
Naya memeluk lengan Mama Kenzo melihat wanita itu sedikit emosi. Naya tidak ingin keributan ini makin membesar. Naya melihat wartawan telah banyak berkumpul di sekitar mereka. Kenzo yang menyadari itupun meminta wartawan menjauh dengan sopan.
"Maaf, teman-teman. Ini masalah pribadi keluarga kami. Aku minta jangan ada kamera atau berita apapun mengenai ini." Kenzo mendekati wartawan dan memohon.
Hanif juga mulai tampak tidak nyaman. Pria itu mengajak Citra, istri siri-nya itu untuk menjauhi tempat itu. Namun, kembali Citra menepis tangan Hanif.
"Aku datang juga bukan untuk melihat Tante. Aku tau Tante masih dendam karena Papa lebih memilih mama-ku. Seharusnya Tante menyadari, apa kekurangan yang ada pada diri Tante. Bukannya menyalahkan orang lain," ucap Citra dengan suara sedikit tinggi.
Suara Citra yang sedikit tinggi kembali menarik perhatian tamu undangan, terutama wartawan. Febby, sang pengantin mulai tampak tidak senang dengan sikap Citra. Febby meminta pada saudaranya untuk mengusir Citra.
"Tidak selamanya pria itu mencari pengganti karena ada kekurangan pada istri pertama. Bisa saja pria itu hanya ingin mencoba. Setelah tau aslinya istri kedua, pasti pria itu akan menyesal."
"Buktinya Papa tidak pernah menyesal. Jika saat ini Papa ingin kembali dengan Tante, itu semua karena mamaku telah meninggal."
"Tau apa kamu? Setiap saat pria yang kau panggil Papa itu minta kembali.Namun aku dan anak-anak tidak sudi menerimanya kembali. Perlu kau ingat, hanya akan ada penghinaan untukmu wanita pelakor. Pasangan yang kau rebut pun tidak akan pernah memandangmu sebagai wanita terhormat. Ia akan menjadikanmu wanita pelarian, karena tak bisa kembali pada pasangannya dulu," ucap Mama Kenzo.
"Apapun cerita sebenarnya, bagaimana pun kondisi maupun perasaanmu. Jangan terlalu berharap akan ada yang bersimpati padamu. Bersikukuh merebut seorang pria dari pasangannya hanya akan menganugerahimu cap kotor, perebut pasangan orang, dan berbagai julukan mengerikan lainnya," ucap Mama Kenzo dengan penuh penekanan.
Belum sempat Citra bicara, dua orang petugas keamanan datang dan meminta Citra meninggalkan ruangan. Awalnya Citra tidak mau, petugas keamanan itu mengatakan akan memaksa jika Citra tidak juga meninggalkan ruangan.
Dengan terpaksa Citra yang tangannya di tarik oleh Hanif keluar dari ruangan itu. Di dalam mobil, Citra melampiaskan kekesalannya dengan memukul lengan Hanif bertubi-tubi.
__ADS_1
"Kamu jahat, Mas. Kenapa kamu membiarkan orang-orang itu menghina aku. Kenapa tidak sedikitpun kamu berniat membelaku. Kamu masih cinta dengan Naya'kan? Padahal saat ini aku yang istrimu, bukan dia."
"Kamu yang salah. Itu pesta, kenapa kamu mencari keributan? Kamu udah janji nggak akan membuat keributan lagi dengan Naya. Bukankah Naya sudah mengalah, dia membiarkan kita hidup berdua. Seharusnya jangan ganggu Naya lagi."
"Aku tidak pernah meminta Naya meninggalkan kamu!" teriak Citra.
Hanif mengubris semua omongan Citra. Dia menjalankan mobil perlahan meninggalkan halaman gedung tempat acara berlangsung. Tampak Hanif, menarik napas dalam menahan semua amarah.
Aku tau, kamu bukanlah wanita yang seperti aku harapkan. Kamu jauh berbeda dari Naya. Namun, apakah aku harus meninggalkan kamu setelah aku tau sifat aslimu? Bukankah manusia itu tidak ada yang sempurna. Aku akan coba bertahan dan berusaha merubahmu menjadi pribadi yang baik. Jika tidak berhasil juga, mungkin kita juga akan berpisah. Semoga aku bisa membuat kamu menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.
...----------------...
Hakim memutuskan perceraian Naya dan Hanif, dan meminta pria itu menjatuhkan talak untuk Naya.Setelah mendengar keputusan sidang, Naya dan Hanif keluar dari ruangan.
Di luar ternyata telah menunggu kedua mertua Naya. Umi langsung memeluk Naya dan menangis. Naya juga tidak bisa menahan air matanya melihat mertuanya menangis terisak.
"Umi mohon denganmu, Nak. Tetaplah menjadi anak Umi. Tetap lihat dan kunjungi Umi walau kamu tidak bersama Hanif lagi."
"Umi, jangan kuatir. Bagiku Umi tetap ibuku. Aku pasti akan tetap mengunjungi Umi jika ada waktu."
Abi melihat Umi dan Naya yang berpelukan dengan mata berkaca. Abi tampak menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipi. Hanif yang berdiri di belakang Abi hanya menunduk melihat semua itu. Setelah Umi puas menangis, wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya. Hanif berjalan mendekati Naya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Naya. Karena hanya bisa memberikan luka. Aku tidak bisa menjadi imam yang baik bagimu. Walau sebenarnya aku masih ingin bersama, namun tidak aku lakukan karena aku tidak ingin dikatakan egois jika menahanmu untuk tetap bersamaku."
"Kadang-kadang kita harus memilih jalan yang tidak kita suka, tapi jalan itu akan menyelamatkan kita dari keterpurukan yang panjang. Jalan itu adalah perpisahan, Mas."
"Aku hanya bisa mendoakan, semoga ini memang jalan yang terbaik untuk kita. Semoga kamu dapat pengganti yang jauh lebih baik dariku."
"Doa yang sama buat Mas."
"Maafkan jika Citra membuatmu sakit hati. Aku merasa gagal menjadi seorang suami. Denganmu aku hanya bisa memberikan luka. Dengan Citra, aku belum bisa membuatnya menjadi wanita yang berkepribadian baik."
"Semua bukan salah, Mas. Mungkin takdir yang belum berpihak pada kita. Kita dipertemukan hanya untuk sementara."
Naya dan Hanif bersalaman sebelum akhirnya berpisah. Naya juga menyalami dan pamit dengan kedua mertuanya.
"Melepaskan bukan berarti bahwa kamu tidak peduli lagi tentang seseorang. Itu hanya realisasi bahwa satu-satunya orang yang benar-benar punya kendali terhadapmu adalah dirimu sendiri.”
"Saya tidak pernah membayangkan perceraian akan menjadi bagian dari sejarah hidup saya atau warisan keluarga saya. Ketika orang mengatakan bahwa perceraian bisa lebih menyakitkan daripada kematian, saya mengerti mengapa. Tetapi, seperti cobaan besar apa pun, Allah menggunakan segalanya untuk kebaikan, jika kita membiarkan Dia menyembuhkan kita." (Kristin Armstrong).
...****************...
Bersambung
__ADS_1