PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN

PEBINOR YANG TAK DIRINDUKAN
Bab Tiga Puluh Tiga. PYTD


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu. Jika dihitung, masa iddahnya Naya telah berakhir. Kenzo selalu melingkari kalender untuk mengingat dirinya kapan masa menunggu bagi wanita itu.


Hanif dan Citra, saat ini telah jarang terlibat dalam sinetron lagi. Rumah produksi yang biasa tempatnya bernaung, tidak ingin memakai mereka sebagai peran utama karena takut berimbas pada produksi film.


Nama Citra telah di cap buruk oleh penggemarnya karena kabar yang beredar jika dirinya sebagai seorang pelakor dan yang lebih membuat namanya makin buruk karena dia terakhir dari wanita yang juga pelakor.


Sudah menjadi rahasia umum, jika Citra dan Kenzo ternyata merupakan saudara tiri. Mama Citra telah merebut Papa-nya Kenzo. Setiap langkahnya, Citra merasa selalu ada yang mengawasi.


Citra melempar vas bunga ke dinding bertepatan saat Hanif masuk ke apartemen. Beruntung Hanif bergerak cepat, sehingga terhindar dari lemparan kaca itu.


"Ada apa ini? Kenapa kamu melempar vas bunga ke dinding. Untung saja aku menghindari, jika tidak bisa luka parah kepalaku kena pecahan kaca."


"Semua iklan yang memakaiku sebagai modalnya, memutuskan kontrak. Tidak ada yang ingin memperpanjangnya. Karirku pasti akan mati."


"Mungkin semua ini adalah cobaan dari Allah agar kita menjadi pribadi yang lebih baik."


"Mau makan apa jika semua membatalkan kerja sama denganku. Ini semua karena Kenzo dan mamanya si tua bangka jelek itu."


"Kamu tidak boleh menyalahkan orang lain atas takdir yang kamu jalani saat ini. Semua yang terjadi baik dan buruknya, semua itu atas kehendak Allah."


"Jangan menceramahi aku!" teriak Citra.


"Citra, empat bulan pernikahan yang telah kita jalani. Aku mencoba bersabar dengan sikap temperamenmu. Aku berharap suatu saat nanti kamu akan berubah. Namun, sepertinya harapanku tidak akan pernah terwujud. Kamu bukannya berubah menjadi baik, makin hari sikapmu makin tidak terkendali."


"Kamu mau apa? Kamu menyesal menikah denganku?" tanya Citra dengan suara tinggi.


"Menyesalpun tidak ada gunanya. Aku telah memberi kamu kesempatan. Berubahlah secara sikap dan penampilan. Cobalah berpakaian sesuai ajaran agama kita, namun tidak sedikitpun perkataan aku yang kamu dengar."


"Jangan banyak Bicara. Aku juga menyesal menikah denganmu. Aku pikir akan mendapatkan kebahagiaan jika menikah denganmu, namun semua diluar perkiraan. Sejak aku menikah denganmu, hidupku hancur."


Hanif tampak menarik napas dalam untuk menetralkan amarahnya. Pria itu masuk ke kamar dan keluar dengan membawa satu tas koper dan satu tas jinjing berisi pakaiannya. Citra yang melihat Hanif dengan tasnya, langsung berdiri dan mendekati pria itu.


"Mau kemana kamu?" tanya Citra yang telah berdiri dihadapan Hanif.

__ADS_1


"Sepertinya kita sudah tidak sejalan lagi."


"Apa maksud kamu?"


"Semakin hari, aku seperti ditunjukan oleh Tuhan bahwa ternyata kamu bukan orang yang tepat, bahwa selama ini pilihanku salah. Perceraian bukan hal buruk, justru itu adalah keputusan terbaik ketika pernikahan tidak lagi memberi kedamaian apalagi kebahagiaan.Terkadang perceraian lebih baik dari pada pernikahan yang telah hancur.”


"Kamu nggak boleh pergi, apa lagi menceraikan aku. Tidak ... aku tidak mau lagi berceriai. Aku nggak mau jadi bahan berita."


"Kita harus berpisah, karena ini yang terbaik bagi kita. Aku akan mencoba instropeksi diri, begitu juga kamu."


"Tidak, aku tak akan melepaskan kamu."


Citra berusaha menahan kepergian Hanif, namun pria itu tetap dengan pendiriannya, meninggalkan apartemen Citra.


Kebahagiaan dan kesedihan dalam hidup ini akan datang silih berganti. Setiap hari kamu bisa bertemu dengan orang-orang baru dan berpisah dengan orang lama. Terkadang tak semua pertemuan bisa memberi kebersamaan. Bahkan ada yang berakhir dengan perpisahan yang menyakitkan.


...----------------...


Di butik tempat Naya bekerja, Naya dikagetkan dengan kiriman bunga yang begitu banyaknya. Saat Naya bertanya,.siapa pengirimnya, kurir itu mengatakan tidak tahu.


"Terima kasih ya. Ini untukmu," Naya memberikan sedikit uang tanda terima kasihnya.


Naya membawa semua buket bunga ke ruang kerjanya. Naya memeriksa satu persatu buket bunga itu hingga menemukan satu nama pengirim.


"Kak Kenzo ... Apa-apaan sih, ngirim buket bunga kayak aku mau jualan aja. Banyak banget. Buang-buang uang aja," gumam Naya dengan diri sendiri.


Naya menyusun buket bunga itu di atas sofa yang ada di ruang kerjanya. Wanita tersenyum-senyum melihat kelakuan Kenzo. Sudah satu minggu ini, pria itu selalu saja membuat kejutan. Ada saja yang dikirim. Dari hanya makanan, camilan dan bunga.


Naya tahu, semua yang Kenzo lakukan itu terhitung sejak masa iddahnya berakhir. Naya tahu, pastilah Kenzo menunggu jawaban darinya. Naya telah memikirkan semua ini.


"Selamat Sore," ucap Kenzo mengagetkan Naya. Wanita itu memandang Kenzo dengan tersenyum.


"Ini semua apa maksudnya? Buang uang saja, Kak. Mending uangnya Kak Kenzo simpan."

__ADS_1


"Simpan untuk pesta pernikahan kita?" tanya Kenzo sambil tersenyum.


"Kak Kenzo, aku nggak bercanda. Beli bunga banyak itu buang uang. Tiga hari semua juga harus di buang. Sama aja buang uang jadinya."


"Kalau gitu mulai besok aku kirim buket uang aja. Biar kamu bisa simpan uangnya."


"Apaan sih, Kak."


"Aku mau mengajak kamu makan malam. Ada yang mau aku katakan."


"Aku juga ingin bicara. Ada yang ingin aku katakan."


"Kalau gitu aku tunggu kamu di sini aja, boleh?" tanya Kenzo.


"Tentu saja boleh, Kak. Aku mau selesaikan kerjaan dikit lagi. Setelah solat magrib baru kita pergi."


"Boleh aku jadi imam solatnya nanti."


"Kak Kenzo udah berani jadi imam solat. Alhamdulillah."


"Sejak aku belajar mengaji dengan Ustad yang kamu kenalkan Itu. Aku mulai sedikit berani. Tapi kalau kurang sempurna jangan kamu ledek ya."


"Kak Kenzo udah mulai berani menjadi imam solat aja aku sangat bersyukur," ucap Naya.


Air mata Naya tampak mengalir dari sudut matanya. Sebulan yang lalu, Kenzo mengatakan pada Naya ingin memperdalam agama. Selama ini diakui Kenzo dia jarang melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Solat kapan dia inginkan saja.


Naya memperkenalkan Kenzo dengan seorang Ustad, ayah dari temannya. Mulai saat itu, setiap ada waktu, Kenzo menyempatkan waktu belajar mengaji dan ibadah lainnya.


Azan magrib berkumandang. Naya dan Kenzo mengambil wudu dan melaksanakan solat magrib berjamaah. Setelah habis solat, Naya berdoa.


Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia, dan akhirat. Jika dia bukan jodohku, maka jauhkanlah dia dari pikiranku dan dekatkanlah orang yang memang benar jodohku. Di hadapan Kak Kenzo, aku malu memandangmu. Tapi di hadapan Allah, terang-terangan aku meminta agar dijodohkan denganmu.


...****************...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2