
"Syifa ...!" ucap Kenzo, tampak wajahnya kaget tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang pernah mengisi hatinya enam tahun lalu kembali hadir.
"Apa kabar Kak Kenzo?" tanya wanita itu.
"Baik. Kamu sendiri apa kabar? Sudah lama banget tidak bertemu."
"Aku kuliah ke Mesir. Saat ini aku akan mengajar di salah satu sekolah islam di kota ini."
"Selamat ya. Hebat banget," ucap Kenzo. Naya yang pernah mendengar cerita tentang Syifa dari mama Kenzo tampak cemberut.
"Terima kasih, Kak. Ini istri Kakak?" tanya Syifa menunjuk ke Naya.
"Iya. Kenalkan ini, Naya. Istriku," ujar Kenzo. Naya dan Syifa bersalaman untuk berkenalan.
"Istri Kak Kenzo cantik."
"Naya emang cantik dan manja," ujar Kenzo dengan mengelus kepala Naya. "Suami kamu mana?" tanya Kenzo.
"Aku belum nikah. Belum ada jodoh yang cocok di hati. Kak Kenzo dan Naya udah berapa lama menikah?"
"Baru satu bulan."
"Masih pengantin baru."
Kenzo hanya tersenyum menanggapi ucapan Syifa. Saat ini Kenzo merasa gugup, setelah sekian tahun berpisah baru sekali ini dia bertemu dengan wanita yang pernah mengisi hatinya. Mereka berpisah dulu tanpa ada kata akhir karena Syifa diam-diam di bawa pergi keluarganya.
"Apa belanjanya sudah, Sayang?" tanya Kenzo, melihat Naya yang hanya diam.
__ADS_1
"Udah. Aku pusing. Mau pulang aja," ujar Naya.
"Maaf, Syifa. Aku harus kembali. Semoga makin sukses."
"Boleh aku minta nomor ponsel Kak Kenzo?" tanya Syifa. Kenzo memandangi Naya. Melihat istrinya yang cemberut, Kenzo mengerti jika wanita itu tidak suka.
"Kamu simpan nomor Naya aja." Kenzo menyebutkan nomor ponsel istrinya itu.
Naya menyalami Syifa sebelum meninggalkan gadis itu. Syifa hanya memandangi kepergian Kenzo dan Naya hingga hilang dari pandangan.
Di dalam mobil menuju apartemen, Naya dan Kenzo hanya diam. Larut dalam pikiran masing-masing. Apa yang dipikirkan Naya dan Kenzo hanya mereka yang tahu.
Sampai di apartemen, Naya langsung menuju kamar tanpa menyusun makanan ke kulkas. Kenzo lalu memasukan makanan itu, takut menjadi tidak segar lagi.
Kenzo masuk ke kamar setelah selesai menyusun makanan di kulkas dan melihat istrinya sedang berbaring memunggunginya.
Kenzo naik ke ranjang memeluk pinggang Naya dan mengecup rambut hitam istrinya. Naya memiliki rambut hitam lebat yang lurus.
"Iya. Aku mau tidur jangan ganggu!"
"Galak amat sih, istriku ini!"
Mendengar ucapan Kenzo, Naya membalikan tubuhnya menghadap suaminya itu. Kenzo tersenyum dan mengecup bibir Naya.
"Jadi menurut Kak Kenzo yang lembut itu Syifa?" tanya Naya. Mendengar ucapan istrinya itu, Kenzo tampak heran. Pria itu memandangi Naya dengan dahi berkerut.
"Kenapa memandangi aku seperti itu? Aku emang kalah cantik dengan Syifa. Apa lagi dia gadis dan cinta pertamanya Kak Kenzo. Aku hanya janda. Dia lembut, aku galak," ucap Naya dengan terisak.
__ADS_1
Melihat Naya yang menangis Kenzo jadi tambah serba salah. Ditangkupnya wajah Naya dengan kedua tangannya. Kenzo mengecup dahi dan mata istrinya itu. Kenzo ingat kata-kata mama-nya jika istri yang sedang hamil muda itu, sikapnya akan mudah berubah. Marah, sedih dan senang dapat berubah dalam waktu bersamaan.
"Aku tidak pernah mengatakan apapun tentang Syifa denganmu. Aku nggak tau dari mana kamu dapat cerita mengenai gadis itu. Bagiku kamu wanita yang paling sempurna, apa lagi saat ini di rahim kamu ada buah hatiku dan kamu. Jangan bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, bagiku kamu tetap wanita teristimewa."
"Karena kamu tidak pernah cerita itu yang membuat aku berpikir jika kamu masih menyimpan nama Syifa di hati."
"Itu hanya bagian masa lalu, makanya aku nggak pernah cerita. Aku nggak akan memandang kebelakang, karena dihadapanku ada masa depanku."
Kenzo membawa kepala Naya ke dalam dekapan dadanya. Kenzo mengerti saat ini istrinya pasti sedang cemburu. Tangisan Naya pecah dalam pelukan suaminya.
"Jangan menangis. Aku sudah janji tidak akan pernah membuat air mata kamu jatuh. Jika begini, aku merasa telah melanggar janjiku."
"Aku takut," ucap Naya pelan.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Kenzo.
"Aku takut kamu berpaling dan meninggalkan aku. Aku nggak tahu, apa kah aku masih sanggup mengahadapi semua jika kamu meninggalkanku?"
"Jangan berpikir yang macam-macam. Ingat, ada bayi dalam kandunganmu saat ini. Jika kamu sedih pasti dia akan ikut sedih."
Kenzo menghapus air mata Naya dan memeluk erat tubuh istrinya itu.
"Aku harus pergi shooting. Jika kamu capek, istirahat aja. Nanti aku pesankan makanan dari lokasi."
"Jangan kemana-mana setelah shooting. Langsung pulang. Aku takut."
"Iya, Sayang. Aku pamit ya. Jangan menangis lagi." Kenzo pamit dengan mengecup kedua pipi Naya.
__ADS_1
...****************...
Bersambung