naya membuka pintu itu. Kemarin dia telah meminta kunci pada ibu kost itu.


Naya masuk dan duduk di lantai. Sebenarnya perut Naya terasa lapar, namun wanita itu tidak ada selera buat makan.


Naya tampak termenung sambil memandangi langit kamar kost nya itu. Pikiran wanita itu entah kemana.


Rasanya sakit untuk melepaskan semua ini, tetapi kadang-kadang lebih menyakitkan untuk bertahan. Tidak akan ada kekecewaan yang mendalam jika tidak ada cinta yang mendalam. Aku dan kamu pernah seerat nadi, Mas Hanif. Namun kini aku dan kamu bagai matahari dan bumi. Akan lebih mudah untuk memaafkan orang biasa daripada memaafkan luka yang diberi oleh orang tercinta.


Naya membaringkan tubuhnya di lantai. Tidak peduli lantai itu masih kotor dan dingin. Air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Di depan Hanif dan kedua orang tuanya, Naya berusaha tegar. Tidak ada air mata. Padahal hatinya sangat terluka atas perpisahan dan pengkhianatan ini.


"Bapak, Ibu, datanglah ke mimpiku, aku sangat ingin bertemu dengan kalian .Mungkin melalui mimpi kita bisa bercerita banyak seperti dulu? Atau setidaknya aku ingin memastikan bahwa kalian di sana tidak kesepian seperti aku di sini.Bapak,Ibu, seandainya kau masih di sini, aku ingin menceritakan banyak hal tentang hidupku. Tetapi, sekarang aku hanya dapat dekat denganmu, dalam doaku," gumam Naya dengan diri sendiri.


Naya menghapus air mata yang membasahi pipinya. Namun, air matanya tetap turun tiada henti.


"Bapak,Ibu, Naya capek. Naya lelah. Kapan kita bisa berkumpul lagi? Jemput Naya segera. Di dunia ini, Naya hanya sendiri. Naya takut Bapak, Naya takut Ibu. Naya ingin pelukan kalian," ucap Naya dengan lirih.


Naya menangis hingga dirinya terlelap. Mungkin karena lelah.

__ADS_1


...----------------...


Sore harinya setelah mandi, Naya keluar dari kost. Kamar kost-nya telah bersih. Naya bersihkan siang tadi sehabis bangun tidur.


Naya berjalan ke arah super market terdekat. Naya ingin membeli bahan makanan untuk di masak.


Saat akan masuk ke supermarket, Naya dikagetkan dengan seseorang yang menepuk bahunya pelan.


Naya membalikan badan dan melihat Kenzo tersenyum. Ternyata pria itu yang menepuk bahunya.


"Kak Kenzo, aku kira siapa tadi," ucap Naya.


"Kamu kenapa ada di sini?"


"Aku kost di sana," tunjuk Naya.


"Kost? Kamu pisah dengan Hanif?" tanya Kenzo.


Naya terdiam. Dia tidak sengaja mengatakan itu. Hanya senyuman yang Naya berikan sebagai jawaban.


"Pantas Hanif tadi agak termenung."


"Aku dan Mas Hanif memutuskan untuk berpisah. Tapi masih dalam proses. Belum resmi. Aku rasa ini yang terbaik untuk kami berdua."


"Kamu mau beli apa?"


Setelah mengucapkan itu terdengar suara perut Naya yang minta diisi. Naya jadi malu karena suaranya cukup keras. Naya tersenyum menghilangkan rasa malu, karena dia yakin Kenzo mendengar perutnya yang berbunyi minta diisi.


"Perutmu sepertinya udah nggak bisa kompromi. Jika harus masak, pasti cacing-cacing di perut kamu nanti pada demo."


"Kak Kenzo bisa aja." Naya menunduk karena malu.


"Itu ada kafe. Kita makan di sana aja. Aku juga kebetulan lapar."


"Kita berdua?" tanya Naya.


"Terus siapa? Mau ajak orang sekampung gitu?" tanya Kenzo.


"Bukan begitu, Kak. Bagaimanapun saat ini aku masih berstatus istrinya Mas Hanif. Aku takut nanti jadi fitnah."


"Kita berdua di tempat umum. Bukan sembunyi. Kalau kau ajak kamu masuk ke kamar hotel baru salah."


"Kak Kenzo ngomong apa,sih? Nanti ada dengar, bisa tambah salah paham," ujar Naya dengan wajah memerah menahan malu.

__ADS_1


Sekali lagi terdengar suara yang berasal dari perut Naya. Wanita itu memegang perutnya sambil nyengir ke arah Kenzo. Pria itu terbahak melihat wajah Naya yang lucu karena menahan malu.


Tanpa bisa menunggu, Kenzo menarik tangan Naya menuju Kafe yang berada di seberang supermarket itu.


Setelah menyeberang jalan, Naya baru menyadari jika tangannya di genggam Kenzo.


"Kak Kenzo, lepaskan tanganku," ucap Naya.


Kenzo tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya. Dia lalu mengajak Naya masuk.


"Masuklah! Perutmu udah demo."


"Kak Kenzo ada-ada aja."


Kenzo memilih tempat duduk di sudut dalam kafe agar tidak terganggu dengan lengunjung lainnya. Tampak para remaja berbisik-bisik ke arah Kenzo dan Naya.


Kenzo bukan tidak menyadari itu. Namun, dia mengacuhkan saja. Dia telah terbiasa, sebagai aktor ternama, kemanapun langkahnya pergi selalu saja diawasi penggemarnya.


Kenzo memesan makanan untuknya dan Naya.Sambil menunggu pesanan datang, Kenzo mengajak Naya mengobrol.


"Kamu telah yakin berpisah dengan Hanif?" tanya Kenzo pelan, takut ada yang mendengar.


"Sudah, Kak. Aku tidak bisa menerima apapun itu yang namanya kebohongan."


"Emang kalau Hanif jujur ingin menikah lagi, kamu mengizinkan?" tanya Kenzo.


"Tetap aku tidak bisa, Kak. Aku akan meminta Mas Hanif memilih. Cinta itu tidak bisa dibagi, karena hati kita hanya satu. Jika dibagi pastilah tidak utuh lagi. Cuma mungkin, sakit yang aku rasakan tidak sepedih saat ini, karena tau aku dibohongi."


"Kamu ternyata memiliki prinsip yang kuat. Padahal aku mengira kamu wanita lemah yang hanya akan menerima apa saja yang dilakukan suami kamu," ucap Kenzo lirih.


"Wanita lemah itu bukan berarti akan menurut dan mengikuti apa saja yang pria lakukan."


Kenzo tersenyum menanggapi ucapan Naya.


...****************...


Bersambung


Bonus Visual


Naya


__ADS_1


Kenzo



__ADS_2