
"Kamu telah menikah lagi?" tanya Umi setelah Kenzo bersalaman.
"Iya, Umi. Maafkan aku yang tidak meminta restu dan mengabari Umi dan Abi. Aku udah mencoba menghubungi, namun ponsel Umi dan Abi tidak aktif."
"Tidak apa, Nak. Kami hanya bisa mendoakan pernikahan kamu kali ini mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat," ujar Abi.
"Siapa tadi nama suami kamu, Naya?" tanya Umi.
"Kenzo, Umi."
"Nak Kenzo duduklah. Buatkan air minum untuk suamimu. Umi tidak masak. Cuma beli lauk jadi aja tadi. Makanlah!" perintah Umi.
"Aku dan Kak Kenzo udah makan. Aku bawa martabak telur kesukaan Umi. Aku salin ke piring dulu. Biar aku suapin Umi."
"Kita duduk di luar aja. Abi, bisa tolong Umi."
"Biar aku saja yang bantu, Umi."
Naya membantu Umi berjalan menuju ruang keluarga dengan memeluk lengan Umi. Setelah Umi dan yang lainnya duduk, Naya menuju dapur dan membuatkan teh hangat. Naya membawa martabak yang tadi dibelinya beserta lima piring.
Naya menyuapi Umi, dia tahu jika Abi dan Umi paling doyan martabak telur. Air mata Umi jatuh dari sudut matanya. Naya yang melihat itu menghentikan suapannya.
"Umi, kenapa menangis?" tanya Naya. Wanita itu menghapus air mata Umi dengan jarinya secara lembut dan perlahan.
"Umi sayang kamu, Nak," ucap Umi terisak.
"Aku juga sayang, Umi. Jangan menangis. Nanti aku jadi sedih," ucap Naya. Air mata juga mulai jatuh membasahi pipinya. Naya memeluk tubuh kurus mantan ibu mertuanya itu.
"Andai saja kamu tidak berpisah dengan Hanif, pasti saat ini kamu sudah akan memberikan Umi cucu."
"Umi, nggak baik bicara begitu. Itu sama saja Umi tidak bisa menerima takdir dari Allah. Lagi pula, ada Nak Kenzo, yang saat ini telah menjadi suaminya Naya. Umi harus menjaga ucapan," ujar Abi. Umi melepaskan pelukannya di tubuh Naya. Memandangi Kenzo dengan wajah bersalah.
"Maafkan Umi, Nak Kenzo. Umi lupa kalau saat ini Naya telah menikah lagi. Umi menyayangi Naya seperti anak sendiri. Umi harap kamu bisa menjaga dan menyayangi dirinya. Saat ini hanya kamu tempatnya berlindung."
"Hanif anak kami mungkin hanya singgah sebentar di hidup Naya, kami harap kamulah yang akan menemaninya hingga menutup mata," ucap Abi.
"Abi, aku tidak akan pernah berjanji dengan kata-kata, tapi aku langsung membuktikan dengan perbuatan jika aku akan membahagiakan Naya."
__ADS_1
Hanif yang duduk di dekat Abi hanya diam menunduk. Hanif pulang ke kampung untuk melihat Umi yang sedang sakit, telah mendapatkan nasihat dari Abi sejak kedatangannya. Abi masih terus menyalahkan Hanif atas perbuatannya pada Naya. Abi terus menerus menanyakan keberadaan Citra. Hanif belum mau jujur jika dirinya sedang ada masalah dengan Citra.
Setelah menyuapi Umi, Naya berpindah duduk ke samping suminya Kenzo. Naya mengambil martabak sepiring buat Abi dan sepiring lagi buat Kenzo.
"Ini buat Abi. Mas Hanif, nggak mau martabak takutnya?" tanya Naya. Namun, wanita itu tidak mengambilkan buat Hanif.
"Nanti aja, Nay!" ucap Hanif.
"Ini untuk Kakak," ucap Naya, menyodorkan sepiring martabak.
"Aku juga mau disuapin," bisik Kenzo. Naya tersenyum mendengar permintaan suaminya itu. Naya lalu menyuapi Kenzo. Mata Hanif melirik ke arah Naya. Lalu pria itu berdiri.
"Maaf, aku mau istirahat dulu. Kenzo, Naya, aku pamit," ucap Hanif. Pria itu berjalan menuju kamarnya.
Setelah berbincang hingga pukul sembilan malam, Naya dan Kenzo pamit. Mereka menginap di hotel.
"Abi, Umi, aku pamit. Besok sebelum kembali ke kota, aku mampir lagi." Naya memeluk Umi dan menyalami tangan Abi. Begitu juga yang dilakukan Kenzo.
Setelah kepergian Naya dan Kenzo, Abi memanggil Hanif. Ada yang akan mereka katakan. Dengan langkah pelan, Hanif duduk dihadapan Abi-nya.
"Apa yang ingin Abi tanyakan?" tanya Hanif.
"Aku sudah berulang kali mengatakan pada Abi dan Umi jika semua yang aku lakukan hanya untuk menghindari dosa."
"Menghindari dosa alasanmu. Apakah kamu tidak tahu jika menyakiti hati istri itu juga dosa?"
"Maaf, Abi."
"Kenapa minta maaf dengan Abi. Seharusnya kamu itu minta maafnya dengan Naya, dengarkan apa yang Abi sampaikan ini," ucap Abi. Pria tua itu menarik napas sebelum melanjutkan omongannya.
"Dalam hadist riwayat Abu Hurairah ra mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik – baik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya. Kamu tau maknanya? Dari hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tersebut, bisa diambil makna bahwa sebaik-baiknya seorang mukmin adalah yang bisa memperlakukan istrinya dengan baik."
Abi tampak menarik napasnya kembali. Umi hanya menatap anaknya dengan sendu.
"Maka haram hukumnya jika seorang suami membuat istrinya menangis tanpa hak dan menyakiti istri. Hal tersebut telah disebutkan di dalam Al-Quran dan Hadits. Saat suami berbuat zalim kepada istrinya, maka dia telah melakukan dosa yang amat besar dan tubuhnya tidak lagi diharamkan dari api neraka. Mengerti kamu, Hanif."
"Abi, bukankah tadi Abi yang berkata, jika kita jangan mengungkit apa yang telah terjadi."
__ADS_1
"Maafkan, Abi. Abi khilaf."
"Jadikan itu pelajaran bagimu, Hanif. Jika ingin mengambil keputusan besar, sebaiknya kamu itu berkomunikasi. Jangan ambil keputusan sendiri."
"Baik, Abi, Umi. Pengalaman kemarin akan aku jadikan pelajaran. Agar nanti tidak pernah salah langkah lagi.
"Nasi telah menjadi bubur. Tidak ada gunanya kita menyesalinya. Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali lagi."
Takdir memang sudah digariskan, tetapi bukan berarti tidak bisa diubah. Jika menginginkan takdir yang baik, maka jalan satu-satunya adalah memohon kepada Sang Pencipta.
Lantaran Dia-lah yang mampu mengubah takdir seseorang. Allah akan memberikan takdir yang baik selama manusia bersungguh-sungguh dalam bertakwa.
(sumber dari google)
...****************...
Bersambung
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.
Judul AKU BUKAN MASA LALUMU.
KARYA KISSS
Celine merasa sangat bahagia karena telah menikah dengan Jino pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Gadis cantik itu tak menyangka bahwa Jino akan mencintai nya begitu tulus. Tiga bulan mereka menjalin hubungan semenjak Celine menjadi sekretaris Jino.
Sikap Jino yang hangat dan romantis kerap kali membuat Celine mabuk kepayang. Gadis itu lahir dalam keluarga miskin, semenjak berhubungan dengan Jino kondisi ekonomi keluarganya membaik.
Jino membayar biaya pengobatan cuci darah adik perempuan Celine — di sebabkan efek samping dari obat pemutih — sehingga membuat adinya terpaksa melakukan cuci darah seminggu sekali.
Tak berhenti di situ, Jino membantu ayahnya membuka usaha grosir. Sungguh Celine merasa beruntung bertemu dengan pria baik seperti Jino.
Entah alasan apa Jino begitu mencintai nya dan berbuat baik padanya.
Walau sampai saat ini orang tua Jino tak menyukai Celine karena berasal dari keluarga miskin.
***
__ADS_1